tertolak … hilang arah…di tengah hujan


 

Lelaki tua itu melambai-lambaikan tangannya. Rautnya memelas. Tubuh rentanya dibalut sepasang kostum olahraga berwarna biru langit. Kostum olahraga yang oleh lansia sering dijadikan piyama. Rambut putih yang mendominasi rambut hitamnya mengisyaratkan usianya sudah menanjak awal 70 tahunan. Hanya sandal jepit usang yang mengalasi jemari dan telapak kakinya yang pucat dan kurus. Kaki itu hendak menyeberang ragu ke seberang jalan selebar 3 meter. Baru satu langkah, tiba-tiba dia tercekat. Sebuah motor melintas cepat. Cepat-cepat dia mundur. Limbung dan kikuk. Wajahnya menegang dan kerutannya semakin mengeras. Bibirnya komat-kamit sambil melihat kiri dan kanan. Dia berputar-putar sebentar di tempat dia berdiri. Tetesan air hujan membuat tubuhnya bergetar. Sesaat kemudian dia mengarahkan tubuhnya kembali ke posisi pertama. Dia lambaikan lagi tangannya dan berharap langkah tegasnya kali ini akan meluluhkan orang yang dia lambai.

Di seberang, angkutan umum berwarna biru muda bersiap-siap berangkat. Kaca jendela bagian sopir terbuka setengah. Sopirnya sedang melihat ke lelaki renta itu. Hanya leher ke hidung ke mata ke rambut yang terlihat. Oh, ternyata tangannya juga sedang melambai kepada si tua renta. Melambai menolak. “Nyanda opa, so fuul!” teriaknya sambil terus melambaikan tangannya dan pelan-pelan roda angkutan bergerak maju …lalu mundur sedikit – seperti remaja perempuan menarik ulur penantian cinta seorang remaja pria – pertanda dia tidak menginginkan si lelaki tua jadi penumpangnya. Tiba-tiba sebuah angkutan umum dengan tulisan PAAL 2 tergantung di sisi kiri sopir melintas di depan si lelaki. Lagi-lagi si tua renta melambai. “Bukan opa, Paal 2 ini!” Goresan raut kecewa semakin tebal.

Lima langkah lagi, saya berjalan perlahan – bukan karena sama rentanya, tetapi karena jalanan menanjak, licin akibat hujan, tas ransel di punggung dan payung di tangan – dan sampai di tepi jalan tempat si tua renta berdiri dan berharap. India Arie sedang mengalunkan Heart of Matter di telinga saya… I’ve been learning to live without you…but I miss you sometimes…the more I know the less I understand…all the things I thought I knew, I’m learning them again…

“Mau kemana, Opa?”

“Teling…” gelisah suaranya. Wajah memelasnya kini dipenuhi butiran air hujan. Khawatir akan penolakan yang kesekian.

“Oto Teling disana. Marjo tunggu di ojek situ, hujan!” saya menunjuk pangkalan ojek Pakowa. Dua pria berbadan gempal memakai sweater sedang menunggu giliran. Salah satunya menyilangkan kaki.

“Cewek! Ojek?!” berusaha tersenyum ramah menggoda dia bertanya. Entah berapa ratusan kali saya ingin dengan galak menjawab, “Saya bukan cewek lagi!” untuk setiap sapaan serupa dari siapapun. Ah, saya hanya melambaikan tangan menolak dan melihat lalu mendekati angkot yang maju-mundur. Memeriksa, benarkah so ful? Tapi kenapa belum berangkat? Perasaan hampir kecewa hampir mendarat karena saya harus tiba cepat di kantor.

“Cewek! Teling?! Masuk jo!” suara itu keluar dari angkot maju-mundur.

Saya melongok ke dalam. Dua kursi di belakang sekali masih kosong.

“Kenapa opa itu tidak diangkut?” nada saya naik setengah oktaf. Entah karena berlagak seperti pembela atau karena merasa suara yang saya keluarkan kecil pengaruh musik full booster di telinga. Saya masih berdiri disamping pintu masuk angkot.

“Oh, itu opa nda jelas kwa. So berapa kali dia naik kong turun di 45 kong naik lagi bale lagi kasini”. Raut muka orang-orang di angkot menggambarkan persetujuan. Seakan si tua renta seorang gila.

Tanpa ‘oooh’ yang artinya ‘gituu’, saya naik duduk di belakang. Melihat melalui jendela angkot ke arah si tua. Dia mengulangi ritualnya. Melambaikan tangan pada setiap angkot. Setiap angkot balas melambai. Menolak.

Angkot bergerak maju. Kali ini tanpa mundur lagi. Gerimis masih turun. Pikiran saya mulai mencari. Mungkin dia sudah pikun. Mungkin dia keluar rumah sebentar mencari sesuatu namun tidak pernah menemukan. Lalu tidak pernah menemukan jalan kembali. Bahkan angkot pun tidak mau menampung. Mungkin…mungkin. Yang pasti, dia adalah anak dari seseorang. Yang pasti, dia adalah ayah dari seseorang. Entah sampai kapan si tua renta akan melambai. Entah sampai kapan juga angkot-angkot akan balas melambai menolak dengan halus. Sesaat ada keinginan untuk menghubungi Kantor Dinas Sosial… kalau suara saya didengarkan.Tapii… bahkan kantor Dinas Sosial pun mungkin tidak akan mampu menjangkau semua kaum terhilang – ralat, tersesat… (kata Papi Hanna tidak ada yang hilang, hanya berpindah tempat 🙂 )

Ah, mungkin tangan saya tidak harus bergerak sejauh pikiran saya.

Saya mulai mengingat kapan saya terakhir merasa sendirian. Ditolak. Hilang arah. Di tengah hujan.

Pernah.

Namun hampir lupa kapan.

Mungkin karena ketika perasaan itu akan menetes di wajah, ibu saya tiba-tiba menelepon, kangen katanya, dan lalu bercerita panjang lebar tentang opung yang begini, tetangga yang baru saja meninggal karena stroke dan mengingatkan saya supaya jaga kesehatan.

“Muka!” lalu angkot maju-mundur ini berhenti. Gerimis sudah mulai reda walau masih menyisakan hawa dingin dan sepi. Saya sodorkan selembaran 2000 rupiah. “Makasih,” saya tersenyum dan merasakan senyuman balasan.

Terimakasih karena tidak menolak saya naik angkot Anda.

Terimakasih meski di tengah hujan suami saya rela mengantar dan menjemput dengan kaki telanjang.

Terimakasih karena India Arie dan teman-temannya membuat saya tidak merasa sendirian selama 60 menit perjalanan.

Terimakasih karena  sahabat-sahabat saya masih menanyakan ‘kapan mau girls night?’

Terimakasih si Ninoy masih suka menepuk pantat saya dan selalu berusaha menyandera saya di ruang siaran.

Thanks J…semoga pikiran-pikiranku tidak membuat keberangkatanmu ke surga tertunda

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s