Kampret! Saya kan Lebih Tua!

Suatu sore yang cerah di musim hujan. Saya melompat masuk ke krl jurusan Jakarta Kota – Bekasi dari stasiun Gondangdia. Di gerbong biasa seperti orang lain yang menjalani hidupnya sebagai rutinitas. Kursi panjang krl terisi semua. Hanya kursi prioritas yang masih menyisakan ruang untuk 2 atau 3 orang lagi. Tanpa pikir panjang saya langsung duduk. Di kursi prioritas di depan saya ada seorang pria dan seorang perempuan. Si perempuan tampak sudah berusia setengah abad jadi layaklah dia disitu. Si pria masih muda seperti saya dan tidak hamil, jadi tidak seharusnya duduk disitu dan disini. Disamping saya ada sepasang suami istri (atau mungkin masih kekasih, whatever!). Oh, sama tidak layaknya dengan saya. Tapi tunggu dulu. Si perempuan mungkin sedang hamil. Bukankah kursi prioritas salah satunya untuk perempuan hamil? Lagipula dia bergelayut manja ke bahu si pria.

Saat petugas mengumumkan kereta akan tiba di stasiun Cikini, si perempuan memiringkan tubuhnya kearah si pria, menggandeng tangannya, mencari posisi uenak lalu menutup matanya. Kok saya kepo banget sih? Kok ga ikut-ikutan tutup mata aja? Gini pembaca sekalian. Kalau ga ngantuk saya ga akan paksain mata untuk menutup, demi alasan apapun. Plus, saya tau diri duduk dimana.

Tibalah kereta di Stasiun Cikini. Pintu terbuka dan berhamburan masuk manusia yang kecapean bekerja. Apalagi kereta jurusan Jakarta Kota-Bekasi sepertinya telat dari jadwal, jadi penumpang lebih banyak dari biasa. Biasanya saya masih bisa duduk. Dua orang perempuan yang sudah berumur tersenyum mengucapkan terimakasih pada saya dan pria muda depan saya setelah kami memberikan tempat duduk. Lalu saya pindah dan berdiri di sisi kursi yang lebih panjang. Penasaran, saya melirik lagi ke arah kursi saya duduk tadi. Si pria masih duduk dan tidak menutup mata dengan tangan si perempuan masih pada posisi yang sama, mengunci. Didepan mereka berdiri manusia-manusia yang dari penampakan saja sudah terlihat berada dalam daftar prioritas. Sejenak ibalah hati ini melihat pemandangan itu. Saya bayangkan yang berdiri itu ibu atau bapak saya. Ah, sudahlah.

Baru saja mau nyibukin diri dengan gadget, tiba-tiba ada yang menahan teriak melintas dibelakang saya.

“Kampret! Saya kan lebih tua! Enak-enakan tidur! Ga punya kesadaran…” suara itu perlahan menjauh dan tertutup suara pengumuman petugas kereta. Ternyata dua orang perempuan berumur yang sebelumnya berdiri didepan pasangan disamping saya. Mereka berlalu ke arah berlawanan dengan wajah kesal dan mengeluh. Seperti saya, manusia-manusia yang sedang bergelantungan ikut memiringkan kepala ke sumber suara. Dan seperti saya juga, deretan kepala ini serta merta menilik ke lokasi yang sedang dikeluhkan kedua perempuan ini. Si pria baru saja berdiri, mempersilahkan seorang perempuan duduk, membenarkan posisi jaketnya lalu berdiri di depan pasangannya. Pasangannya masih menutup mata. Saya berpikir positif, mungkin benar dia hamil.

“Orang muda zaman sekarang!” perempuan yang duduk didepan saya mendengus.
“Kayak ga punya orangtua aja!” sambut perempuan dikirinya dengan nada mencela.
“Emang di sekolah ga diajarin pendidikan moral lagi ya? Kagak ada gunanya kurikulum diubah” ejek perempuan dikanannya.
Perempuan disampingnya menggeleng-gelengkan kepala, ikut-ikutan kesal.

di KRL Jakarta Kota-Bekasi
Jumat, 16 Januari 2015
Jam setengah 4an sore.

