Jakarta. Macet. Saya?

“Jakarta ‘dah kepadatan orang nih kayaknya ya,” bapak di belakang saya bicara lantang.
“Iya…mana mobil motor juga nambah terus. Wong dp ama cicilannya makin gampang,” bapak sebelahnya menimpali.
“Pantura aja macet mulu!”
“Kalo perjalanan jauh kayaknya paling cepet ya kereta api, ga kena macet, ga kuatir bakal nyebur ke laut kayak tuh Lion”. Mereka tergelak. Saya ikut tersenyum.

Tanpa sadar saya ngangguk-ngangguk dalam hati. Sudah 40 menit saya berdiri di halte busway Kampung Melayu, bus-nya ga nongol-nongol. Yang ada orang makin banyak. Makin gerah makin pegel. Kopaja bersliweran kosong. Mikrolet ga jauh beda. Bus yang lebih besar parker. Itu Sabtu.

Siapa sih yang bikin padat kota Jakarta? Apa sih yang bikin Jakarta macet?

Menurut proyeksi lebih baru tentang jumlah orang Betawi di Jakarta dan sekitarnya, jumlah orang Betawi pada tahun 1930 (menurut sensus) adalah 418.894 jiwa, dan pada tahun 1961 adalah 655.400 jiwa. (Prov. DKI Jakarta). Menurut sensus 2010, penduduk Jakarta berjumlah 9.607.787 jiwa. Sementara wilayah metropolitan Jakarta (Jabotabek) berpenduduk sekitar 28 juta jiwa. (Wikipedia)

Ada candaan saya dengar begini: jumlah manusia di Jakarta sebelum jam 6 pagi hanya 4.000.000 jiwa, siangnya jadi 8.000.000 jiwa. Darimana datangnya 4 juta lagi? Dari daerah BoDeTaBek ini. Jakarta masih jadi dambaan untuk nyari duit. Semua pekerjaan bergengsi masih terjebak di Jakarta. Tapi nanti dulu, ternyata diluar 4juta jiwa ini, masih ada lagi sekitar 2 juta lainnya (mungkin) yang menambah padat Jakarta. Pendatang tak ber-ktp. Tinggal dimana saja. llegal. Jadi kalo ngikut sensus 2010, kalo siang saat ini, bisa-bisa jumlah manusia di Jakarta mencapai sekitar 15-16 juta jiwa. Padahal luas Jakarta hanya sekitar 661,52 km.

Bayangkan kalo 1/4 saja warga Jakarta punya mobil 1 dan motor 1, apalagi dengan murahnya dp mobil dan motor saat ini. Warga Bodetabek yang tidak sudi menggunakan KRL, masih banyak yang pakai motor, beberapa mobil untuk berkendara ke Jakarta. Tambahkan sekian banyaknya angkutan umum (kopaja, mikrolet, bajaj, ojek, dll). Semuanya tumpah ruah di Jakarta setiap harinya. Macceettt.

Eh, ngomong-ngomong soal pendatang. Saya pendatang. Saya berarti ikut bikin Jakarta macet?
Hati kecil saya pengen bilang, saya naik angkutan umum lho tiap hari, saya juga bayar pajak, uang sampah aja ga pernah telat. Tapi, itu hanya ngeles aja. Ya, saya akui saya ikutan bikin Jakarta macet.
Tapiii…ga salah dong kalo saya ingin ikut berkarya di kota ini, yang katanya pusat segala-gala. Perputaran duit, pusatnya. Pekerjaan dan variannya, pusatnya. Urusan fashion dari yang paling murah sampe mahal, juga disini. Pemerintahan, pusatnya. Singkat kata, pusat pemerintahan, hiburan dan bisnis Indonesia, Jakarta.

