Datanglah nak…

Buk! Grubuk! Ciiiiit!

Pendaratan itu membuat perempuan itu tersentak. Sangat kasar dan seperti burung menukik akan menerkam mangsanya. Jantungnya berlompatan 1001 kali lebih kencang. Dia bisa merasakan darahnya mengalir lebih deras ke seluruh tubuhnya. Kedua tangannya sontak memegang pegangan kursi. Pria di sebelah kanannya lalu menggenggam tangannya. Pria itu tersenyum padanya dan membuatnya lebih tenang. Masih sedikit khawatir, dia sentuh perutnya. ‘Nikmati ya sayang, itu namanya landing. Suatu hari nanti, kamu akan sangat menikmati ini,’ tanpa suara dia ucapkan kata-kata itu. Dia bertanya-tanya apakah kata-kata itu menenangkannya atau membuatnya terlihat ragu.

Itu 6,5 bulan yang lalu. Dia tersenyum mengingat kejadian itu. Oh, bukan! Itu bukan kali pertama dia terbang. Pengalaman gelisah-tapi-tidak-sabar-ingin-terbang sudah jauh dia tinggalkan dia tahun-tahun silam – ketika naik bus antar provinsi 4 hari 3 malam sudah melelahkan dan bikin betis tebal semakin bengkak dan lalu mengurangi sepertiga dari waktu liburan kuliah. Belum lagi kalau bus ekonomi (baca: tidak ada AC dan toilet – kalau siang sangat panas, kalau malam menggigil) itu mogok di jalan trans Sumatra, bisa seminggu dia sampai di kampung.

 

Dia tersenyum karena itu pertama kalinya dia terbang dalam keadaan yang sama sekali berbeda. Petualangan kali ini bukan lagi tentang kesenangan pribadinya. Bukan lagi tentang sekedar menantang adrenalin ke level tertinggi. Bukan lagi tentang ketidakpeduliannya makan jagung rebus yang dimasak dengan air keruh dari sumur dekat honai. Semua itu harus dipending dulu, sementara. Ada sesuatu yang besar terjadi padanya. Sesuatu yang tidak pernah dia bayangkan sebelumnya. Sebelumnya dia hanya berpikir akan menjelajah dari waktu ke waktu. Sejak dua ratus tujuh puluh sekian hari yang lalu sebuah kehidupan tumbuh didalamnya. Sungguh mengherankan! Dulu – sewaktu dia masih suka tidur dibalik ketiak ayahnya – dia suka bertanya-tanya bagaimana caranya memasukkan manusia ke dalam manusia lalu mengeluarkannya lagi? Sekarang semuanya terjawab. Hmmm…hampir!

 

Sundulan yang terkadang membuatnya menjerit kesakitan itu lagi-lagi membuatnya tersenyum. Ajaib bagaimana perutnya yang dulu agak rata semakin membesar dan berasa akan robek setiap kali ada tendangan. Namun lagi-lagi, tendangan-tendangan itu hanya membuatnya tenang. Tenang karena bayinya sehat…meski dia belum melihatnya. Hasil USG 3 hari lalu : jantungnya sehat dan sudah pada posisi siap lahir.

 

Akan seperti apa dia nanti? Apakah hidungnya akan seperti bundanya? Akan jadi tukang ngomongkah dia seperti ayahnya? Suka protes ga ya dia? Mungkin dia akan jadi rocker… Begitu dia suka menebak-nebak dengan suaminya manakala bayinya menendang setiap kali diperdengarkan musik. Ah, terserahlah. Dia dan suaminya sudah sepakat akan membesarkannya dengan kasih dan dalam iklim demokrasi.

 

Tapiii…

Penantiannya di menit-menit belakangan ini sudah tidak ada sangkut pautnya lagi dengan semangat demokrasi…

Dia sungguh sudah sangat tidak sabar lagi memegang jemari mungilnya, mendengar suara tawa dan tangisannya, mengamati setiap kedipan matanya, mengumumkan namanya yang sudah dia persiapkan dengan suaminya sejak hari pertama dia dinyatakan berbadan dua…

Meski dia yakin bahwa waktu indah itu akan tiba tepat pada waktu-Nya, selalu saja dia selipkan dalam doanya, “Cepatlah datang nak…” 😀

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s