47 RONIN: PEMBALASAN SAMURAI TAK BERTUAN

47 ronin
Pembalasan 47 ronin (samurai tak bertuan) yang terkenal ini diilhami kisah nyata pada abad 18 di Jepang. Diantara banyak kisah samurai yang sudah difilmkan, 47 Ronin merupakan kisah yang disebut-sebut sangat tepat menggambarkan ‘bushido’ (symbol kehormatan samurai).

Film diawali dengan kematian sang pemimpin samurai, Asano Naganori (Min Tanaka). Asano terbukti melukai seorang pejabat bernama Kira Yoshinaka (Tadanobu Asano), dan untuk itu Asano harus melakukan ritual seppuku (ritual bunuh diri). Agak berbeda dengan bukunya yang menyebutkan Asano melukai Kira karena Asano mengetahui Kira adalah pejabat korup. Dalam film ini, Asano disihir oleh penyihir Kira (Rinko Kikuchi) yang mengaburkan pandangan Asano dan lalu melukai Kira. Saya sih belum baca bukunya, tetapi review bukunya di Goodreads dan Wikipedia tidak menyebut-nyebut adanya penyihir. Kalaupun ada seharusnya elemen sepenting itu tidak terlupakan dalam sinopsis atau review. Karena si penyihir ini memainkan peran penting dalam pengambilan keputusan si pejabat korup, Kira.

Oishi (Hiroyuki Sanada), tangan kanan Asano, kemudian merencanakan pembalasan atas kematian tuan mereka. Setelah setahun berada dalam lobang tahanan, Oishi dibebaskan dan mulai mengumpulkan ronin yang sudah berserak dan berpindah profesi. Nah lagi-lagi, dalam review bukunya disebut bahwa pembalasan dendam ini delakukan setelah 2 tahun kematian Asano. Kenapa harus 2 tahun? Oishi sengaja merencanakan ini untuk mengelabui Kira. Seiring waktu berjalan Kira akan menganggap para samurai tak bertuan sudah tak berbahaya lagi dan tak punya keinginan membalas dendam. Nah, saat Kira lengah seperti inilah rencananya Oishi dan para ronin akan membalas dendam. Masih dalam review bukunya di Wikipedia, Oishi disebut-sebut mabuk-mabukan selama 2 tahun ini dan meyakinkan seluruh penduduk desa dan Kira sendiri bahwa ksatria samurai sudah berakhir, padahal aksi mabuk-mabukan ini hanya berpura-pusa saja. Namun di film ini, Oishi tak bisa langsung balas dendam karena dia harus ‘dipenjara’ dulu di lubang selama setahun. Itu sesuai dengan perintah Kira kepada tentaranya “masukkan Oishi ke lobang, patahkan semangatnya”.

Adalah Kai (Keanu Reeves), yang disebut-sebut sebagai anak campuran iblis dan manusia, yang akhirnya membantu Oishi. Kai ditemukan dan dibesarkan oleh Asano ketika Kai masih kecil. Tidak ada yang tahu darimana asal Kai. Semua warga menganggap Kai adalah anak campuran iblis dan tidak ada seorangpun yang menyukainya kecuali Asano dan putrinya, Mika (Kô Shibasaki). Hubungan Kai dan Mika berubah menjadi cinta namun terlarang. Sebelum kematian Asano, Kai sendiri sudah berkali-kali mengingatkan Oishi tentang si penyihir namun sama seperti yang lainnya, Oishi menanggapi Kai dingin dan balik mengejek “ hanya turunan iblis yang bisa melihat kaumnya (penyihir, dll)”. Pada saat Oishi bebas, Kai-lah yang pertama sekali dia cari dan dia yakin dapat membantu mereka membunuh Kira dan menyelamatkan Mika yang dalam hitungan jam akan dinikahi secara paksa oleh Kira. Mengingat hutang budinya kepada Asano, Kai bersedia membantu Oishi. Menyelamatkan Mika dari cengkeraman Kira, adalah juga alasan Kai mau bergabung dengan Oishi.

