Dokter, berbagi ilmu pasti bikin Anda lebih pintar

Jumat malam tanggal 28 Oktober 2011, Zano muntah. Sekitar 5 kali hingga Sabtu pagi. Makan juga tidak mau sama sekali. Sabtu dini hari suhu badannya mulai panas. Sabtu pagi saya dan suami langsung bawa ke UGD salah satu rs di tomohon.Badannya lemas sekali karena hanya berbekal ASI sepanjang malam. Sepanjang 15 menit perjalanan dia hanya sandaran pada saya. Biasanya sudah ikut pegang kopling, atau berdiri berpegangan pada kaca melihat keluar, atau menggapai-gapai apa saja yg menarik matanya.

Di UDG, dokter jaga sepertinya udah beranjak 60 tahunan. Dokter mulai periksa. Kaus Zano dinaikin, lalu dia letakin tangannya di atas perutnya. Zano – dengan kondisi sedang sakit – menjadi rewel dan menangis hebat dipegang oleh orang lain. Hati saya semakin pilu (ibu-ibu mana yang tidak?). Saya berharap dokternya menemukan penyebab sakitnya dengan akurat. Saya menjelaskan kronologisnya dari jumat malam sampai sabtu pagi dan menunggu ada tindakan lain dari dokter. Tapi tidak ada. Hanya menekan tangannya sebentar diatas perut Za, itulah awal dan akhirnya.

Lalu si dokter berjalan ke mejanya. Saya mengikutinya sambil menenangkan Za. Dia duduk, saya ikut duduk. Lalu dia menulis resep. Dia berikan pada suami saya. Masih tanpa satu kata. Lalu saya buka mulut,

‘kenapa dia dok?’

‘radang lambung.’

Hiih…kok kedengarannya menyeramkan buat anak usia 11 bulan? Belum ada penjelasan lanjut. Saya berdiri, buka mulut lagi, lebih tegas.

‘apa itu radang lambung?’

Ogah-ogahan dia menuju pojok ruangan (ini pengamatan saya, bukan subjektif). Saya ikut lagi. Dia menunjukkan gambar sistem pencernaan.

‘ini lambung’ dia menunjuk lambung, ‘ada bakteri masuk disini, mungkin karena dia masukin tangannya ke mulut dan tangannya sedang tidak bersih. Gejalanya muntah, kalau perutnya semakin tidak sanggup menahan, maka akan berak-berak atau mencret.’

Kalau itu saya mengerti. Tapi kok sampai radang lambung, itu saya agak ngeri dan belum mengerti. Dan semakin tidak mengerti ketika resepnya diambil ternyata obatnya TABLET. Can you imagine? Anak 11 bulan dikasih tablet segede kuku telunjuk kiri saya.

Dari Minggu hingga SElasa, Za berangsur2 pulih. Selasa pagi bangun tidur, saya dan suami sepakat dia sudah 90 %. Nah, ketika sarapan. Dia mogok. Makan siang, kudu dibujuk2 supaya mau makan. Siangnya sekitar jam 3, pengasuhnya telepon, Za nangis terus (karena Za ini jarang nangis). Akhirnya saya buru2 pulang dan dapat laporan, Za mencret sudah 2 kali. Sekitar jam 4, ketika dia akan makan, muntah. Dan masih diikuti mencret sekali lagi. Saya putuskan bawa dokter anak.

Malamnya setelah saya ceritakan semua runtutan peristiwa dari jumat hingga sorenya, si dokter anak mengoreksi, ‘tidak ada yang namanya radang lambung bagi anak, bagi orang dewasa iya. Bagi anak disebut perdangan pada usus, tetapi jarang sekali kita sebut dengan radang. Mungkin ibu salah dengar.’ Lalu saya mulai cerita juga bagaimana di UGD. ‘Mungkin dokternya capek, udah shift semalaman jadi mau cepat2.’ Kemudian dia mulai menjelaskan sebab musabab terjadinya hal seperti ini pada anak usia Za, panjang lebar, pakai bahasa awam dan medis, sebagian saya mengerti sebagian tidak. Namun saya puas, karena semua pertanyaan dan kecemasan saya di respon dengan baik.

