Desember : Apa Artinya Bagimu?

 

 

Desember.

Bulan ini sungguh penuh makna. Penuh dalam arti yang sebenarnya. Harfiah. Bukan konotasi. Sewaktu kecil rasanya satu-satunya bulan yang ditunggu-tunggu adalah bulan Desember, selain bulan ulang tahun (nah, gimana sih, itu berarti bukan satu-satunya lagi donk?). Karena Desember artinya Natal. Natal artinya bulan penuh damai (saya tau, kamu mengangguk untuk yang satu ini kan? ). Banyak liburnya jadi ga pusing dengan tugas-tugas sekolah. Kalau masuk sekolahpun biasanya jam pelajaran habis tersita untuk latihan-latihan perayaan natal. Yup! Itu yang terjadi ketika saya SD dulu. Setiap level tingkatan punya dua kelas, A dan B yang digilir masuk setiap harinya. Kalau A masuk pagi maka B masuk siang dan sebaliknya. Di bulan Desember kedua kelas di semua tingkatan biasanya berubah jadwal. Semuanya masuk pagi sehingga pulang sekolah bisa latihan bersama. Hampir setiap hari begitu apalagi mendekati hari H perayaan. Bisa kebayang kan betapa penuh sesaknya kelas yang mejanya hanya diperuntukan untuk 40 orang tiba-tiba didobel setiap hari. Tetapi penuh sesak ini lagi-lagi berarti berbeda bagi anak-anak SD. Bisa dipastikan baik guru maupun siswa ga konsentrasi belajar dan mengajar. Bagaimana tidak? 1 meja direbutin 3-4 orang? Yang ada, PESTA! Pesta gossip buat cewek (Yup! Kami sudah tau gossip duluu…) dan pesta (hhnm…aku ga begitu tau apa yang dilakukan teman-teman cowok dulu saat begini). Begitu terus sampai January tiba. Inikah damai? Bagi saya yang dulu sangat tidak suka beberapa mata pelajaran, iya! Bagi teman saya yang sangat tidak suka pada banyak mata pelajaran, Iya! Bagi teman saya yang sekolah hanya karena dipaksa orang tua, IYA-dan-HADIR-SETIAP-HARI!

Itu arti pertama-yang-beranak-pinak dari segi hubungan Desember ama aktivitas sekolahan. Arti kedua yang saya harap tidak akan beranak pinak: Desember berarti Damai. Lhoo, kok sama? Iya, ini dari sudut pandang saya pribadi. Sebagai korban dari film-film Hollywood dan media-media barat yang selalu menayangkan bahwa Natal itu adalah rumah dengan nuansa hangat dan menyenangkan – you know, pohon natal sampai dilangit-langit rumah dan didekor oleh seisi rumah, hadiah-hadiah natal di bawah pohon natal, semua pernak-pernik rumah mulai dari gorden sampai keset bernuansa merah-kuning-hijau, perapian, kue-kue natal, Rudolph si Rusa Hidung Merah memimpin kereta Santa membagikan hadiah dan meninggalkan 1 buat saya di kaus kaki, salju dan anak-anak yang menyanyikan Christmas carols mengetuk pintu- saya selalu membayangkan dan diam-diam mengharapkan bahwa itulah Natal yang sebenarnya. Natal yang saya inginkan terjadi di tempat dimana saya tinggal. Tapi itu tidak terjadi. Tidak ada salju. Pohon Natal hanya setinggi ketiak. Hadiah Natal di bawah pohon tidak ada, yang ada hanya kado bohongan yang saya ciptakan supaya pohon Natal yang imut itu keliatan ga kesepian. Santa dan Rudolph hanya tinggal gambar yang saya potong dari koran Kompas dan tertempel di dinding kamar. Tapi saya merasa sangat damai. Karena ini Natal. Natal! Apalagi bulan yang lebih baik dari ini?! Saya usul ke mama’ untuk ganti semua gorden dengan yang warna merah. Beberapa bulan sebelumnya saya ikut voting keluarga pemilihan warna karpet, lagi-lagi merah. (Bukan) kebetulan kursi berbusa (bukan sofa) itu berbaju merah. Ha! Semakin damailah perasaan karena sesuatu yang baru wajib hukumnya di bulan Natal. Baju baru (seandainyapun mama’ bukan pedagang pakaian, pasti kami anak-anaknya tetap dikasih baju baru setiap Natal mengingat track record mama’ yang stylish). Di bulan Desember, anak-anak bisa keluar rumah sampai larut dengan alasan utama nonton perayaan natal kampung anu dan sekolah anu. You see, perayaan Natal di Balige itu adalah salah satu yang terheboh. Setiap kelurahan pasti menyelenggarakan perayaan Natal. Dan bukan sekedar perayaan yang biasa saja. Ada panggung besar beralaskan puluhan tong-tong minyak besar yang diatasnya ditutup dengan papan, tenda-tenda anti-hujan terpasang didepannya untuk ratusan bahkan ribuan peserta/penonton. Belum lagi, setiap kampung atau kelurahan yang ‘berNatal’ itu wajib berparade di sepanjang jalan raya atau jalan utama di Balige. Tujuannya, sebagai undangan tidak langsung dan juga ajang ‘Natal kami lebih jagoo’. Jadi, anak-anak, remaja, bahkan ibu-ibu sampai lansia akan berlari-lari gembira mendatangi jalan raya tatkala bunyi musik terompet dan genderang mengumandangkan lagu Natal di udara. Dan untuk anak-anak dan remaja, aha! satu alasan lagi untuk keluar malam sampe larut, baby! Coba, kurang damai apalagi Desember ini! Ga ada yang kayak begini di Jakarta! Dan mengingat-ingat perasaan itu, saya yakin teman-teman juga masih merasakan hal yang sama sampai SMU.