Usaha balas dendam para ronin ternyata tidak gampang, Kira dibantu dengan penyihirnya bukan musuh yang mudah dikalahkan. Selain kurangnya senjata, ronin yang tersisa hanya 47. Disinilah, keteguhan hati dan loyalitas samurai ini dipertaruhkan. Asal usul Kai terungkap dalam perjalanan mereka mencari senjata. Ada yang unik namun sangat fundamental tentang asal-usul Kai. Bahwa ternyata pemimpin tempat Kai berasal sengaja menjadikan tempat itu menjadi utopia hidup yang ‘bersih’ dan terbebas dari kecemaran dan hawa nafsu dunia, meskipun bagi Kai, hal itu justru mengekangnya. Kai berpikir harusnya dia hidup berbagi dengan manusia lainnya.

Sebagai kisah yang telah melegenda, kisah 47 Ronin memang yang paling terkenal dalam sejarah samurai Jepang. Lambang kehormatan samurai benar-benar dijalankan dengan tepat oleh ke 47 ronin. Tetapi sebagai sebuah cerita saya lebih menyukai The Last Samurai. The Last Samurai tidak banyak menyuguhkan aksi bunuh-bunuhan, pedang-pedangan, dsb namun menghadirkan sebuah ‘cerita’ – konflik internal si kakang Tom, masa lalu, konflik dgn timnya yg jadi musuhnya, persahabatan dgn penyandera, kisah cinta tak terungkapkan, dan perenungan dan pergumulan si tokoh utama (Tom Cruise). Seandainya benar dibukunya tidak ada si penyihir dan Kai, maka kisah 47 ronin kurang lebih sama dengan kisah pembalasan dendam lainnya. Dan seandainya difilmnya juga tidak ada si penyihir dan Kai, akan sangat flat, berat dan membosankan. Keberadaan si penyihir dan Kai terutama, membuat film ini jadi hidup. Oke, emang kayaknya saya harus baca bukunya nih! Saat keluar dari studio, penonton menggerutu ‘apa artinya tuh gambar si cowok dgn tato tengkorak diwajah dan pegang pistol padahal cuma muncul 5 detik or so…?’ Indeed, ini satu hal yang ga penting juga untuk ditampilin di poster. Saat calon penonton melihat gambar-gambar film yang akan ditonton, sudah ada ekspektasi lho, so be careful!

Well, harus saya akui teknologi canggih ini membuat film-film action dan fantasy selalu terlihat woow apalagi nontonnya di bioskop. Untuk itu, kudu nonton deh, di bioskop yaa…kecuali ente punya home theater di rumah :p

47 Ronin sempat ditunda penayangannya berulang kali. Awalnya diumumkan pada 21 November 2012, namun diundur pada 8 Februari 2013. Secara global 47 Ronin siap dimainkan bertepatan dengan perayaan natal pada 25 Desember 2013. Untuk Indonesia sendiri, 47 Ronin sudah tayang di Cinema 21.

Happy watching, though! :D

Judul : 47 Ronin
Durasi : 119 menit
Sutradara : Carl Rinsch
Genre : Action, adventure, fantasy

CHILDREN AND POVERTY IN INDONESIA

It was 5.58 pm two days ago when I was walking home from Simpang Lima to Kemuning. Just about ten meters from Gereja Baptis Indonesia on Jl. Gadjah Mada and next to some martabak stalls, I stopped. Not because I had left something behind nor somebody called me, it was the light of a small TV set that caught my view. I walked closer to find out who put it there. There were two boys wearing shirt in rags; I guess the younger is about 6 to 7 years old and the older is around 12 to 13 years old; sitting on the path just right in front of the gate of the church and watching the television with their curious faces.
I wonder how amazing it would be if the TV and the two boys are in a house with a mother and a father to
accompany…

INTRODUCTION

In a society where tradition takes big roles in life, there are certain rules about handling children that is a must. Javanese for instance has always made some rituals when a woman is in pregnancy. The most celebrated before giving birth probably is the one called ‘pitonan’. Pitonan is a grateful party held when the pregnancy has reached 7 months, usually for the first child. The purpose is of course to thank God for the child and to achieve the responsibility in taking care the children since now and then.

Most religions also have their parish commit to take care of the children. In Christian, the parents are sworn to love, to lead, and to protect the children in Christ when a child is baptized for the child is a gift from God. And until the Day of Judgment there will be time when God ask the parents and every grown up person this question: “What have you done to the little one I have sent you?” In other words, the parents are asked to be responsible of the child’s life since the day a child is given.