Kalo pemerintah ga pengen orang-orang dari daerah selalu berpaling ke Jakarta setiap lulus kuliah, ayo dong ciptakan pusat2 lainnya di daerah. Sebar-ratakan yang terpusat-pusat ini ke daerah. Contoh: Amerika. Washington, adalah pusat pemerintahan. Pusat bisnisnya, New York. Las Vegas menjadi kota pusat hiburan. Kawasan Hollywood di Los Angeles menjadi pusat industri perfilman. Belum lagi universitas-universitas berkualitas itu tersebar hampir di seluruh negara bagian. Jadi orang yang pengen akting, ngapain ke Washington, biar dikata itu ibukota Negara, ga ada jalan buat dia disitu.
Itu pasti ngefek besar pada tata kota Jakarta. Macet dipastikan berkurang banyak.

Jakarta. Macet. Saya?…enjoy! (hanya itu yang bisa dilakukan)

Perempuan Yang Hampir Terlupakan

“ Behind every great man, there’s a great woman”

Siapa tokoh perempuan favorit Anda di Alkitab? Ester? Maria ibu Yesus? Ruth? Bila dibandingkan dengan banyaknya laki-laki yang Tuhan panggil sebagai pemimpin, bisa jadi ingatan akan keberadaan perempuan-perempuan yang juga berperan besar dan memang Tuhan pilih untuk mengerjakan pekerjaan-Nya akan semakin kecil. Kalau disuruh menyebutkan pria, pastilah kita tidak perlu berpikir keras. Sebutlah Musa, Yosua, Daniel, Daud, Samuel, Paulus, dan masih banyak lagi. Dan cerita-cerita kepemimpinan mereka sudah dijadikan dongeng pengantar tidur yang dibacakan setiap malam. Belum lagi lagu-lagu yang menggambarkan setiap karakter itu membuat eksistensi mereka semakin melekat.

Tapi lagi-lagi, kalau sudah bicara soal perempuan, jarang sekali keberadaan mereka ini dibahas secara utuh dalam sebuah cerita. Tidak merupakan pemain utama, lebih seperti aktris pendukung tapi tidak dapat Oscar. Padahal cukup banyak perempuan-perempuan hebat dan tangguh di Alkitab, yang kalau Tuhan tidak memilih mereka ini, entah bagaimana jadinya cerita berikutnya. Well, meskipun Tuhan tidak bekerja dengan cara pikir kita ya, tapi lagi-lagi, betapa kerennya pemikiran Tuhan kita, yang pada masa itu feminism belum dikenal, Tuhan sudah memilih perempuan untuk jadi perpanjangan tangannya.

Coba kita bahas perempuan-perempuan berikut ini.

1.Ibu dan kakak Musa serta putri Firaun (Keluaran 2 : 1 – 10 ): Perempuan penyelamat calon pemimpin bangsa Israel di masa depan

Di Keluaran 1 telah digambarkan bagaimana bangsa Israel telah bertambah banyak dan dengan dasyat berlipat ganda sehingga negeri Mesir dipenuhi oleh mereka. Ada seorang raja baru memerintah tanah Mesir dan tidak mengenal Yusuf. Bangsa Israel mulai ditindas dengan kerja paksa. Namun karena bangsa Israel terkenal ‘stubborn’ – keras kepala, makin ditindas makin berkembang dan makin banyak mereka. Orang Mesir lalu berupaya lagi memahitkan hidup mereka dengan pekerjaan yang lebih berat. Raja Mesir juga memerintahkan bidan-bidan Mesir, Sifra dan Pua, untuk membunuh bayi laki-laki Israel yang baru lahir. Tapi karena mereka takut Tuhan, mereka tidak membunuh bayi-bayi laki-laki Israel yang baru lahir (Kel 1 : 15 – 19).

