BAPA’KU VS DOKTER (GIGI, INTERNIS)

“Gosok yang keras! Sampe berdarah!”

Begitu kata bapa’ku menanggapi raunganku bertahun-tahun silam. Gigiku yang dulu sangat dibanggakan mama’ku ke tetangga, keluarga dekat dan jauh (catet: jarak), dan pembeli (mama’ku pedagang eceran di pasar tradisional Balige) mulai berlobang hampir membusuk. Gigi geraham sebelah kanan. Awalnya ngilu. Lama-kelamaan setiap kali kesentuh makanan, sakitnya ga kuaaaat! Seperti dibanting palu dan ditusuk-tusuk jarum yang sudah ditaburi racun dan cabe rawit sedikit asam. Bayangkan!

Berhari-hari ga selera makan. Semakin malam semakin dingin semakin tidak ada kerjaan semakin sakit. Saat itu aku bersumpah mengeluh ‘kenapa aku ga tinggal di Medan aja???’ Soalnya entah kenapa, suhu dingin sangat berpihak pada penyakit jenis tidak elit ini dan, kampungku….brrrrr! Tidak ada lagi pujian “wah, giginya putih sekali! Pake odol apa?” Senyumnya mulai ditahan dan agak dikulum – takut gigi berlobang dan busuk itu mencuat dan mengeluarkan bau mengusir.

Bapa’ku ternyata mengalami hal yang sama bertahun-tahun kemudian setelah aku meninggalkan kampung dingin itu ke Jogja yang menyengat. Bedanya bos besar ini tidak meraung dan tidak melebih-lebihkan penyakit yang tidak seberapa itu. Hanya berkata,”Yah begitulah, agak sakit gigiku belakangan ini. Bengkak. Sakit. Jadi agak kurus badanku sekarang,” dengan nada tak bernada karena agak ditahan ngomongnya walau tak terkesan mengeluh. Aku membayangkan badannya yang kurus semakin kurus dalam hitungan hari. “Trus, diapain, Pa’?” kasian juga aku dengar nada yang tak berwarna itu. “Kutunggulah sampe bengkak dan sakitnya berkurang.” Dan aku hanya bisa,”OOH…toema…”

Tiga hari kemudian dia telepon.
“Obat paling manjur untuk sakit gigi berlobang dan busuk Cuma satu!” sudah bernada sekarang.
“Apa?”
“Gosok yang keras! Sampe berdarah!” (yang digosok keras dan sampe berdarah: bagian yang berlobang dan busuk kalau lagi kambuh…kebayang ga lo rasanya!)
“Bah!”
“Tapi jangan lupa…harus pake Close Up! Yang ijo!” seijo itulah warna suaranya sekarang.
“Kata siapa harus yang ijo? Emang Bapa’ udah coba yang kuning?”
“Udah kucoba semuanya…percayalah yang paling manjur yang ijo!” dan aku selalu percaya pada perkataannya…seperti anak percaya pada Bapanya.

11 bulan yang lalu gigi berlobangku itu kambuh lagi. Oleh saran sahabatku, aku ke dokter gigi terlaris dan terjago di kota ini. Dikorek, dikikis, kumur-kumur, buang! Dikorek lagi, dikikis lagi, kumur-kumur lagi, buang lagi! Plus kantongan plastik berisi obat 3 x sehari dan 2 x sehari. Hari pertama, masih begitu. Hari kedua, berkurang…dikiiiit! Hari ketiga, menuju normal. Hari keempat, agak normal. Hari kelima, normal. Hari keenam, aku berhentikan obatnya. Hari ketujuh, sakit lagi. Sungguh sangat memeras dan tidak tahu diri penyakit ini! Masih hari ketujuh, aku ingat dokter menyruh aku kembali seminggu setelah pemeriksaan yang pertama. Karena tidak ada duit kuputuskan tidak.

Besoknya bapa’ku menelepon dan langsung mengenali nada tak bernada dan tak berwarna itu.
“ Oh…gosok yang keras! Tapi ingat ya, harus pake Close Up yang Ijo!” sampe detik ini gema itu lebih jago dari raunganku yang dulu . Dan setiap hari aku melakukan saran itu. Dan tidak ada lagi sumpah untuk tinggal di daerah panas 🙂
Dokter R. Butarbutar
Desember lalu, natalku dipenuhi saran dokter baru itu lagi. Kali ini maag menyerang. Reaksinya antara kaget dan ‘tenang aja, gampang obatnya itu’. Kaget karena menurutnya anak perempuannya yang ‘berbeban berat’ ga akan pernah kena sakit begitu-begituan.
“Jadi, setiap pagi minum air hangat dua sampai tiga gelas. Sebelum tidur juga begitu. Yang penting juga, sesibuk apapun jangan telat makan. Meski lagi ga kambuh, jangan terlalu menghantam makanan pedas karena bisa lebih cepat kambuhnya. Tapi yang paling penting, jangan terlalu banyak pikiran….Cuma itunya penyebab maag. Ai aha dipikkiri ho fuang?”

Dan sekali lagi saya mempercayakan kesehatan saya pada sarannya.

“Bapa sudah belajar untuk menjadi dokter bagi diri sendiri. Karena yang paling mengenal maunya tubuh kita itu kan kita sendiri. Jadi ga perlulah harus ke dokter kalau kena sakit,” begitulah opininya sambil minta dibuatin kopi dan aku pun angkat jempol baru dapat kuliah gratis.

Dokter internis dan gigi…sorry ya, pasiennya harus berkurang dua orang 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s