Nowadays, most countries are dealing with matters about women and children in poverty. Children are expected to be a better young generation and women are asked to support the children with love, mental stability, and education as their basic needs. But how can a woman support and lead the children to the best if most women are still overshadowed by discrimination, disempowerment, and poverty?
In this essay I will try to elaborate the condition of children in poverty around the world especially in Indonesia. And that the participation of societies in governance system will also contribute to a reduction of poverty in the year to come. I will also apply that empowering women in all aspect of life can be one of hundred ways for a better child development.

CHILDREN IN POVERTY IN INDONESIA

In June 2005, World Health Organization researchers published a study showing that 6 million children die each year from diseases. Dr. Nils Daulaire from Global Health Council stated that every three seconds a child dies from pneumonia and diarrhea while others are dying from neonatal causes and malaria. Most of the children are those who live in poverty and a family that earns less than the international standard (US 2 dollar per day).
The two reports are just few from thousand reports published in this decade. Poverty itself correlates with hunger, maternal health, the lack of access to education, environmental sustainability and less awareness of free sexual behavior that cause many diseases includes HIV/AIDS and result in higher number of death.

How about children in Indonesia?
In July 2004, Australia-Indonesia partnership reported that more than a half of 210 million people in Indonesia are susceptible to poverty. In 2002, World Bank estimated that 53 % of people (111 million) live in poverty below the international standard (US 2 dollar per day). They cannot afford even to primary school, health access, and thus lack of nutrition. About 25 million are unable to read. Lots of community do not have decent basic infrastructure such as clean water, sanitation, transportation and electricity. Bias perception against women is still a hot issue among social conflicts and natural disaster which cause more people become refugees and refugees are susceptible from diseases for the lack of those basic infrastructures.

Among 11 million, the World Food Programme (WFP) stated that about 13 million are children suffered from hunger. As reported in Suara Pembaruan, July 2007, most of the children particularly are found in three areas; cities, conflict areas, and potentially disaster areas. Another big issue caused by poverty in Indonesia is human trafficking, also mostly women and children. News’ indicate the trafficking cases are seen in mass media almost every day.

Reading, watching, and listening to the facts above certainly will lead us to a question ‘why’ and a big question mark: WHY?

As citizen of a grown up country we are expected to not put the blame on another person’s shoulder, although it is often unavoidable. Most problems in a country are rooted in its political, governance and economical system but the main is in the actors who run the system. As for political and governance, since I am not expert in it, I still figure out what the proper system should we use although I believe the measure of ‘proper’ is, again, depend on the actors. But in my point of view, this condition is supposed to be the sting for societies to react even more to reach democracy. Artists, intellectuals, journalists, actors and actress need to make more movements against the hunger of children, poverty and the corruption in Indonesia. The continuing movement of protest in many ways can be and are becoming a government control in running this country. It may not influence the children in poverty right away but within five years the governance will be run by people who take side on the poor, we hope.

WOMEN’S INFLUENCE IN CHILD DEVELOPMENT
Despite progress in women’s status in recent decades, a study showed that women in most places earn less than man for equal work. Another report states that millions of women throughout the world are subject to physical and sexual violence, with little recourse to justice. As a result of discrimination, girls are less likely to attend school; nearly one out of every five girls who enroll in primary school in developing countries does not complete a primary education. Education levels among women correlate with improve outcomes for a child survival and development.

That is why we must work from now on to ensure that women have equal opportunities with men in all aspect of life includes education, government, economic self-suffiency, and protection from violence and discrimination. One key action in education can be started by encouraging parents and societies to send the girls to school. When a girl is well-educated in good environment she has been aware about her rights and prepared for future struggles and so the following aspects can be well-organized.

But many times even in a family where the wife and the husband is educated, it has nothing to do with making decision in household. Many reports find that women do not have equal rights in crucial household decisions. Further, it can have negative consequences for the children. Recently, UNICEF reports that in only 10 of 30 developing countries surveyed did 50% or more of women participate in all household decisions. In families where women are tend to make decision more than men; a result in the proportion of resources devoted to children is far greater than those in which women have less decisive roles.

