Jokowi : Pemimpin yang Melayani

Jokowi di Bantaran Kali Ciliwung
Jokowi di Bantaran Kali Ciliwung (photo: m.detik.com)

Barang siapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu (Matius 20:27)

Coba Anda bayangkan kalau bus yang Anda tumpangi dikemudikan oleh sopir begini: Beberapa kali melanggar rambu lalu lintas. Harusnya berhenti di saat lampu lalu lintas menunjuk merah dia ngotot nyelonong dan bikin pengendara lainnya beringas karena hampir tabrakan.  Lalu ketika Anda dan penumpang lainnya menegur biar pelan-pelan, eh malah balik marah. Harus kejar setoran, ketus jawabnya. Akhirnya bus yang Anda tumpangi ini menabrak pembatas jalan. Polisi turun tangan dan menemukan masalah lainnya. Ternyata masa berlaku SIM-nya sudah habis. Semuanya dirugikan. Anda khususnya dari segi waktu, uang dan umur. Uang karena Anda harus naik kendaraan lainnya demi sampai di tujuan. Itu artinya bayar lagi. Emang sopir kayak begitu masih sempat mikirin penumpang? Yang ada ongkos Anda tidak dibalikin. Umur? Iya. Sepanjang dia nyetir Anda gelisah dan ketakutan. Pegangan erat-erat ke apapun yang bisa dipegang jaga-jaga kalau terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Kegelisahan dan ketautan Anda otomatis mengurangi umur Anda.

Itu hanya ilustrasi. Saya tidak berharap Anda berada di situasi itu meski mungkin beberapa kali mengalaminya. Kalau sopir dianalogikan dengan seorang pemimpin baik itu pemimpin rumah tangga, kotamadya, negara, atau perusahaan bisa dibayangkan kecelakaan seperti apa yang menimpa ‘para penumpang’ yang dia setiri ini. Indonesia sepertinya mengalami krisis kepemimpinan di banyak lini. Kasus Bupati Aceng yang hot benar-benar merusak kepercayaan masyarakat bahwa masih ada pemimpin yang baik. Alih-alih memimpin daerahnya dengan lurus dan bersih, Aceng malah sibuk nikah siri dengan Fani Oktara yang layaknya jadi anaknya. Begitu sibuknya hingga pernikahan hanya berlangsung 4 hari. Coba, anak-anak muda di Garut akan melihat siapa sebagai panutan ( a leader to look up to) kalau bukan Aceng. Dan kalau seperti ini pemimpinnya mau dibawa kemana Garut? Akan jadi apa pemuda-pemudi disana? Tukang kawin-sirih-lalu-cerai-beberapa-hari-kemudian?

Di Sindo Siang tadi, saya baca tentang seorang pemimpin yayasan keagamaan yang menaungi anak-anak yatim di Tangerang Selatan tega berbuat asusila kepada anak didiknya. Pelaku berinisial MMS (30) itu telah melakukan pelecehan kepada tiga siswi didiknya, yakni SL (16), AL (15), dan AN (17). Kompas.com menyebutkan selama ini MMS dikenal sebagai seorang pemuka agama dan memimpin Yayasan DIA atau yang biasa disebut Istana Yatim di Jalan Cabe, Pondok Cabe, Tangerang Selatan. Ia merupakan pemimpin tertinggi di yayasan khusus anak yatim yang didirikannya pada tahun 2009 tersebut.

Saat ini begitu banyak pejabat pemerintahan di daerah dan di pusat yang terkait kasus korupsi. Ketika media bahkan KPK meng-counter hampir semuanya yakin dirinya tidak bersalah. Yang paling baru dan geger, Andi Malarangeng mundur dari posisi Menpora setelah ditetapkan status tersangka oleh KPK dalam kasus korupsi proyek Hambalang.

Itu semua bukan hal baru lagi di negara ini. Di televisi dan radio hamper setiap hari ada laporan unjuk rasa di depan KPK menuntut pemberantasan kasus korupsi. Baru-baru ini di Morowali warga unjuk rasa karena kawasan cagar alam dijadikan tambang nikel dan itu oleh persetujuan pemerintah daerah. Hal kecil, orang miskin ga bisa hidup sehat karena RS minta kartu ini itu. Kartu ini itu susah diurus karena pegawai kelurahan dan atau kecamatan minta biaya ini itu, yang tentunya memberatkan si miskin. Lama kelamaan masyarakat semakin terbiasa dengan ini. Ada yang terbiasa dangan cara ‘ya udahlah mau apa lagi’. Ada yang jadi ‘ga usah ke kelurahan/kecamatan, pegawainya suka minta ini itu’. Dan bagi banyak orang apalagi orang muda yang sedang belajar mengenal hidup, ini menjadi sebuah system yang sudah selayaknya diikuti.