Dini hari tadi, saya berpikir2, berapa banyak dokter yang seperti di UGD ini? Terus berapa banyak pasien yang tidak bertanya lebih lanjut, atau lebih jelasnya- tidak bertanya lagi karena dokter yg kasih resep, pasti sembuh-, atau ga tau mau tanya apa ? Cukup banyak teman2 yang mengeluh tidak mau ke dokter anu karena alasan serupa atau hal lainnya. Saya ingat ketika hamil, 5 kali saya ganti dokter karena berbagai alasan. Dokter pertama, cowok, saya tidak nyaman. Dokter kedua, ngasih saya vitamin, yg menurut dokter ketiga saya terlalu keras untuk usia kandungan 2 1/2 bulan. Dokter ketiga, terlalu pintar, hingga ga dengar saya ngomong, hanya sibuk ngutarain teorinya. Dokter keempat, tidak bisa memberi kepastian atau saran atau nasihat tentang proses kelahiran Za, hanya bilang ‘kita lihat besok’ – 1 hari sebelum usia Za 40 minggu di kandungan dan setelah 2 kali induksi ga kontraksi, masih begitu, jadi saya dan suami yg ambil keputusan, harus operasi saat itu juga. Dokter kelima, baru pas, dengar pertanyaan pasien, direspons baik. Satu pasien bisa sampai 45 menit diruangannnya. Dan pasien lain merasakan hal yg sama.

Saya berpikir, bukan hanya dokter, harusnya semua orang melakukan pekerjaannya dengan sepenuh hati. Dengan sepenuh hati berarti berdedikasi pada pekerjaannya itu. Berdedikasi berarti memberikan lebih dari yang diminta. Jadi ketika seorang pasien memeriksakan diri, itu kan berarti dia ingin tahu apa yang terjadi dengannya dan ingin dapat obat tentunya. Tapi saya pikir, seorang dokter akan lebih hebat lagi kalau menge-edukasi pasiennya. Kasih tau sumber penyakit dan pencegahannya (preventif), dibandingkan cepat-cepat kasih obat dan tidak kasih penjelasan, sehingga mengajari pasien bertindak kuratif. Jadi, saya tidak menerima alasan dokter lagi capek, atau dokter sudah terbiasa menghadapi pasien dengan keluhan sama sehingga bisa dengan gampangnya menertawai pasien tersebut (krn sakitnya mungkin ringan saja) sementara disaat sama si pasien sedang cemas setengah mati, atau alasan lain. Tidak! apalagi dari seorang dokter, sebagai profesi2 yang dipercaya Tuhan membantu menjaga kesehatan umat manusia. Jadi, tolong dokter, berikan hati untuk pekerjaan Anda, berbagi ilmu ga bikin anda miskin, tapi makin kaya ilmu dan teman dan lain-lain…..

Nah biar seimbang, saya berterimakasih pada dokter2 yang berdedikasi pada pekerjaannya dan dicintai pasiennya hingga pasiennya rela berangkat dari tempat yg jauh demi menemui sang dokter walau hanya sekedar konsultasi. Ini saya dengar ketika ke dokter kandungan kelima saya. Ada satu keluarga berangkat dari Ratahan ke Tondano hanya untuk ketemu dokter kandungan tersebut. Baru2 ini saya juga bertanya pada dokter gigi saya. ‘Jenuh ga dok, lihat gigi setiap hari, itu-itu yang dilakuin setiap hari?’

‘Ya jenuh, tapi ini kan tugas saya….jadi saya harus nikmati. Cari caralah supaya hilang jenuhnya’, dan ga ada nada ogah-ogahan.

Untuk teman-teman saya yang dokter, thanks lho untuk konsultasi gratis di jam berapa aja…dan note ini bukan untuk mendiskreditkan dokter, tetapi bentuk kepedulian. Betul tidak?

Advertisements

One thought on “Dokter, berbagi ilmu pasti bikin Anda lebih pintar

  1. Hehe… memang nyebelin kalo ketemu orang yang gak punya passion dengan pekerjaannya. Sebelnya bertambah-tambah kalo orang itu profesinya dokter, karena memang biasanya kita ketemu mereka dalam situasi genting karena lagi ada yang sakit. Mereka punya kesempatan untuk menenangkan, salah satunya dengan memberikan penjelasan atau membangun hubungan. Tapi sayangnya banyak yang tidak seperti itu, entah karena kecapean atau memang gak punya kemampuan menjelaskan.

    Mungkin salah satu asal muasal dari masalah kurang passion ini adalah karena mereka memang sebenarnya tidak terpanggil jadi dokter, tapi terpaksa demi gengsi orang tua, gengsi diri sendiri, atau apalah. Sayang ya. Tapi jadi pengingat juga, semoga ke depannya anak-anak kita bisa merdeka dalam memilih profesi apa pun yang mereka ingini, biar bisa jadi orang yang mencintai pekerjaannya 🙂

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s