In Indonesia, women as decision makers are still rarely found though is in progress now. The more women are empowered to have ability to control their live and make decision that affect their families, the more children will be nourished, healthy, and educated. In addition, the women’s involvement in governance can have positive impact in developing well-being children because they can demonstrate as advocate for children. Again, it may not influence the children in poverty right away but in 5 to 10 years more children will be saved from hunger and poverty.

SELAMAT HARI ANAK NASIONAL…

WORDS CITED:
http://www.jawaban.com/news
http://www.planetark.com/dailynewsstory.cfm/
http://www.antara.co.id
http://www.unicef.org
http://www.tempointeraktif.com

BALIGE, TOO OLD TO BE FORGOTTEN (part 1)

I don’t know about you, but talking about #Balige always gets me lost.
Lost in word…in time…in memory.

I’ve encountered that ‘problem’ since I was in college. Being away from Balige had opened my eyes about its beauty. Of course, that thought and new insight came from a comparison with other places I visited while studying in Jogjakarta. You may say ‘been there, Vin’… But when it comes to write about it, I get lost. Couldn’t start any word, just lost in memory and time. Ah, wait wait. I see you almost get lost as well. Let me tell a bit about #Balige

Balige is a town in North Sumatra province. It became the capital of Toba Samosir Regency since the year 2000, just few months after I left for college in Jogjakarta. It’s about 240 km from Medan. Yeap! That far from the biggest city in Sumatra Island. It takes around 4 to 5 hours from Medan to Balige by car. It maybe longer using public transportation, you know the stopping-by at every station. We use to make joke that someone will arrive sooner in Jakarta from Medan than those who travel to Balige despite Jakarta is farther, in fact in different island. Thanks to the increasing development, now you can just take flight from Medan to Silangit, with smaller aircraft of course :D. Silangit is about 30 minutes from Balige heading to Siborongborong. Now, most people are confused with the fact that this airport is brand new. Not exactly, it was first built in the era of Japan colonial in Indonesia. We’ll discuss it later. See, I’m in a mission to introduce Balige, especially the heart of the town, to the world 😛
…..
See, I just started, but I’m lost already…this pictures of Balige crowd my mind. I need to restructure them, which goes first. Is it the old church built by Ludwig Ingwer Nommensen? Or maybe the traditional market? Probably the lake, yeap, Toba Lake happens to be there.
Ah…I’m gonna take a break.

Jalan raya Balige, next to Traditional Market with genuine house symbol

Jalan raya Balige, next to Traditional Market with genuine house symbol


taken from wikipedia…psst, my house is on the other side of the market

IBU-IBU, UNTUK INDONESIA LEBIH BAIK

Kebayang ga kalau manusia ga dikaruniai emosi? Mungkin bumi ini hanya akan dipenuhi ‘robot’ ya. Berkeliaran kesana kemari dengan wajah flat. Hubungan intim pria dan wanita pun kayaknya hanya sebatas kewajiban demi memenuhi bumi tanpa ada rasa ketika proses itu berlangsung. Bahkan ketika si bayi lahir, biasa aja. Tak ada tetes air mata, nihil senyum, dan bayi-bayi baru lahir langsung dikirim ke sebuah lokasi dimana newborn babies dibesarkan sama cara sama gaya. Flat!

Tapi manusia ga seperti itu. Kita dikaruniai emosi. Thank God, kita punya Tuhan yang juga memiliki itu. Ketika Adam dan Hawa ciptaan-Nya itu melanggar aturan, Dia kecewa. Hubungannya dengan ibu-ibu?