Dan kaget-kagetlah warga Jakarta ketika Jokowi jadi Gubernur dan Basuki jadi Wakil Gubernur. Ada yang tidak biasa dari kedua orang ini. Pagi-pagi sebelum jam 8 sudah di kantor. Yang satu blusukan kerjaannya dari kampung kumuh satu ke kampung kumuh lainnya. Terus, ga bilang-bilang, kunjungan ke kantor kelurahan  Senen. Jam 9 pagi kantor masih kosong, eh terkunci. Lurah ga ada. Staff lainnya, ya ikut kebiasaan pemimpinlah.  Yang satu lagi tidak takut-takut menemui buruh yang berdemo di depan Balai Kota dan ngobrol kayak teman – mengingat kebanyakan pemimpin di negara ini selalu menghindari ketemu pendemo. Kedua orang ini bukan seperti pemimpin. Tunggu! Tunggu! Memang pemimpin itu harus gimana? Ini jawaban gelembung-gelembung pengingat di kepala saya : yah taulah, duduk di belakang meja terima laporan, tanda tangan setiap  usulan rencana keuangan, ngantor agak telat ga apa-apa kan boss, pakai fasilitas mewah dan berkelas – kan boss.

Nah! Itu bukti kalau Negara ini sudah lama mengalami krisis kepemimpinan. Hingga gaya kepemimpinan seorang pemimpin – meski salah – bisa dianggap suatu kebenaran karena sudah terlalu lama turun temurun seperti itu. Contoh, sudah terlalu lama masyarakat diperdaya pemerintah daerah sebagai pelayan rakyat tetapi tidak berlaku demikian dalam berbagai macam urusan pelayanan publik. Harusnya bikin KTP gratis tetapi oknum tertentu menarik biaya-biaya tambahan. Masih banyak urusan pelayanan public lainnya yang akhirnya ‘diperjualbelikan’ atau disalahgunakan oknum tertentu. Kepala pemerintahan yang tutup mata akan hal ini menjadikan system ini berjalan baik tak tersentuh dan tak bisa dilawan oleh penerima layanan public – saya, Anda.

Jadi apa yang dilakukan Jokowi dan Basuki ini bukanlah hal yang wooow kalau merujuk pada makna kepemimpinan yang sebenarnya. Di Alkitab pemimipin harus mempunya sifat dasar : Bertanggung jawab, Berorientasi pada sasaran, Tegas, Cakap, Bertumbuh, Memberi Teladan, Dapat membangkitkan semangat, Jujur, Setia, Murah hati, Rendah hati, Efisien, Memperhatikan, Mampu berkomunikasi, Dapat mempersatukan, serta Dapat mengajak. Di dalam Islam seorang pemimpin haruslah mempunyai sifat:1. S1DDIQ artinya jujur, benar, berintegritas tinggi dan terjaga dari kesalahan.
2. FATHONAH artinya cerdas, memiliki intelektualitas tinggi dan professional. 3. AMANAH artinya dapat dipercaya, memiliki legitimasi dan akuntabel. 4. TABLIGH artinya senantiasa menyampaikan risalah kebenaran, tidak pernah menyembunyikan apa yang wajib disampaikan, dan komunikatif.

Basuki memimpin rapat dikantornya
Basuki memimpin rapat dikantornya (photo: metro.news.viva.co.id)

Intinya mirip. Seorang pemimpin haruslah bisa dipercaya oleh rakyatnya, itu sebabnya dia dipilih. Namun seorang pemimpin juga harus menjaga kepercayaan itu dengan menjadi teladan. Seorang pemimpin bisa menjadi teladan kalau dia jujur, bertanggungjawab, rendah hati dan semua sifat diatas. Untuk seorang pemimpin agar tetap rendah hati dia harus merakyat dan berempati dengan apa yang dialami rakyatnya agar programnya tepat sasaran. Kalau harus mengurangi anggaran belanja daerah, kenapa tidak. Kalau itu harus dilakukan dengan blusukan ke kampong-kampung dan ngobrol dengan rakyatnya, silahkan. Saya ingat bukan Jokowi yang pertama melakukan itu. Yesus  telah melakukan itu lebih dari 2000 tahun yang lalu. Dia berjalan dari daerah satu ke daerah lainnya bercerita tentang kerajaan Allah kepada orang-orang dan ngobrol dengan mereka. Disela-selanya, dia melakukan banyak mujizat, menyembuhkan orang-orang dengan berbagai penyakit dan semakin banyak orang mengikutinya. Kebanyakan mereka adalah orang miskin. Kenapa? Bukan karena dia kaya. Tapi karena dia ada untuk orang miskin. Dia melayani mereka sepenuh hati.

Jokowi melakukan itu. Dia menjadi jongos rakyatnya. Bukankah Tuhan Yang Maha Esa memilih Musa, Nabi Muhammad dan pemimpin-pemimpin lainnya di sejarah keagamaan untuk melayani umat-Nya? Melayani. Bukan dilayani. Gaya kepemimpinan Jokowi – Basuki ini menjadi wooow dan selalu jadi bahan pembicaraan karena sudah lamaaaaaa sekali ga ada pemimpin kayak begini – yang ideal, yang sebenarnya, yang seharusnya menjadi tradisi turun temurun.

Jadi bergembiralah, Anda sebagai penumpang ga perlu kuatir uang, waktu dan umur berkurang. Karena sopirnya melihat lurus kedepan dan ke kaca spion. Keneknya juga ga suka menahan duit kembalian penumpang. Tapi sebagai penumpang, jangan tidur aja, ingatin juga supir dan keneknya untuk jaga supaya bisa nyetir lebih lama.

 

Kebon Sirih, December 11, 2012

Advertisements

2 thoughts on “Jokowi : Pemimpin yang Melayani

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s