Satu Hari Sebelum Pencontrengan Calon Legislative

Pukul 13.45 WIT tepat satu hari sebelum pencontrengan calon legislative seisi kost saya panik sepanik-paniknya. Bukan hanya kami saja, tetapi hampir seluruh warga yang berdomisili di sekitar Kampus Universitas Sam Ratulangi heboh dan berhamburan ke depan kost saya. Persis dua rumah dari kami kebakaran hebat. Dalam waktu 15 menit 3 rumah di sebelah kanannya jadi santapan empuk si jago merah. Untungnya, rumah yang memisahkan kost-an saya dengan sumber api terbuat dari beton. Saya tau, harusnya saya ga bilang untung. Karena keempat pemilik rumah itu pasti tidak setuju dengan saya. Untung apanya? Rumah saya tinggal kenangan. Mungkin begitu jeritan mereka.

Yang tersisa hanya papan triplek ukuran 60 x 40 cm bertuliskan ‘DISINI DIJUAL : TINUTUAN MIE GORENG NASI CAMPUR’ persis di bawah lampu yang masih berdiri tegak tertancap di pagar besi dari rumah yang menjadi sumber kebakaran. Jarak rumah dengan pagar sekitar 8 meter. Arah angin berganti-ganti ke belakang dan ke kanan rumah.

Menit ke 8 api sudah hampir mendekati pohon di depan rumah di samping kost saya. Saya semakin panik dan bingung. Kak Ine dan saya memadamkan semua aliran listrik dan berkali-kali menghubungi pemadam kebakaran. Apa yang harus saya selamatkan selain kertas berharga saya dan badan saya? Alkitab saya masukin ke tas selempang yang selalu standby dan saya gantungkan di badan, handphone dan dompet masuk kantung depan celana dan tanpa pikir panjang saya masukin monitor computer ke koper diantara baju-baju. Masih sempat mikir ‘biar ga rusak’. Trus, belasan detik saya bengong dan scanning isi kamar. Apa lagi? Apa lagi? Buku terlalu berat dan mau ditaruh dimana. Gitar? Hmmm… CPU? Semoga beibku cepet datang. In the end, mataku hanya menangkap satu benda kecil: charger handphone.

Menit ke 10 Audy dkk datang dan bantu mengangkat barang-barang yang penting. He held my hand tight. Menit ke 15 tiga unit pemadam kebakaran tiba. It was a big fire. Api baru benar-benar padam pukul empatan sore dan masih menyisakan asap tebal sampai malam. Di sela-sela ngos-ngosan dan panas Kak Ine sempat bilang, kalau ada teman-teman memang kita lebih tenang dan ga kuatir yah… Yup! That’s just so right. In the end, nothing else matter but having friends and beloved people to share. Thanks beib and teman-teman, thanks fireman, thanks police officer, thanks juga petugas PLN yang langsung benerin aliran listrik malam itu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s