ibuku, aku, dan putriku

ibuku, aku, dan putriku

Beberapa saat belakangan ini saya sampai pada satu pemahaman bahwa ibu-ibu itu ga ada duanya. Saya mau bilang ‘belum ada orang yang setangguh dan sebijak ibu-ibu’. Berlebihan? Biarlah kusebut begitu. Kalau mau protes, monggo. Pada kasus kebanyakan, kita persempit dulu pada perempuan yang ingin punya anak, dia yang pertama merasakan sesuatu terjadi pada tubuhnya. Dan itu saja sudah bikin riang bukan kepalang. Sudah mulai bikin daftar aturan do’s dan don’t dan blab la bla. Kita perlebar pada perempuan yang berjuang untuk punya anak dan lalu memutuskan untuk adopsi. Dari pengamatan atas seorang sahabat yang mengadopsi dan pengalaman saya sendiri melahirkan, rasa istimewa yang ditimbulkan oleh kehadiran newborn baby ini sama pada setiap ibu-ibu, walau pada prosesnya dampaknya berbeda.
Pada ibu yang melahirkan anak, hubungan emosi itu semakin meningkat melalui pemberian ASI. Tapi apakah sampai disitu saja? Tidak. Sentuhan, percakapan dalam bahasa senyam senyum, tidur bersama. Itu hanya bagian kecil dari proses pengembangan hubungan emosi antara si ibu dan bayi.

Yang paling bahagia lihat anak pertama senyum, bicara, melangkah, menari, menyanyi juga kebanyakan adalah ibu dan cerita ini bisa sampai ke ujung bumi dia kabarkan, ga pake capek dan ga dibayar.

But when it comes to pay a price or to sacrifice, lagi-lagi adalah ibu. Berapa banyak diantara Anda yang memutuskan untuk meninggalkan (sementara atau sudah cukup lama) mimpi-mimpi dan cita-cita jadi wanita karir dan jadi ibu Rumah Tangga demi anak? Atau sebaliknya, berapa banyak diantara Anda yang memutuskan menyewa babysitter atau pembantu untuk menjaga anak dirumah agar Anda bisa mencari penghidupan yang layak demi masa depan anak Anda? Yuk, kita ngacung rame-rame. Nangis rame-rame juga ga papa.

Jadi saya perjelas lagi mengapa saya bilang ‘belum ada orang yang setangguh dan sebijak ibu-ibu’.

Pertama, ibu-ibu yang rela meninggalkan mimpi-mimpi dan cita-cita demi membesarkan anak, ga kebayang betapa besar pengorbanan yang dia lakukan. Sekolah tinggi, karir sudah mulai menanjak atau mungkin sudah dipuncak, perasaan dan kebutuhan akan pentingnya berkarya dan aktualisasi harus di-cut sedemikian banyak. Ada pria yang seperti ini? Ada. 1 mungkin tapi itupun hanya bertahan maksimal sebulan.

Kedua, ibu-ibu yang memilih bekerja full time sebagai wanita karir. Berat lho meninggalkan anak seharian dengan babysitter/pembantu dan mengetahui tidak semua milestone anak bisa dia saksikan. Lalu ketika pengasuhnya cerita ‘bu, tadi adek bisa begini begitu…’, senang tapi sedih rasanya ga bisa menyaksikan itu langsung. Dan lalu sang ibu berusaha menyediakan waktu berkualitas di akhir pekan padahal dia sendiri dipastikan juga ingin istirahat. Keputusan berat dan pengorbanannya besar.

Tapi kabar baiknya ibu-ibu dengan pilihan apapun diantara kedua itu dan sungguh-sungguh memberikan yang terbaik bagi keluarganya, tidak pernah merugi. Tuhan tidak tutup mata. Beberapa saat lalu, saya wawancara Dian Khrisna, kalau Anda ingat mantan presenter Metro TV, dulu adalah Putri Indonesia 2003 dan Mrs. Indonesia 2009. Dia memutuskan meninggalkan karirnya untuk membesarkan anak, full time mother, kalo dia nyebutnya Homeland Engineer (hahayy…canggih 😀 ). Dengan karir begitu, berat ga sih? Pasti dong, tapi dia rela. Tapi ketika waktunya tiba, dia bersinar lagi: jadi salah satu kontestan The Apprentice Asia. So inspiring, sangat supel dan rendah hati.

Jadi tolong, para suami, mertua, tante, oom…dukunglah ibu-ibu ini, yang sudah berkorban besar tapi tetap berusaha memberikan yang terbaik saja bagi anak dan suami. Hindari menghakimi jikalau mereka masih belum sempurna ketika mengasuh anak, atau ketika waktu yang bisa diberikan hanya di akhir hari atau di akhir pekan. Tolong, put yourself on her shoes…biar tau rasanya jadi ibu.

