Menjadi Anak-anak Terang

@vinabutarbutar
@vinabutarbutar

Beberapa hari ini warga Jakarta dan mereka yang terhubung dengan warga Jakarta via bbm dihebohkan dengan berita tentang keberadaan seorang pria yang berkeliaran di Jakarta Selatan membunuh anak-anak dan perempuan untuk menambah ilmunya. Kemarin berita itu saya baca pertama kali lewat broadcast seorang pendengar. ‘Sindo, mohon konfirmasi kebenaran berita ini, karena ini sangat meresahkan.’ Begitu isinya. Hal pertama yang muncul di benak saya adalah anak saya dan pengasuhnya dirumah. Kata berita itu, pembunuh ini sudah di Pasar Minggu. Kalau Anda seorang ibu, punya anak kecil dan perempuan pula, dan bekerja di luar rumah, bagaimana reaksi Anda? Kedua, sebagai pelaku media, saya wajib memberikan jawaban yang benar dan dari sumber terpercaya. Cari di situs-situs berita, ga ada. Tanya ke produser juga belum ada yang bisa konfirmasi.

Beberapa saat kemudian saya sudah lupa berita itu. Tadi malam ketika saya dalam perjalanan pulang ke rumah, saya cek twitter. Di timeline tempo.co ada beritanya ternyata dan baru diterbitkan. Pihak kepolisian sudah mengonfirmasi bahwa berita itu hoax. Bohong. Buat-buatan orang aja. ‘Masa’ sudah 40 orang dibunuh tapi ga ada laporan?’ Begitu kira-kira isinya. Seketika saya teringat lagi setelah terlupakan dan seketika ikutan lega, sedikit aja tapii, karena saya mulai belajar untuk tidak mau terpengaruh berita-berita negative.

Satu hal tiba-tiba terpikir bahwa dunia ini memang tempat pertarungan yang paling laris antara si baik dan si jahat. Betapa si positif masih berjuang teramat sangat keras menaklukkan si negative. Dan betapa berita positif itu terdengar seperti kecepatan bekicot sementara berita negative itu bisa tersiar seperti kecepatan cahaya dan menebarkan intimidasi ketakutan lalu menyisakan hampir tidak ada energy positif pada yang disinggahinya. Itu fakta saat ini. Manusia bisa berlama-lama sampai berhari-hari membicarakan gossip buruk tentang seseorang atau sesuatu dan mengulangi lagi lalu menambahkan asam dan cuka hingga berita itu semakin seru. Namun cerita yang baik bisa terdengar hanya beberapa menit saja, di-woow sejenak, dan lalu menguap begitu saja.

Saya juga sadar masih begitu. Namun kita bisa mengubahnya, bersama-sama. Lebih banyak lagi berbuat baik. Sering-sering menggosipkan yang positif dan menyiarkannya ke seluruh penjuru bumi. Ingatkah, betapa hati kita bersorak riang ketika menyaksikan anak kita mulai berbicara? Rasakan mata berair karena terharu karena seorang guru di NTT sana memberikan hatinya untuk pendidikan dengan fasilitas minim. Itu hal-hal kecil yang baik yang bisa kita broadcastkan dan gosipkan. Saya yakin semakin banyak kebaikan tercipta, semakin sering hal positif diperdengarkan, si jahat yang akan terintimidasi, kabur dan menguap.

‘Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu.’ Fil 4:8

Tebet, June 4, 2013

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s