Hidup di Negara Perokok

Photo: lensamedia.com
Photo: lensamedia.com

Berapa sering Anda berada pada situasi ini?

Anda sedang duduk nyaman di sebuah tempat dengan aktivitas pribadi Anda dan menikmati udara di sekitar Anda yang tidak mengganggu. Tiba-tiba ada seseorang datang duduk di dekat Anda, mengeluarkan sesuatu dari kantong baju atau tas. Rokok dan pemantik. Tanpa melihat kiri-kanan dia mulai menghembuskan asap rokoknya dan mengenai Anda. Seperti tak peduli dengan gerak-gerik tubuh Anda yang terganggu dengan kedatangannya dan asap rokok itu – Anda mengibas-ibas tangan depan wajah, memelototi orang itu, menutup mulut dan hidung – dia kembali menghembuskan asap yang semakin banyak dan sekarang mampu menyelubungi Anda. Karena sudah tidak tahan akhirnya Anda menjauh, pindah ke tempat dimana asap rokok itu tidak sanggup menjangkau Anda. Berapa kali? Sekali? Dua kali? Beberapa kali? Sering kali? Kalau iya, berarti Anda bagian ribuan orang yang sepertinya marah namun kesal ga bisa berbuat lebih untuk menghentikan ini.

Uniknya sebanyak 61 daerah di Indonesia sudah memiliki kebijakan Kawasan Tanpa Rokok. Tujuannya untuk mengendalikan dampak merokok. 61 itu terdiri dari 58 kabupaten dan kota serta 3 provinsi yaitu DKI Jakarta, Bali dan Sumatra Barat. Nah harusnya, non-perokok bergembira dengan kabar ini khususnya yang berada di daerah-daerah itu.  Namun faktanya, menurut Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) menyebutkan bahwa jumlah perokok Indonesia terbanyak ketiga di seluruh dunia setelah Cina dan India, di atas Rusia dan Amerika. 4,8 persen dari 1,3 milyar perokok di dunia berasal dari Indonesia. Mencengangkan! Apa yang terjadi dengan Surat Edaran Gubernur No. 440/1333/031/2005 perihal Kawasan Tanpa Rokok (KTR)? Atau dengan peraturan-peraturan daerah lainnya tentang larangan merokok di public space?

Secara pribadi saya adalah tipikal orang yang sangat terganggu kalau ada orang merokok di  dekat saya. Mau menyuruh orangnya matiin rokoknya kayaknya gimana gitu, seakan-akan saya yang punya tempat. Meskipun saya tahu saya berhak melakukan itu dengan alasan saya berhak atas udara yang bersih, namun sepertinya agak aneh melakukannya. You know, kebiasaan orang Indonesia yang justru membalikkan keadaan ‘ kalo lo ga suka ya jangan dekat-dekat’, atau malah kita dianggap aneh ‘ kalo lo ga mau dekat-dekat perokok, jangan hidup di Indonesia’. Terakhir saya ingat berani ambil rokok dari mulut pria yang sedang merokok adalah ketika SMP. Saya sedang berada di angkot yang penuh sesak. Diantara penumpang ada ibu hamil. Tiba-tiba di perjalanan ada pria masuk. Setelah duduk dibangku dekat pintu dia nyalain rokoknya dan wwuuuuss berhembuslah asap itu kedalam kebawa angin. Sebagian besar penumpang mulai resah dan gelisah. Tapi semua diam. Sekali lagi, entah karena segan ‘ini negara perokok’ atau ga tau haknya untuk udara bersih dan helloooo ‘ ini angkot’. Saya udah mulai pusing dan bertahan dikit lagi bisa muntah saya. Lalu saya kumpulkan keberanian dan ngomong ‘maaf ya, ga liat orang udah mulai ga nyaman dengan asap rokoknya, matiin donk…” Dia diam aja. Lalu, karena kesal, saya tarik rokoknya dan buang keluar angkot. Lalu cerahlah wajah seluruh penumpang, kecuali si perokok. Tapi untuk melakukan itu sekarang? Antara saya ga punya nyali dan tau gw bakal di jotos. Terakhir sekali saya ngomong ‘ga bisa merokok di pantri’ ke kru radio tetangga di kantor, saya malah didiamin dan diresponin ‘kata siapa?’.

Lagi-lagi, perilaku merokok ‘kapan dan dimana’ itu bukan masalah tingkat pendidikan dan ekonomi. Itu bicara kesadaran dan empati akan hak orang lain. Harusnya juga kesadaran dan empati terhadap orang lain ini selaras dengan kesadaran akan diri sendiri juga. Apa sih gunanya merokok? Bikin tenang? Kata siapa. Duit habis, paru-paru digerogoti, sakit, lalu duit habis lagi buat pengobatan. Bagaimana bisa seseorang mengandalkan rokok untuk ketenangan sesaat kalau ujung-ujungnya ‘ga tenang dalam jangka waktu yang sangat lama’? Saya, personally, juga berharap kepada pemerintah sungguh mengaplikasikan semua peraturan yang  ada tentang rokok. Sanksi diterapkan dengan tegas seperti di  Singapura. Ketauan merokok ditempat umum yang ada atau tidak ada tanda  ‘dilarang merokok’, yang melihat biasanya langsung telepon polisi dan polisi segera datang memberikan hukuman denda. Anda hanya boleh merokok di tempat yang disediakan.

Tapi seperti kata orang kesehatan dibutuhkan support semua orang untuk mendukung kawasan yang benar-benar tanpa rokok. kalau Anda berada  di situasi itu lagi jangan takut untuk menegur. Alasannya, hak Anda untuk udara bersih.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s