seesaydo.org
seesaydo.org

Sampai kepada peran ibu dan kakak Musa (Kel 2: 1-10). Musa kecil sudah 3 bulan disembunyikan sejak lahir mengingat perintah Firaun yang menyuruh orang Mesir melemparkan setiap bayi laki-laki Israel yang baru lahir ke sungai Nil. Karena kuatir tidak bisa menyembunyikan Musa kecil lebih lama lagi, sang ibu berpikir keras untuk menyelamatkan anaknya. Lihatlah betapa cerdasnya perempuan ini: dia mengambil sebuah peti pandan, dipakalnya dengan gala-gala dan ter. Dia memikirkan segala aspek untuk menyelamatkan putranya, termasuk kelayakan dan kekuatan peti itu agar tidak tembus air dan tidak tenggelam. Lalu dia letakkan Musa kecil ke dalam peti dan dan menaruhnya di tengah-tengah teberau di tepi sungai Nil. Tidak berhenti di situ, sang ibu menyuruh anak perempuannya, kakak Musa, untuk mengawasi peti itu dari jauh, kalau-kalau sesuatu terjadi dengan peti itu. Kalau melihat kecerdasan sang ibu dengan menyembunyikan Musa kecil dan peti, sepertinya memang dia sudah merencanakan ini dengan baik dan penuh ketelitian. Dia sudah memikirkan pilihan terakhirnya untuk menyelamatkan putranya dari kekejian Firaun adalah justru dengan ‘menyelundupkan’ Musa kecil ke bangsa Mesir itu sendiri. Untuk itulah dia sudah mengamati siapa dari pemerintahan Firaun yang bisa menyelamatkan putra kecilnya. Dan dia mendapatkan kunci utamanya, putri Firaun. Pastinya, dia sudah mengamati bagaimana perilaku dan kebiasaan sehari-hari sang putri yang penuh belas kasihan dan murah hati bahkan lokasinya mandi. Dan benarlah ia berbelas kasihan melihat bayi dalam peti itu. Meski putri Firaun sudah menduga bahwa bayi itu pasti bayi orang Ibrani, ia tetap mengambilnya.

Selanjutnya, peran kakak Musa semakin terlihat. Dia yang sudah mengamati dari jauh, mendekati sang putri dan mengusulkan untuk memanggil seorang pengasuh untuk bayi itu. Dibutuhkan keberanian besar untuk mendekati dan trik berkomunikasi level tinggi untuk berbicara seperti itu kepada anggota kerajaan. Apalagi dengan kondisi bangsa Israel tengah ditindas. Keberaniannya membuahkan jawaban luar biasa. Putri Firaun setuju. Maka ibu Musa dipanggil dan diminta oleh putri Firaun menyusui Musa kecil untuknya. Apa yang terjadi berikutnya adalah berkat melimpah dan bonus yang luar biasa. Ibu Musa akhirnya bisa berkumpul lagi dengan Musa kecil dan bisa menyusuinya kembali itu sudah merupakan berkat melimpah di tengah-tengah kondisi mengerikan saat itu, dimana banyak ibu-ibu Israel yang kehilangan bayi-bayi laki-laki mereka. Eh, berkat itu ditambah lagi dengan si putri Firaun yang memberikan upah bagi ibu Musa yang ‘menyusui Musa kecil’ baginya (Kel 2: 9). Ini adalah bonus! Anda, seorang ibu, dibayar pemerintah untuk menyusui bayi Anda!

Bukankah Tuhan kita luar biasa? Tidak bisa dibayangkan akan seperti apa jalan ceritanya kalau Tuhan tidak memilih ibu dan kakak Musa berbuat demikian dan kalau putri Firaun masa bodoh aja dengan bayi dalam peti itu. Dia bisa saja berpikir ‘ini kan bayi orang Ibrani, biarin aja mati, bikin negeri saya makin repot’. Tapi tidak, dia memilih membesarkan bayi itu. Sekali lagi karena Tuhan memilih perempuan-perempuan ini untuk menyelamatkan seorang calon pemimpin bangsa Israel. Dan lihatlah, kehidupan dan kepemimpinan Musa mungkin adalah salah satu yang paling panjang diceritakan, 4 kitab mulai dari kitab Keluaran hingga Ulangan. Di Ulangan 34: 10 -12 disebutkan, setelah Musa meninggal, tidak ada lagi nabi yang bangkit di antara orang Israel dalam segala tanda dan mujizat, yang dilakukannya atas perintah Tuhan di tanah Mesir terhadap Firaun dan semua pegawainya dan seluruh negerinya, dan dalam hal segala perbuatan kekuasaan dan segala kedahsyatan yang besar yang dilakukan Musa di depan seluruh orang Israel. Coba kita perhatikan sekitar kita, mungkinkah ternyata banyak perempuan yang kalau diingat-ingat lagi, tanpa mereka apa jadinya cerita kehidupan kita. Mereka inilah yang Tuhan pilih sebagai aktris pendukung, yang sangat jarang kena spotlight apalagi dapat Oscar, yang keberadaannya justru menghidupkan pemeran utamanya.

