Mencari Rumah Sakit Wakil Tuhan di Bumi

Setiap hari selama seminggu ini rasa sayangku kepada Zano bertambah. Seperti air sungai Ciliwung yang bertambah debitnya karena hujan tidak berhenti dan akhirnya meluap. Rasa tidak ingin kehilangan, rasa bersyukur yang terucapkan dan tak terlukiskan bercampur. Semua karena rasa marah, geregetan dan sedih akan peristiwa yang terjadi selama hampir 3 minggu belakangan khususnya seminggu ini.

Sabtu, 16 Februari 2013, bayi Dera Nur Anggraini (6 hari) meninggal dunia karena lambannya respon rumah sakit. Diduga 10 rumah sakit yang didatangi menolak dengan alasan ruang neonatal intensive care unit (NICU), ruang perawatan bagi bayi baru lahir yang memiliki gangguan kesehatan, sudah penuh. (Sumber: KOMPAS )

Foto : Liputan6.com
Foto : Liputan6.com

Senin, 18 Februari 2013, nyawa Zara Naven (3 bulan) tak tertolong karena keterbatasan biaya. Bocah malang yang mengalami kelainan jantung itu sempat dirawat selama dua bulan di satu rumah sakit Harapan Kita Jakarta. Tapi keterbatasan Jamkesda dari Pemkot Depok membuatnya tak bisa menjalani operasi. (Sumber: LIPUTAN6 )

Rabu malam, 20 Februari 2013, bayi Upik yang baru dilahirkan dinyatakan meninggal oleh bidan Rumah Sakit Bersalin Kartini. Ketika dibawa pulang oleh sang ayah dan akan dimandikan, tukang mandiin jenazah mengatakan bahwa bayi Upik masih bernafas. Haaa???!! Akhirnya Upik dilarikan ke RS Kartini sekitar pukul 20.00 WIB. Di sana tidak ada dokter, hanya ada bidan. Rumah sakit memberikan tindakan dengan memberikan nafas bantuan dengan oksigen. Pada pukul 23.00 WIB, rumah sakit memberitahu kepada Alizuar bahwa alat yang ada tidak memadai sehingga bayi harus dirujuk ke beberapa rumah sakit. Pihak RS mengatakan kalau memang ketemu rumah sakit rujukan harus Down Payment (DP) Rp15 juta. Karena tidak sanggup dengan biaya yang sangat amat mahal, anaknya tidak bisa terselamatkan lagi, dan meninggal pada pukul 23.15 WIB. Pihak rumah sakit lalu memberikan surat keterangan meninggal dengan data yang tidak lengkap dan terkesan asal-asalan, seperti jenis kelamin yang aslinya perempuan tetapi ditulis laki-laki. (Sumber: VIVA )

JUmat lalu, 15 Februari, Mohammed Hareez (4 bulan, Kuantan, Malaysia) mengalami perlakuan kekerasan yang sangat kejam dan brutal dari pembantunya yang berasal dari Indonesia. Hareez diangkat lalu dijatuhkan berkali-kali ke karpet/kasur tipis di lantai tempat dia digantiin baju. Pemandangan yang sangat menyayat-nyayat hati ibu manapun di dunia ini. (Sumber: ASIAONE.COM )

Belum lagi, Fatir Muhammad (1 tahun, Makassar) yang saat ini masih kritis setelah operasi pengambilan peluru yang bersarang di otak kecilnya. (Sumber: VIVA )

Berita-berita itu begitu membuat saya terguncang. Beberapa kali saya harus menahan air mata tidak turun ketika menyiarkan semua itu. Beberapa kali juga saya harus bersikap professional menahan suara supaya kedengaran tidak sedang menahan tenggorokan seperti tercekat karena menahan tangisan pilu itu. Beberapa hari lalu saya rela genjot-genjotan di KRL ekonomi ke Bogor demi cepat sampe rumah (karena itu kereta pertama yang dating) hanya supaya bisa cepat2 peluk anak saya dan main dengannya. Saya bayangkan perempuan-perempuan ini menanggung pilu yang teramat sangat sekarang. Ibu Dera yang belum sempat menyusui Dara (kembaran Dera) yang masih di incubator, akhirnya harus masuk rumah sakit lagi karena stress dengan kejadian ini.

Cinta dan sayang itu melampaui segala hal. Miskin, kaya, pemulung sampai presiden, semuanya akan melakukan segala hal atas nama cinta dan sayang. Namun tidak demikian yang terjadi. Pembuat dan pelaksana kebijakan di Negara ini ternyata tidak cukup cinta dan sayang pada warga negaranya, apalagi yang miskin. Dari dulu sampai sekarang (apalagi) orang tidak mampu/miskin selalu jadi korban kecarutmarutan system di Negara ini. Orang miskin ga bisa dapat pelayanan kesehatan yang layak – yang layak aja dulu, ga usah yg bagus. Orang miskin ga bisa dapat pendidikan yang layak, lagi-lagi. Semua karena DUIT. Jadi UUD 45 Pasal 34 yg bilang Fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh Negara, sudah tinggal tulisan aja sekarang. Usang, lecek.

Mau dimana lagi warga Negara mendapat perlindungan kalo bukan dari pembuat dan pelaku kebijakan ini? Penguasa dipercaya Tuhan untuk jadi wakilnya memerintah umatnya di bumi. Tenaga medis adalah tangan kanan Tuhan untuk membantu manusia. Tapi nyatanya…berita-berita diatas sudah cukup membuktikan sampai dimana dedikasi mereka pada tugas yang diembankan kepundaknya. NULL.

Okee, Jokowi dan PA akhirnya memperjuangkan. Kemenkes akhirnya investigasi. Setelah ada korban dulu. Mungkinkah kita berubah? Kita adalah bangsa yang cerdas. SEharusnya bisa menciptakan system yang cerdas pula. Bagaimana kita akan menciptakan dunia yang lebih baik bagi generasi penerus – balita-balita, bayi-bayi yang baru saja lahir, sedang dikandung – kalo system yang sekarang saja tidak pernah bisa menjawab kebutuhan masyarakat?

 

Tebet

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s