Kampret! Saya kan Lebih Tua!

Suatu sore yang cerah di musim hujan. Saya melompat masuk ke krl jurusan Jakarta Kota – Bekasi dari stasiun Gondangdia. Di gerbong biasa seperti orang lain yang menjalani hidupnya sebagai rutinitas. Kursi panjang krl terisi semua. Hanya kursi prioritas yang masih menyisakan ruang untuk 2 atau 3 orang lagi. Tanpa pikir panjang saya langsung duduk. Di kursi prioritas di depan saya ada seorang pria dan seorang perempuan. Si perempuan tampak sudah berusia setengah abad jadi layaklah dia disitu. Si pria masih muda seperti saya dan tidak hamil, jadi tidak seharusnya duduk disitu dan disini. Disamping saya ada sepasang suami istri (atau mungkin masih kekasih, whatever!). Oh, sama tidak layaknya dengan saya. Tapi tunggu dulu. Si perempuan mungkin sedang hamil. Bukankah kursi prioritas salah satunya untuk perempuan hamil? Lagipula dia bergelayut manja ke bahu si pria.

Saat petugas mengumumkan kereta akan tiba di stasiun Cikini, si perempuan memiringkan tubuhnya kearah si pria, menggandeng tangannya, mencari posisi uenak lalu menutup matanya. Kok saya kepo banget sih? Kok ga ikut-ikutan tutup mata aja? Gini pembaca sekalian. Kalau ga ngantuk saya ga akan paksain mata untuk menutup, demi alasan apapun. Plus, saya tau diri duduk dimana.

Tibalah kereta di Stasiun Cikini. Pintu terbuka dan berhamburan masuk manusia yang kecapean bekerja. Apalagi kereta jurusan Jakarta Kota-Bekasi sepertinya telat dari jadwal, jadi penumpang lebih banyak dari biasa. Biasanya saya masih bisa duduk. Dua orang perempuan yang sudah berumur tersenyum mengucapkan terimakasih pada saya dan pria muda depan saya setelah kami memberikan tempat duduk. Lalu saya pindah dan berdiri di sisi kursi yang lebih panjang. Penasaran, saya melirik lagi ke arah kursi saya duduk tadi. Si pria masih duduk dan tidak menutup mata dengan tangan si perempuan masih pada posisi yang sama, mengunci. Didepan mereka berdiri manusia-manusia yang dari penampakan saja sudah terlihat berada dalam daftar prioritas. Sejenak ibalah hati ini melihat pemandangan itu. Saya bayangkan yang berdiri itu ibu atau bapak saya. Ah, sudahlah.

Baru saja mau nyibukin diri dengan gadget, tiba-tiba ada yang menahan teriak melintas dibelakang saya.

“Kampret! Saya kan lebih tua! Enak-enakan tidur! Ga punya kesadaran…” suara itu perlahan menjauh dan tertutup suara pengumuman petugas kereta. Ternyata dua orang perempuan berumur yang sebelumnya berdiri didepan pasangan disamping saya. Mereka berlalu ke arah berlawanan dengan wajah kesal dan mengeluh. Seperti saya, manusia-manusia yang sedang bergelantungan ikut memiringkan kepala ke sumber suara. Dan seperti saya juga, deretan kepala ini serta merta menilik ke lokasi yang sedang dikeluhkan kedua perempuan ini. Si pria baru saja berdiri, mempersilahkan seorang perempuan duduk, membenarkan posisi jaketnya lalu berdiri di depan pasangannya. Pasangannya masih menutup mata. Saya berpikir positif, mungkin benar dia hamil.

“Orang muda zaman sekarang!” perempuan yang duduk didepan saya mendengus.
“Kayak ga punya orangtua aja!” sambut perempuan dikirinya dengan nada mencela.
“Emang di sekolah ga diajarin pendidikan moral lagi ya? Kagak ada gunanya kurikulum diubah” ejek perempuan dikanannya.
Perempuan disampingnya menggeleng-gelengkan kepala, ikut-ikutan kesal.

di KRL Jakarta Kota-Bekasi
Jumat, 16 Januari 2015
Jam setengah 4an sore.

Advertisements

One thought on “Kampret! Saya kan Lebih Tua!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s