2. Perempuan sundal yang menyembunyikan 2 pengintai suruhan Yosua (Yosua 2)

Yosua menyuruh 2 orang pengintai masuk ke kota Yerikho untuk mengetahui bagaimana situasi disana. Mereka sampai di sebuah rumah perempuan sundal bernama Rahab. Pelacur disebut juga sebagai sundal karena perilaku itu begitu buruk dan hina dan menjadi musuh masyarakat. Mereka dianggap melecehkan kesucian agama dan diseret ke pengadilan karena melanggar hukum. Perempuan sundal dianggap kasta paling rendah dan hina. Kenapa kedua orang pengintai ini harus berakhir di rumah perempuan sundal ini? Apa tidak ada yang lain yang lebih layak? Karena kalau dipikir-pikir, perempuan sundal-lah yang selalu membuka hati dan pintu rumahnya untuk orang asing bahkan ditengah malam sekalipun, meskipun alasannya demi uang.

wwwdotjwdotorg
Tuhan memandang dengan kacamata yang berbeda. Siapa saja, bahkan yang paling hina, bisa Dia jadikan ‘asisten-Nya’. Ternyata Rahab adalah perempuan berhati baik dan tidak semuanya melulu karena uang. Bisa saja dia berpikir ‘sudah cukup berat rasanya dengan pekerjaan ini, kalau raja tahu saya menampung musuh negara habislah mata pencaharian saya’ lalu menolak menampung kedua pengintai itu. Tapi tidak, Rahab menyembunyikan mereka di bawah timbunan rami di sotoh (atap) rumahnya. Dari Rahablah kedua pengintai ini mengetahui situasi kota Yerikho, bagaimana penduduk negeri itu telah mendengar kabar bahwa Tuhan memang benar menyertai Musa dan orang Israel sejak dari Mesir dan mereka gemetaran dan tawar hati menghadapi orang Israel karena Allah orang Israel berkuasa atas langit dan bumi: Allah di langit di atas dan dibumi di bawah (Yos 2: 8-11). Informasi dari Rahab ini membuat kepercayaan diri kedua pengintai itu naik dan bercerita pada Yosua bahwa negeri itu sudah diserahkan Tuhan kepada orang Israel.

Ada hal yang menarik dari Rahab. Sebelum kedua pengintai itu pergi, dia meminta semacam balas budi kepada mereka untuk menyelamatkan dirinya dan keluarga super besarnya dari maut yang dalam beberapa hari lagi akan menghabisi negeri itu dan semua isinya (Yos 2: 12-13). Ini menunjukkan apa yang dilakukan seseorang tidak sepenuhnya menunjukkan siapa dirinya. Namun bagaimana ia mempelakukan orang lain itulah yang menunjukkan jati diri seseorang. Pekerjaannya memang hina tapi dia punya hati yang luar biasa baik. Bukan hanya dirinya, Rahab meminta ayah ibunya, saudara laki-laki dan perempuan dan semua orang-orang mereka diselamatkan. Begitulah, kebaikannya berbuah manis. Yosua bahkan menyuruh menyelamatkan semua kaumnya yang sudah berkumpul di rumah Rahab diselamatkan dan memberi mereka tempat tinggal di luar perkemahan orang Israel (Yos 6: 22-23).