Anda mendukung seorang ibu, maka Anda menjadikan Indonesia lebih baik.

untuk semua ibu, jempolku yang berkutek cantik untukmu 😀

Menjadi Anak-anak Terang

@vinabutarbutar

@vinabutarbutar

Beberapa hari ini warga Jakarta dan mereka yang terhubung dengan warga Jakarta via bbm dihebohkan dengan berita tentang keberadaan seorang pria yang berkeliaran di Jakarta Selatan membunuh anak-anak dan perempuan untuk menambah ilmunya. Kemarin berita itu saya baca pertama kali lewat broadcast seorang pendengar. ‘Sindo, mohon konfirmasi kebenaran berita ini, karena ini sangat meresahkan.’ Begitu isinya. Hal pertama yang muncul di benak saya adalah anak saya dan pengasuhnya dirumah. Kata berita itu, pembunuh ini sudah di Pasar Minggu. Kalau Anda seorang ibu, punya anak kecil dan perempuan pula, dan bekerja di luar rumah, bagaimana reaksi Anda? Kedua, sebagai pelaku media, saya wajib memberikan jawaban yang benar dan dari sumber terpercaya. Cari di situs-situs berita, ga ada. Tanya ke produser juga belum ada yang bisa konfirmasi.

Beberapa saat kemudian saya sudah lupa berita itu. Tadi malam ketika saya dalam perjalanan pulang ke rumah, saya cek twitter. Di timeline tempo.co ada beritanya ternyata dan baru diterbitkan. Pihak kepolisian sudah mengonfirmasi bahwa berita itu hoax. Bohong. Buat-buatan orang aja. ‘Masa’ sudah 40 orang dibunuh tapi ga ada laporan?’ Begitu kira-kira isinya. Seketika saya teringat lagi setelah terlupakan dan seketika ikutan lega, sedikit aja tapii, karena saya mulai belajar untuk tidak mau terpengaruh berita-berita negative.

Satu hal tiba-tiba terpikir bahwa dunia ini memang tempat pertarungan yang paling laris antara si baik dan si jahat. Betapa si positif masih berjuang teramat sangat keras menaklukkan si negative. Dan betapa berita positif itu terdengar seperti kecepatan bekicot sementara berita negative itu bisa tersiar seperti kecepatan cahaya dan menebarkan intimidasi ketakutan lalu menyisakan hampir tidak ada energy positif pada yang disinggahinya. Itu fakta saat ini. Manusia bisa berlama-lama sampai berhari-hari membicarakan gossip buruk tentang seseorang atau sesuatu dan mengulangi lagi lalu menambahkan asam dan cuka hingga berita itu semakin seru. Namun cerita yang baik bisa terdengar hanya beberapa menit saja, di-woow sejenak, dan lalu menguap begitu saja.

Saya juga sadar masih begitu. Namun kita bisa mengubahnya, bersama-sama. Lebih banyak lagi berbuat baik. Sering-sering menggosipkan yang positif dan menyiarkannya ke seluruh penjuru bumi. Ingatkah, betapa hati kita bersorak riang ketika menyaksikan anak kita mulai berbicara? Rasakan mata berair karena terharu karena seorang guru di NTT sana memberikan hatinya untuk pendidikan dengan fasilitas minim. Itu hal-hal kecil yang baik yang bisa kita broadcastkan dan gosipkan. Saya yakin semakin banyak kebaikan tercipta, semakin sering hal positif diperdengarkan, si jahat yang akan terintimidasi, kabur dan menguap.

‘Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu.’ Fil 4:8

Tebet, June 4, 2013

Oksigen di Rimba Polusi Jakarta

Bagi saya yang sempat menghabiskan 2 tahun di kota yang sejuk dan berudara bersih, Tomohon (Sulawesi Utara), berhadapan dengan Jakarta dan segala tetek bengek permasalahannya tentang polusi dan udara bersih adalah tantangan. Saya sebut tantangan karena saya tidak bisa memaksakan setiap kota yang saya tinggali harus berudara bersih. Karena itu saya percaya pasti ada lokasi sebagai sumber udara bersih di ibukota ini. Man, pikiran positif diperlukan dua kali lipat kalo mau berteman dan berdansa dengan Jakarta.

