IBU-IBU, UNTUK INDONESIA LEBIH BAIK

Kebayang ga kalau manusia ga dikaruniai emosi? Mungkin bumi ini hanya akan dipenuhi ‘robot’ ya. Berkeliaran kesana kemari dengan wajah flat. Hubungan intim pria dan wanita pun kayaknya hanya sebatas kewajiban demi memenuhi bumi tanpa ada rasa ketika proses itu berlangsung. Bahkan ketika si bayi lahir, biasa aja. Tak ada tetes air mata, nihil senyum, dan bayi-bayi baru lahir langsung dikirim ke sebuah lokasi dimana newborn babies dibesarkan sama cara sama gaya. Flat!

Tapi manusia ga seperti itu. Kita dikaruniai emosi. Thank God, kita punya Tuhan yang juga memiliki itu. Ketika Adam dan Hawa ciptaan-Nya itu melanggar aturan, Dia kecewa. Hubungannya dengan ibu-ibu?

ibuku, aku, dan putriku
ibuku, aku, dan putriku

Beberapa saat belakangan ini saya sampai pada satu pemahaman bahwa ibu-ibu itu ga ada duanya. Saya mau bilang ‘belum ada orang yang setangguh dan sebijak ibu-ibu’. Berlebihan? Biarlah kusebut begitu. Kalau mau protes, monggo. Pada kasus kebanyakan, kita persempit dulu pada perempuan yang ingin punya anak, dia yang pertama merasakan sesuatu terjadi pada tubuhnya. Dan itu saja sudah bikin riang bukan kepalang. Sudah mulai bikin daftar aturan do’s dan don’t dan blab la bla. Kita perlebar pada perempuan yang berjuang untuk punya anak dan lalu memutuskan untuk adopsi. Dari pengamatan atas seorang sahabat yang mengadopsi dan pengalaman saya sendiri melahirkan, rasa istimewa yang ditimbulkan oleh kehadiran newborn baby ini sama pada setiap ibu-ibu, walau pada prosesnya dampaknya berbeda.
Pada ibu yang melahirkan anak, hubungan emosi itu semakin meningkat melalui pemberian ASI. Tapi apakah sampai disitu saja? Tidak. Sentuhan, percakapan dalam bahasa senyam senyum, tidur bersama. Itu hanya bagian kecil dari proses pengembangan hubungan emosi antara si ibu dan bayi.

Yang paling bahagia lihat anak pertama senyum, bicara, melangkah, menari, menyanyi juga kebanyakan adalah ibu dan cerita ini bisa sampai ke ujung bumi dia kabarkan, ga pake capek dan ga dibayar.

But when it comes to pay a price or to sacrifice, lagi-lagi adalah ibu. Berapa banyak diantara Anda yang memutuskan untuk meninggalkan (sementara atau sudah cukup lama) mimpi-mimpi dan cita-cita jadi wanita karir dan jadi ibu Rumah Tangga demi anak? Atau sebaliknya, berapa banyak diantara Anda yang memutuskan menyewa babysitter atau pembantu untuk menjaga anak dirumah agar Anda bisa mencari penghidupan yang layak demi masa depan anak Anda? Yuk, kita ngacung rame-rame. Nangis rame-rame juga ga papa.

Jadi saya perjelas lagi mengapa saya bilang ‘belum ada orang yang setangguh dan sebijak ibu-ibu’.

Pertama, ibu-ibu yang rela meninggalkan mimpi-mimpi dan cita-cita demi membesarkan anak, ga kebayang betapa besar pengorbanan yang dia lakukan. Sekolah tinggi, karir sudah mulai menanjak atau mungkin sudah dipuncak, perasaan dan kebutuhan akan pentingnya berkarya dan aktualisasi harus di-cut sedemikian banyak. Ada pria yang seperti ini? Ada. 1 mungkin tapi itupun hanya bertahan maksimal sebulan.

Kedua, ibu-ibu yang memilih bekerja full time sebagai wanita karir. Berat lho meninggalkan anak seharian dengan babysitter/pembantu dan mengetahui tidak semua milestone anak bisa dia saksikan. Lalu ketika pengasuhnya cerita ‘bu, tadi adek bisa begini begitu…’, senang tapi sedih rasanya ga bisa menyaksikan itu langsung. Dan lalu sang ibu berusaha menyediakan waktu berkualitas di akhir pekan padahal dia sendiri dipastikan juga ingin istirahat. Keputusan berat dan pengorbanannya besar.

Tapi kabar baiknya ibu-ibu dengan pilihan apapun diantara kedua itu dan sungguh-sungguh memberikan yang terbaik bagi keluarganya, tidak pernah merugi. Tuhan tidak tutup mata. Beberapa saat lalu, saya wawancara Dian Khrisna, kalau Anda ingat mantan presenter Metro TV, dulu adalah Putri Indonesia 2003 dan Mrs. Indonesia 2009. Dia memutuskan meninggalkan karirnya untuk membesarkan anak, full time mother, kalo dia nyebutnya Homeland Engineer (hahayy…canggih 😀 ). Dengan karir begitu, berat ga sih? Pasti dong, tapi dia rela. Tapi ketika waktunya tiba, dia bersinar lagi: jadi salah satu kontestan The Apprentice Asia. So inspiring, sangat supel dan rendah hati.

Jadi tolong, para suami, mertua, tante, oom…dukunglah ibu-ibu ini, yang sudah berkorban besar tapi tetap berusaha memberikan yang terbaik saja bagi anak dan suami. Hindari menghakimi jikalau mereka masih belum sempurna ketika mengasuh anak, atau ketika waktu yang bisa diberikan hanya di akhir hari atau di akhir pekan. Tolong, put yourself on her shoes…biar tau rasanya jadi ibu.

Anda mendukung seorang ibu, maka Anda menjadikan Indonesia lebih baik.

untuk semua ibu, jempolku yang berkutek cantik untukmu 😀

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s