Bukan tanpa alasan Tuhan seringkali memilih perempuan untuk jadi ‘a great woman’ dibalik pemimpin besar yang Dia tunjuk. Kalau dihubungkan dengan masa sekarang, dimana dunia sepertinya semakin kejam pada perempuan – pemerkosaan, kekerasan dalam rumah tangga, dan lain-lain – ini adalah saatnya kita menilik kembali bagaimana seharusnya memperlakukan perempuan sebagaimana Tuhan selalu bersikap adil pada perempuan dari sejak Adam dan Hawa diciptakan. Di Kejadian 2 : 18 disebut ‘Tuhan Allah berfirman: Tidak baik kalau manusia itu (Adam) seorang diri saja. Aku akan menjadikan PENOLONG baginya, yang SEPADAN dengan dia.’ Itu dia! Tuhan sendiri yang menjadikan perempuan itu SEPADAN dengan laki-laki. Itu sebabnya Dia membuat perempuan itu selalu punya peran besar di awal-awal kehidupan sampai sekarang. Dengan kemajuan teknologi dan pendidikan, seharusnya kita bisa membangkitkan perempuan-perempuan hebat, bukan sekedar pendukung tetapi pemeran utama, dimulai dari keluarga kita, anak-anak perempuan kita. Perempuan yang bisa membuat keputusan untuk diri sendiri dan duduk setara dengan pria berperan besar, dalam banyak kasus di Indonesia, menarik diri dan keluarganya dari jeratan kemiskinan dan pengaruh ’penyakit-penyakit sosial-ekonomi-budaya’.

Tebet, ditulis beberapa hari sebelum Hari Perempuan Sedunia 8 Maret

aku harus sehat, aku bersumpah!

Genap seminggu aku tidak kerja karena penyakit sialan ini. Tapi ntar dulu. Kata ‘sialan’ini harusnya kutekankan dengan nada syukur. Yeah, I know it’s weird. Karena kalo bukan karena penyakit ‘sialan’ini aku tidak akan sampai pada pemikiran ini. Yeap! Manusia memang aneh. Ada bayi dulu yang meninggal baru pelayanan rumah sakit diperbaiki. In my case, menderita sakit ‘sialan’ini dulu baru punya a brand new perspective.

Rabu malam lalu (13 Maret 2013), ceritanya serombongan penyakit ringan sepakat menyerang dan menjatuhkanku. Pilek, batuk, sakit kepala, diikuti demam dan nyeri otot super nyeri. Maka istirahatlah aku dari Kamisnya. Sabtu sore, ketika semua penyakit kecil itu berangsur pulih, penyakit ‘sialan’itu berteriak ‘gw mau elu apain?’ Dan lambung gku perih bukan main. Maag kambuh!

Sebenarnya tidak sepenuhnya kambuh. Karena 2-3 bulan ini belakangan gejalanya selalu mengisi hari-hariku (cieee)…mual, perih, dan segala makanan seperti ga berasa. Tapi Sabtu itu lebih perih dari biasanya. Jadi ke dokterlah aku. Setelah mendengarkan keluhanku dokter sarankan untuk teropong lambung. Dan setelah menimbang-nimbang 5 – 10 tahun kedepan, aku rela.

Aku sudah puasa dari tadi malam jam 23.30. jam 10.30 tadi pagi, dokter masih ada konsultasi dengan pasien lain padahal jadwalku jam 10.00. aku menghilangkan rasa kuatir akan pemeriksaan dengan maen game onet di cellphone. Disampingku suamiku senyum-senyum, sesekali tertawa kecil membaca artikel-artikel oleh anak didik dan tutor di Yabim, Depok. Rambut depannya berdiri bak Tintin, kaki kanan diangkat ke atas kaki kiri dan bundelan artikel itu sepertinya asik-asik aja dipangkuannya. Ga ada beban, ya rambutnya, ya bahunya, ya kakinya apalagi senyumnya. Dan dia sangat jarang sakit. Beda dengan aku yang belakangan ini sepertinya selalu diintai maag dan lainnya.\