Awalnya saya agak kecewa karena ekspektasi saya terlalu tinggi. Inilah efek dari terlalu banyak nonton film Hollywood. Kan selalu tuh, film-film Hollywood secara tidak langsung promosi keindahan kota mereka dengan menonjolkan taman kota yang aduhai dilihatnya. Apalagi ditonjolinnya di musim semi; rumput sedang hijau-hijaunya, pohon berdaun lebat dan berbunga berwarna-warni, angsa-angsa berenang riang di danau buatan di tengah taman, anak-anak berlari gembira mengejar kupu-kupu dan bermain balon deterjen, ibu-ibu menggelar tikar tempat bekal makanan ditata, anak muda di mabuk asmara sedang ciuman di kursi panjang taman, langit biru, burung terbang bernyayi merdu, ada yang berolahraga, ada yang sekedar tiduran di rumput atau membaca. Segar ya?

Agak repot ya kalau cari yang begitu disini. Lagi-lagi saya masih positif akan menemukan sebuah taman. Sepersepuluh dari itu saja. Lumayan itu. Eh, Tuhan memang maha baik. Dia tidak menutup telinga terhadap permintaan umatNya. Meski bentuk jawabanNya terserah Dia. Suatu hari di awal bulan kedua kami tinggal di Tebet ini, suami saya datang bawa kabar gembira. Taman itu ada, mirip-mirip dengan isi taman di khayalanmu, kata suami saya. Maka kesitulah kami sejak itu hampir setiap weekend, kalo ga ke kawinan :D.

Namanya Taman Honda-Tebet. Taman seluas 2,8 hektar ini membentang antara Kelurahan Tebet Timur dengan Kelurahan Tebet Barat, Kecamatan Tebet, Jakarta Selatan. Dari namanya bisa diketahui bahwa taman ini disponsori Honda dan bersebelahan dengan Taman Kota Tebet.

Anda yang ingin memperkenalkan alam dan bukan mall kepada anak Anda, disinilah tempatnya. Anda bisa menemukan jenis pohon pelindung seperti mahoni, ketapang kencana, mindi, bunga kupu-kupu, trembesi, dan flamboyan. Jenis pohon yang ditanam merupakan kombinasi antara pepohonan ramping dan peneduh. Dengan begitu pengunjung bisa langsung merasakan fungsi dan manfatnya.
Taman Honda Tebet

Bagi Anda yang gemar olahraga, ada jogging track juga lho.

Jogging track (photo: oktovinabutarbutar)

Hati-hati, jogging track juga sekaligus lokasi bersepeda.

Jogging track diantara pepohonan (photo:oktovinabutarbutar)

Reflexology track juga tersedia. Ada 3 tingkatan; pemula, intermediate, advanced. Lho, kok kayak kursus. Beneran! Tapi dalam arti tingkat ‘kesakitan’.

Reflexology track; 3 tingkat kesakitan. (photo:oktovinabutarbutar)

Bukan Cuma orangtua, anak-anak juga senang.

My daughter played on the reflexology track

Keliatan ya, anak-anak belum punya encok, migraine, dll…bisa tuh maen bola di tingkat advanced.

Nah, yang ini jadi rebutan setiap anak. Cuma satu tapi lumayan berfungsi mengalihkan kebosanan anak.

Arena bermain anak

Jembatan penyeberangan ini adalah favorit anak muda untuk nongkrong. Eh ada juga lho yang suka shooting klip disini. Dibawahnya air mengalir.

Jogging track tersambung denga jembatan penyeberangan (photo: oktovinabutarbutar)

Pusat taman ini menjadi lokasi segala-gala. Futsal, latihan karate, style-cyclist and skateboard

Anda seorang pesepeda yang suka beraksi, disini tempat latihannya. Ga bakal diketawain, dikagumin lho.

Hiaaatttt...Penonton juga ikutan berlatih gratis!

Tersedia juga mushola, toilet dan penjaga.

Mushola-toilet-pos penjaga di pojokan taman

Yukkkss…daripada bayar di mall, mending di Taman Honda Tebet. Gratis ini.

Kalo soal ttd, Foke cepat yaa... ehh, itu anak saya ga mau balik :D

Banyak jajanan kok, murah meriah…

Jajanan murah meriah di sepanjang jalan diluar taman.

Tebet, 13 Mei 2013