SEPUCUK SURAT DARI ARAB SAUDI

-Surat dari seorang TKW terancam hukuman gantung kepada anak perempuannya di Jogjakarta.-
Anakku tersayang,
Tidak terlukiskan betapa bahagianya ibu mendengar suaramu seminggu yang lalu. Sesaat semua kepedihan ibu sirna dan teringat kembali alasan ibu harus meninggalkanmu 10 tahun yang lalu. Semuanya terbayar sekarang. Ibu minta maaf baru menulis surat ini sekarang. Beruntung ada staf KBRI yang mau menyelundupkan kertas dan pena ini. Katanya mungkin 2 minggu surat ini sampai ditanganmu, atau mungkin sebulan. Itu artinya… Aah, sudahlah. Itu tidak penting sekarang.
Nak, sejak detik pertama ibu memelukmu di pangkuan ibu, ibu merasa dunia ibu sudah lengkap dan sempurna. Kamu tau, kamu meremas telunjuk ibu dengan jemarimu yang mungil. Matamu bersinar. Saat itu ibu tau kamu akan jadi perempuan yang hebat. Ibu berjanji kamu harus sekolah yang tinggi biar ga kayak ibu. Hanya jadi tukang cuci dan setrika. Bayarannya kecil dan selalu terlambat. Ibu pernah coba melamar kerja di toko-toko atau swalayan itu, tapi mereka tidak mau menerima ibu. Katanya ibu tidak tau pake computer. Akhirnya ibu kerja di beberapa rumah dalam sehari biar duitnya cukup buat makan dan beli perlengkapan sekolahmu. Setoran ojek ayahmu ga selalu ada. Kamu tau hampir semua laki-laki yang ga kerja saat itu ngojek.
Suatu hari ibu ketemu seorang teman semasa SD. Sudah lama sekali ibu tidak melihatnya. Ternyata dia baru pulang dari Hongkong. Katanya dia kerja disana. Jadi TKW. Gajinya banyak dan majikannya baik. Dia tanya apakah ibu mau ikut dia. Ibu pikir-pikir kalau ibu pergi ibu tidak akan bisa melihatmu tiap hari. Tapi ibu pikir-pikir lagi, ibu harus cari duit yang banyak untuk menyekolahkanmu. Ibu bingung sekali saat itu. Ayahmu bilang ibu harus pergi demi kamu.
Rasanya berat sekali pergi. Kamu seperti cahaya dalam hidup ibu dan ibu harus meninggalkan cahaya ibu. Tapi tidak ada pilihan lain. Ibu minta maaf nak, harus meninggalkanmu secepat itu. Akhirnya ibu dibawa ke penempatan dan perlindungan TKI, apa itu namanya? Ibu memilih ke Hongkong, seperti teman ibu. Tapi ternyata ibu ga lolos ujian. Katanya ada syarat-syarat tertentu kalau ke Hongkong. Lalu ibu pilih ke Arab Saudi.
Semuanya berbeda di Arab Saudi. Majikan pertama ibu sangat kejam. Ibu hanya dikasih makanan sisa. Terlambat bangun dipukul. Makanan kurang garam dipukul. Pakaian kusut sedikit dipukul. Lantai tidak cepat kering habis dipel juga dipukul. Hampir semua yang ibu lakukan salah. Ibu tidak diperbolehkan punya henpon. Ibu hampir menyerah. Namun ibu ingat alasan ibu kesini. Kamu…cahaya ibu. Itu membuat ibu tidak memperdulikan siksaan itu. Ibu harus cari cara biar bisa mengirim kabar ke ayahmu.