Jam 11.15, tiba saatnya diperiksa. Setelah chit-chat sedikit dengna dokter Dharmika, spesialis Gastroendoskopi (kalau ga salah ini judulnya), dimulailah teropong lambung. Aku berbaring miring. Dokter menyemprotkan bius lokal ke mulutku 5 kali. Kebas dan tebal mulai terasa sampai akhirnya susah menelan. Di mulutku dikasih penyangga bibir, bentuknya bulat berlubang untuk memasukkan alatnya ke lambungku. Semacam tali seukuran jari telunjuk berwarna hitam. Diujung ada semacam kamera dan lampu kecil dan di sepanjang tubuhnya/tali itu ada tulisan penunjuk ukurannya dlm cm.

Aku tidak tahu sepanjang apa alat itu masuk ek dalam lambungku. Tapi sangat tidak nyaman. Seperti mengaduk-aduk isi perut tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa. Takut tindakan kecilku – apapu itu- hanya membuatku makin sakit. Hanya menunjukkan ekspresi tidak nyaman lewat mata yang berair dan suara tercekat. Oh, sangat tidak nyaman. Padahal dokter dan suster sudah berlaku sangat lembut. Saat alat itu diputer2 didalam lambung/usus/perut – whatever – seperti liso, aku berjanji ini terkahir kalinya ada barang/alat yang masuk melalui mulutku dan anggota tubuh lainnya. Tidak akan ada lagi. aku harus sehat. Aku tidak suka dengan perasaan tersiksa ketika ‘diaduk-aduk’itu. Aku harus bisa.

Ketika proses penyelesaian administrasi, aku duduk di salah satu kursi di lobi rumah sakit. Sepanjang mata memandang, orang tua. Hampir semua. Jadi inilah yang disebut-sebut di banyak quotes ‘masa muda dihabiskan untuk cari duit, masa tua untuk menghabiskan duit itu berobat’.

Oh, man! Aku tidak mau begitu. Aku ingin di masa tuaku aku tidak merepotkan siapapun karena aku sakit. Aku ingin tetap aktif dan melihat cucuku berkarya, atau berkarya bersama mereka. Dan aku harus mulai sekarang. Aku harus sehat, aku bersumpah.

Tebet, 21 Maret 2013
ditulis sehabis kontemplasi di atap rumah, diiringi kicauan burung dan semilir angin sore

Mencari Rumah Sakit Wakil Tuhan di Bumi

Setiap hari selama seminggu ini rasa sayangku kepada Zano bertambah. Seperti air sungai Ciliwung yang bertambah debitnya karena hujan tidak berhenti dan akhirnya meluap. Rasa tidak ingin kehilangan, rasa bersyukur yang terucapkan dan tak terlukiskan bercampur. Semua karena rasa marah, geregetan dan sedih akan peristiwa yang terjadi selama hampir 3 minggu belakangan khususnya seminggu ini.

Sabtu, 16 Februari 2013, bayi Dera Nur Anggraini (6 hari) meninggal dunia karena lambannya respon rumah sakit. Diduga 10 rumah sakit yang didatangi menolak dengan alasan ruang neonatal intensive care unit (NICU), ruang perawatan bagi bayi baru lahir yang memiliki gangguan kesehatan, sudah penuh. (Sumber: KOMPAS )

Foto : Liputan6.com
Foto : Liputan6.com

Senin, 18 Februari 2013, nyawa Zara Naven (3 bulan) tak tertolong karena keterbatasan biaya. Bocah malang yang mengalami kelainan jantung itu sempat dirawat selama dua bulan di satu rumah sakit Harapan Kita Jakarta. Tapi keterbatasan Jamkesda dari Pemkot Depok membuatnya tak bisa menjalani operasi. (Sumber: LIPUTAN6 )