Loncat. Setelah dewasa (silahkan diartikan arti dewasa ini denganversi masing-masing – kalau versi saya: menikah dan punya anak), arti Desember yang banyak ini agak berubah. Masih penuh. Damai tetap ada didalamnya. Ada tambahan, mencekik. Ingin sekali membelikan sesuatu buat anak, suami, ponakan, orangtua, tetangga (ini mah lebay yaaa…) tapi tiba-tiba ada gelembung-gelembung pengingat beterbangan di otak ‘ingat, lagi berhemat untuk hunian’. Coba diabaikan, eh muncul lagi ‘ingat, kontrak kerja berakhir taun depan’. But this is Christmas (kata saya ke gelembung-gelembung itu), dia muncul lagi ‘terserah lo, asal lo ga nyesal ya bulan January! Ah, dilema ibu-ibu. (Saya dan beberapa teman merasa dilema nih, kalau kamu merasa begini share yah, bukan untu kasih tau seberapa tipis isi dompet kita dan seberap pelit kita, tapi untuk berbagi rasa, ga selalu mudah menjadi seorang ibu, meskipun saya yakin ga ada lagi pekerjaan lain di dunia ini yang bisa bikin kita sedamai menjadi seorang ibu, benar ibu-ibu? ).Kembali ke percakapan saya dan gelembung tadi, tapi saya pengen kasih, it’s nice to give something you know. Si gelembung jawab ‘terserah…bikin list isendiri ya, gw malas bantuon lo!’ Lagipula, bagaimana bisa saya menolak tawaran diskon up to 70% dari Anu Department Store dan bla bla bla. Kamu bisa? Apalagi sepatu yang kamu idamkan berpose disana dengan harga miriiiiing banget. Bisa??

Nah, itu dia. Desember sebagai bulan damai itu akan selalu eksis – entah sampai kapan. Namun seiring waktu maknanya mengalami penyesuaian. Saya sendiri sebenarnya ga mau membuat ‘damai’ itu mengalami penyesuaian. Karena damai, ya damai aja. Israel-Palestina masih perang terus gencatan senjata dulu karena Benyamin Netanyahu kelahiran cucu (misalnya), berarti ga damai. Damai artinya damai. Ga disesuaikan. ‘Damai tapi agak nyesal’, ‘damai tapi ga sepenuh hati’ –  no! no!

Ataukah, itu dilema hanya dialami keluarga baru?  Masih belajar gitu untuk mengatur banyak hal, termasuk menyeimbangkan distribusi Christmas gifts dan slogan ‘hidup bukan hanya hari ini saja’. Atau mungkin ga kalau di bulan Desember atau Lebaran nih buat yang muslim, kita ikuti anti-slogan itu aja? ‘Kan amal? Eh, tapi beberapa bulan lalu saya baca di tips mengatur keuangan si pakar bilang ‘oke, nikmati hari libur ini, tapi jangan sampai menangis di bulan depannya karena tagihan kartu kredit melonjak’. Ha!

Oke…sekarang saya malah semakin panjang dan lebar.

Well…ketika di kereta tadi, saya melakukan perenungan. Damai mestinya ga saya sesuaikan apalagi ganti artiya. Tetap aja begitu. Karena ga semua orang bisa merasa damai meski ditengah harta berlimpah. Kalau saya damai memberikan hanya barang yang sangat mahal namun sangat berarti kepada seseorang, saya yakin kedamaiannya juga berlipat dan saya pasti hidup lebih berarti. Kalau saya ga mampu kasih apapun, hanya bisa bernyanyi Deck The Halls dan lain-lain bersama putri saya (sambil dia maksa saya menari-nari dengannya) dan membacakannya bedtime stories, itu pasti bikin dia damai dan saya dipastikan sudah merasa menjadi ibu yang baik dan semakin lagi ingin menjadi ibu yang lebih baik lagi. Dan dengan merasa begitu, kurang damai apalagi coba??

Jadi Desember artinya banyak bagiku, tapi yang paling puncak: damai.

Soo, apa arti Desember bagimu?

 

merry earlier Christmas

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s