Selama 10 tahun ini ibu sudah berpindah majikan beberapa kali. Semuanya hampir sama. Majikan ibu yang terakhir adalah malapetaka buat ibu. Ibu tidak mengerti mengapa dipertemukan dengannya. Padahal seumur hidup ibu merasa selalu menjadi orang yang tidak macam-macam, berusaha bersikap baik pada semua orang, ibu juga rajin berdoa dan tidak pernah membalas kelakuan jahat orang lain. Ibu tidak mengerti mengapa hidup ini tidak adil pada ibu. Ibu tidak tau apa salah ibu. Suatu hari suami majikan ibu tidak pergi kerja jadi hanya ada dia dan ibu di rumah. Ketika ibu sedang di kamar dia masuk. Dia mulai memaksa membuka pakaian ibu. Ibu teriak ketakutan dan minta tolong berharap ada yang dengar dan membebaskan ibu. Namun tidak ada. Dia merusak ibu. Begitu terus sampai beberapa lama. Suatu hari istrinya pulang dan memergoki. Lalu suaminya mulai menampar ibu dan bilang ibu menggodanya. Sejak saat itu mereka berdua tidak pernah berhenti menyiksa ibu. Ketika mereka menemukan henpon yang ibu selundupkan untuk bisa mengsms ayahmu, siksaan itu semakin berat. Setiap hari ibu dipukul, ditendang, dan dicambuk pake ikat pinggang. Makan hanya 1 kali sehari. Ibu tidak diperbolehkan keluar rumah. Gaji ibu tidak dibayar. Ibu tidak kuat lagi. Hari Sabtu, entah tanggal berapa itu di bulan Oktober, majikan ibu sedang ke rumah tetangga dan suaminya sedang tidur siang. Ibu benci dan jijik sekali melihatnya. Ibu ambil pisau yang paling tajam dan ibu tusuk dia beberapa kali.
Selama di kurungan ini ibu banyak merenung. Kamu, cahaya ibu, adalah orang yang pertama ibu harus meminta maaf. Ibu minta maaf telah membuatmu malu memiliki ibu pembunuh. Ibu minta maaf tidak pernah ada untukmu mengantarmu ke sekolah dan melihatmu tumbuh menjadi perempuan yang cantik. Harusnya ibu bisa bertahan demi kamu, cahaya ibu, tapi ternyata ibu tidak kuat. Ibu gelap mata. Maafkan ibu, nak. Maafkan…
Anakku sayang,
Waktu ibu hanya beberapa minggu. Kata staf KBRI itu, diyat yang mereka tawarkan demi menolong ibu tidak diterima. Ibu menyesal tidak bisa menyaksikanmu wisuda. Ibu bangga kamu menjadi lulusan terbaik. Ibu yakin kamu akan menjadi wartawan yang hebat. Tulisanmu akan bersinar sebagaimana kamu selalu menjadi cahaya bagi ibu. Ibu titip ayahmu ya, nak. Dia adalah cinta pertama ibu dan yang terakhir. Dia selalu setia pada ibu dan telah menjadi ayah yang sangat hebat untukmu.
Ingatlah, kamu adalah alasan ibu hidup, bertahan dan berjuang selama ini. Kamu telah dan selalu menjadi cahaya bagi ibu. Mulai sekarang kamu akan jadi cahaya bagi banyak orang. Ibu menyayangimu, sepenuh hati…

Ibumu,
Rukinah

Note:
Tulisan ini terinpirasi dari wawancara saya dengan staf Kemenlu dan Kemenakertrans tentang proses negosiasi pembebasan seorang TKI di Arab dan Malaysia yang terancam hukuman mati. Kelompok HAM yang memantau hukuman pancung di Arab SAudi adalah Amnesty International. Lembaga pemantau yang berpusat di London ini menyebut, tahun 2010 Saudi memancung 27 orang. Tahun 2011, 28 orang juga telah dipancung. Sebanyak 15 orang dipancung pada bulan Mei sendiri. Sedangkan pada tahun 2009, jumlah yang dieksekusi mencapai 67 orang, sedangkan pada 2008 sebanyak 102 orang. Amnesty International mendesak pemerintah Saudi menghentikan hukuman mati. (sumber: http://www.suaramerdeka.com)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s