Rabu malam, 20 Februari 2013, bayi Upik yang baru dilahirkan dinyatakan meninggal oleh bidan Rumah Sakit Bersalin Kartini. Ketika dibawa pulang oleh sang ayah dan akan dimandikan, tukang mandiin jenazah mengatakan bahwa bayi Upik masih bernafas. Haaa???!! Akhirnya Upik dilarikan ke RS Kartini sekitar pukul 20.00 WIB. Di sana tidak ada dokter, hanya ada bidan. Rumah sakit memberikan tindakan dengan memberikan nafas bantuan dengan oksigen. Pada pukul 23.00 WIB, rumah sakit memberitahu kepada Alizuar bahwa alat yang ada tidak memadai sehingga bayi harus dirujuk ke beberapa rumah sakit. Pihak RS mengatakan kalau memang ketemu rumah sakit rujukan harus Down Payment (DP) Rp15 juta. Karena tidak sanggup dengan biaya yang sangat amat mahal, anaknya tidak bisa terselamatkan lagi, dan meninggal pada pukul 23.15 WIB. Pihak rumah sakit lalu memberikan surat keterangan meninggal dengan data yang tidak lengkap dan terkesan asal-asalan, seperti jenis kelamin yang aslinya perempuan tetapi ditulis laki-laki. (Sumber: VIVA )

JUmat lalu, 15 Februari, Mohammed Hareez (4 bulan, Kuantan, Malaysia) mengalami perlakuan kekerasan yang sangat kejam dan brutal dari pembantunya yang berasal dari Indonesia. Hareez diangkat lalu dijatuhkan berkali-kali ke karpet/kasur tipis di lantai tempat dia digantiin baju. Pemandangan yang sangat menyayat-nyayat hati ibu manapun di dunia ini. (Sumber: ASIAONE.COM )

Belum lagi, Fatir Muhammad (1 tahun, Makassar) yang saat ini masih kritis setelah operasi pengambilan peluru yang bersarang di otak kecilnya. (Sumber: VIVA )

Berita-berita itu begitu membuat saya terguncang. Beberapa kali saya harus menahan air mata tidak turun ketika menyiarkan semua itu. Beberapa kali juga saya harus bersikap professional menahan suara supaya kedengaran tidak sedang menahan tenggorokan seperti tercekat karena menahan tangisan pilu itu. Beberapa hari lalu saya rela genjot-genjotan di KRL ekonomi ke Bogor demi cepat sampe rumah (karena itu kereta pertama yang dating) hanya supaya bisa cepat2 peluk anak saya dan main dengannya. Saya bayangkan perempuan-perempuan ini menanggung pilu yang teramat sangat sekarang. Ibu Dera yang belum sempat menyusui Dara (kembaran Dera) yang masih di incubator, akhirnya harus masuk rumah sakit lagi karena stress dengan kejadian ini.

Cinta dan sayang itu melampaui segala hal. Miskin, kaya, pemulung sampai presiden, semuanya akan melakukan segala hal atas nama cinta dan sayang. Namun tidak demikian yang terjadi. Pembuat dan pelaksana kebijakan di Negara ini ternyata tidak cukup cinta dan sayang pada warga negaranya, apalagi yang miskin. Dari dulu sampai sekarang (apalagi) orang tidak mampu/miskin selalu jadi korban kecarutmarutan system di Negara ini. Orang miskin ga bisa dapat pelayanan kesehatan yang layak – yang layak aja dulu, ga usah yg bagus. Orang miskin ga bisa dapat pendidikan yang layak, lagi-lagi. Semua karena DUIT. Jadi UUD 45 Pasal 34 yg bilang Fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh Negara, sudah tinggal tulisan aja sekarang. Usang, lecek.

Mau dimana lagi warga Negara mendapat perlindungan kalo bukan dari pembuat dan pelaku kebijakan ini? Penguasa dipercaya Tuhan untuk jadi wakilnya memerintah umatnya di bumi. Tenaga medis adalah tangan kanan Tuhan untuk membantu manusia. Tapi nyatanya…berita-berita diatas sudah cukup membuktikan sampai dimana dedikasi mereka pada tugas yang diembankan kepundaknya. NULL.

