bahasa Indonesia dan daerah untuk orang tua, bahasa asing untuk anak-anak

Inilah yang terjadi kalau sudah lama tidak menulis. Ada sebongkah ide untuk ditulis tapi ga ada ide untuk memulai menuliskannya, not event a hint.  Beberapa bulan lalu, saat aku mulai ‘menikmati’ keberadaanku di rimba Jakarta ini, ide-ide itu beterbangan menyerang bak lebah diganggu aktivitasnya sedang memproduksi madu dan balik menyerang si pengganggu. Dan saking belum punya waktu menuliskannya, terciptalah sebuah list ‘Ide Tulisan’ di note kecil itu. Nah, setelah sekarang banyak waktu, mati kutu mau mulai dari mana.

Jadi supaya postingan kali ini tidak menjadi sekedar ‘a bunch of crap’, maka saya gelontorin aja pemikiran yang agak cukup memenuhi otakku belakangan ini.

Sesuai judulnya, akhir-akhir ini saya cukup dalam memikirkan tentang bahasa ini.

Kemarin ke Kota Kasablanka. Semua judul counter dan toko didalamnya berbahasa Inggris atau dalam bahasa asing lainnya. Mulai dari Scoop, Kid’s Station, Eat and Eat (padahal mayoritas isinya masakan Indonesia, dan setelah memutari stand2nya, semua makanan Indonesia dijuduli dengan bahasa Indonesia ‘Nasi Gudheg Malioboro’ dll), Movie…something. Yah, masih banyak lainnya. Saya nyelutuk, judul mallnya ‘Kota Kasablanka’ tapi nyaris ga ada isinya yang Indonesia.

Jadi ingat beberapa hari lalu sempat ngobrol dengan mba Retna (produser di kantor) soal bahasa. “Menurut mba, memperkenalkan bahasa Inggris pada anak sejak dini gimana?” Begitu kira-kira pertanyaanku. “Boleh-boleh aja, beberapa kata”, jawab mba Retna. Tau-tau perbincangan kami berlanjut sampai ke bahasa daerah, yang kayaknya hanya diketahui ‘kaum tua-tua’ aja (kalaupun orang muda ada, ya sedikit). Anak-anak, apalagi zaman sekarang, dicekoki bahasa Inggris. Dan sepertinya pada beberapa sekolah mewajibkannya dan orangtua mengaminkannya sebagai sebuah bentuk modernisasi. Anak-anak dalam konteks yang saya bahas adalah balita.

Adalah benar anak pada masa golden age-nya adalah masa paling sempurna untuk dinutrisi dengan berbagai hal sebagai fondasi hidupnya kedepannya. Termasuk bahasa ini. Kalau dari masih orok sudah diajak bicara dalam bahasa Indonesia dan konsisten dan kontinyu, ya akan fasih bahasa Indonesia. Saya dari orok diajak bahasa Batak, ya saya fasih bahasa itu. Yang menjadi pemikiran saya adalah, sepertinya orangtua zaman sekarang sangat kuatir anaknya tertinggal dalam zaman modernisasi termasuk ke-bahasaInggris-an ini, sampai-sampai anak Indonesia banyak yang lebih mengerti bahasa Inggris daripada bahasa Indonesia.

Terus terang saya juga agak bingung. Saya punya anak. Ketika saya titip dia di daycare, hampir sepanjang hari mereka mengajak semua anak berbahasa Inggris. Ketika saya jemput, eh dia sudah tau memperagakan ‘shake hand’. padahal saya belum mengajarkan itu padanya. Saya ingin fokus mengajarkan bahasa Indonesia dulu biar ga amburadul bahasanya – kayak bahasa anak muda sekarang (ini kata Kompas). Tapi ternyata pemikiran saya juga tidak sepenuhnya benar, begitukah?

Kembali ke judul. Karena keadaanya sudah begitu sekarang di Indonesia maka bisa jadi banyak anak muda yang tidak tahu lagi bahasa daerah, bahkan bahasa Indonesianya berantakan tapi bangga sekali dengan bahasa Inggrisnya. Jangan salah mengerti. Saya sangat senang belajar bahasa. Saya sendiri masih ingin  memepelajari bahasa asing lainnya. Tapi bukankah memulai dari akar itu menyegarkan? Akar yang kuat justru akan membuat bangsa ini kuat. Yuk, kita kuasai seluruh bahasa asing di dunia ini – lagi-lagi, kata Julia Gillard, itu modal untuk bisa berpatisipasi aktif dan terus naik dalam dunia yang semakin tidak mengenal batas ini.
Tapi jangan sampai kita lupa akar kita, bahasa Batak, Jawa, Betawi, Sunda, Toraja, Papua dan Indonesia. Kalau kita berbahasa Indonesia dengan baik, bahasa Inggris dan bahasa asing lainnya juga akan gampang dipelajari.

Horas!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s