Ayah, Benarkah Yesus Mati Karna Aku?

Langkah cepat gadis kecil itu berubah jadi lari. Nafasnya beradu, rambutnya berkibaran melawan angin, tangannya memegang tali ransel yang bertengger di punggungnya. Sesekali sepatu kets berwarna biru kuning itu membentur kerikil yang agak besar bikin dia hampir terjatuh. Namun dia terus berlari semakin kencang. Airmata mulai membasahi pipinya. Sambil terus berlari dia terisak-isak. Dia merasa bersalah dan dia harus melakukan sesuatu untuk itu.

“Prang!” pagar rumah yang cukup berat untuk seusianya dia dorong sekuat tenaganya dan membentur tembok disampingnya. Dia tercekat dan berhenti. Dia berbalik ke arah pagar dan tembok. “Maaf ya Gar, maafin Utet ya Embok, sakit yaa…nanti Utet obatin ya,” terisak dia mengelus pagar dan tembok yang catnya sudah usang.

“Ayyyyaaaaaaaahhhhh!!!” teriaknya ga tahan lagi. Tangisnya pecah.
Sang ayah, yang baru saja selesai mandi, sedang menikmati secangkir teh dan roti bakar sebelum berangkat ke ibadah Minggu Paskah. Dia kaget sekali seakan jantungnya melompat. Putri sulung dan kesayangannya menangis. Ada yang salah nih. Sang ayah segera bangkit dan setengah berlari menyambut putrinya yang tangisnya semakin kencang lalu menggendongnya. ‘Duuhh, sudah berat sekali kau, nak!’ pikirnya tapi tak mengapa. Tangisan itu keliatan lebih berat.

“Butet kenapa nangis, inang*?” tanyanya lembut sambil menghapus airmata dari pipi Utet.
“Utet bikin salah…hiks…Utet ga mau dia mati…hu..uuu..uuu”
“Hah! Siapa yang mati?! Utet salah apa?!” ayahnya panik. Gadis kecilnya mem…oh noo! Melanjutkannya saja dia ga berani. Ga mungkin!
“Benarkah Yesus mati karena Utet, Yah?”
hhhhhhh…ayahnya lega selega-leganya. Itu tooohh. Tapi ini berat nih.
“Kenapa Utet bilang begitu?”
“Kata Ka’ Dani Yesus mati untuk ngapus dosa manusia…itu kan berarti…hiks…karena Utet…huuu…uuu…” tangisnya meledak lagi.
Si ayah menatap gadis kecilnya terharu. Mendekapnya lebih erat dan merasakan jantung Utet berdetak kencang. Dia baru saja masuk semester kedua di tahun pertama sekolah dasar, bagaimana dia bisa berpikir sampai kesitu. Dan bagaimana pula aku harus menjawabnya, pikirnya.

Yesus mati (foto:paulusdarmawan.blogspot)
Yesus disalibkan

“Hmm…sayaang, kalau ayah minta tolong sama Utet, Utet mau ga?”
“Mau…” masih terisak.
“Kenapa?” ayahnya tersenyum.
“Karena…Utet sayang ayah” tangisnya mulai berkurang.
“Hmmm…ingat ga si Manis, kucing kesayangan ayah?”
“ingat…Utet juga sayang banget ama si Manis”
“Nahh, ingat ga bulan lalu waktu dia kejebak di selokan yang dekat lapangan bola? Selokannya udah kering, si Manis masuk ampe ke dalam. cari apa yaa dia waktu itu?…hmmm…nah, tapi kan selokan itu udah hampir ketutup semua, cuma ada lobang kecil. Ayah coba masuk ga bisa karena lobangnya terlalu kecil untuk badan ayah.”
“Iya…Utet ingat, trus Utet bilang biar Utet aja yang masuk! Kan badan Utet masih kecil” tangisnya berhenti, senyumnya merekah.
“Utet kenapa mau masuk waktu itu?”
“Karena kata ayah kayaknya ekor si Manis kejerat kawat duri, trus Utet liat Ayah sedih. Utet sayang ayah, Utet juga ga mau si Manis kesakitan begitu.”
“Tapi ayah sedih waktu Utet masuk situ, Utet jadi kotor, tangan Utet juga luka kena kawat durinya.”
“Utet gapapa kok yah, yang penting si Manis selamat…kan lukanya juga udah sembuh…nih, tinggal bekasnya doang” dia tunjukin bekas-bekas luka di jemari tangannya.
Si ayah tersenyum, gadis kecilnya memang hebat.
“Utet,apa yang Utet lakuin itu sama seperti Yesus juga. Utet rela luka demi selamatin si Manis dan karena sayang sama Ayah. Yesus juga begitu, Dia tau hanya dia yang bisa selamatin manusia, jadi dia rela mati demi kita. Bapanya juga sedih kok waktu ngirim dia ke dunia, sama kayak ayah sedih dan kuatir waktu kamu masuk lobang itu.”
“Tapi kenapa Yesus harus mati, yah? Kan Dia orangnya baiiikkk banget. Kenapa ga cuma luka-luka aja?”

Ayah berpikir gimana jelasinnya. Dan masih berpikir…
“Mungkin bunda tau jawabannya, nanti kalo bunda pulang kita tanya yaa?”
“hmmm…okee..”
“Tapi ada kabar baiknya kan, Yesus hidup lagi trus lukanya juga sembuh, tinggal bekas doang…sama kayak ini…” dia cium dan pura-pura menggigit jemari Utet. Utet tertawa geli. ‘Ah, senangnya dia sudah tertawa lagi’ batin ayahnya.
“Tapi yah, bekas luka Utet ini bakal ilang ga?”
“hmmm…mungkin saja. Tapi ayah pikir, kalo ga ilang ayah tetap bangga kok sama Utet. Luka itu tanda Utet pernah nyelamatin nyawa orang lain….”
“Kucing yah, bukan orang…”
“hahahahaha…iya yaaa…” sambil dia gelitikin Utet dan mereka tertawa bahagia.
Bahagia Yesus telah mati dan bangkit kembali.

Yesus bangkit (foto: sangsabda.org)
Yesus bangkit (foto: sangsabda.org)

Selamat Paskah
Tebet, ditulis 29 Maret 2013

*Bahasa Batak, inang arti harfiahnya ibu. Namun sering digunakan sebagai panggilan sayang kepada anak perempuan yang masih kecil.

Yesus mati (foto:paulusdarmawan.blogspot)

Advertisements

2 thoughts on “Ayah, Benarkah Yesus Mati Karna Aku?

  1. Selamat Paskah Sista juga untuk Utet..
    cantik banget mengambil perumpamaanu tentang penderitaan Yesus dan kucing yang kejebak di selokan.
    jadi mbayangin si Utet yang pinter…hehehehe…

    🙂

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s