Okee, Jokowi dan PA akhirnya memperjuangkan. Kemenkes akhirnya investigasi. Setelah ada korban dulu. Mungkinkah kita berubah? Kita adalah bangsa yang cerdas. SEharusnya bisa menciptakan system yang cerdas pula. Bagaimana kita akan menciptakan dunia yang lebih baik bagi generasi penerus – balita-balita, bayi-bayi yang baru saja lahir, sedang dikandung – kalo system yang sekarang saja tidak pernah bisa menjawab kebutuhan masyarakat?

 

Tebet

SEPUCUK SURAT DARI ARAB SAUDI

-Surat dari seorang TKW terancam hukuman gantung kepada anak perempuannya di Jogjakarta.-
Anakku tersayang,
Tidak terlukiskan betapa bahagianya ibu mendengar suaramu seminggu yang lalu. Sesaat semua kepedihan ibu sirna dan teringat kembali alasan ibu harus meninggalkanmu 10 tahun yang lalu. Semuanya terbayar sekarang. Ibu minta maaf baru menulis surat ini sekarang. Beruntung ada staf KBRI yang mau menyelundupkan kertas dan pena ini. Katanya mungkin 2 minggu surat ini sampai ditanganmu, atau mungkin sebulan. Itu artinya… Aah, sudahlah. Itu tidak penting sekarang.
Nak, sejak detik pertama ibu memelukmu di pangkuan ibu, ibu merasa dunia ibu sudah lengkap dan sempurna. Kamu tau, kamu meremas telunjuk ibu dengan jemarimu yang mungil. Matamu bersinar. Saat itu ibu tau kamu akan jadi perempuan yang hebat. Ibu berjanji kamu harus sekolah yang tinggi biar ga kayak ibu. Hanya jadi tukang cuci dan setrika. Bayarannya kecil dan selalu terlambat. Ibu pernah coba melamar kerja di toko-toko atau swalayan itu, tapi mereka tidak mau menerima ibu. Katanya ibu tidak tau pake computer. Akhirnya ibu kerja di beberapa rumah dalam sehari biar duitnya cukup buat makan dan beli perlengkapan sekolahmu. Setoran ojek ayahmu ga selalu ada. Kamu tau hampir semua laki-laki yang ga kerja saat itu ngojek.
Suatu hari ibu ketemu seorang teman semasa SD. Sudah lama sekali ibu tidak melihatnya. Ternyata dia baru pulang dari Hongkong. Katanya dia kerja disana. Jadi TKW. Gajinya banyak dan majikannya baik. Dia tanya apakah ibu mau ikut dia. Ibu pikir-pikir kalau ibu pergi ibu tidak akan bisa melihatmu tiap hari. Tapi ibu pikir-pikir lagi, ibu harus cari duit yang banyak untuk menyekolahkanmu. Ibu bingung sekali saat itu. Ayahmu bilang ibu harus pergi demi kamu.
Rasanya berat sekali pergi. Kamu seperti cahaya dalam hidup ibu dan ibu harus meninggalkan cahaya ibu. Tapi tidak ada pilihan lain. Ibu minta maaf nak, harus meninggalkanmu secepat itu. Akhirnya ibu dibawa ke penempatan dan perlindungan TKI, apa itu namanya? Ibu memilih ke Hongkong, seperti teman ibu. Tapi ternyata ibu ga lolos ujian. Katanya ada syarat-syarat tertentu kalau ke Hongkong. Lalu ibu pilih ke Arab Saudi.
Semuanya berbeda di Arab Saudi. Majikan pertama ibu sangat kejam. Ibu hanya dikasih makanan sisa. Terlambat bangun dipukul. Makanan kurang garam dipukul. Pakaian kusut sedikit dipukul. Lantai tidak cepat kering habis dipel juga dipukul. Hampir semua yang ibu lakukan salah. Ibu tidak diperbolehkan punya henpon. Ibu hampir menyerah. Namun ibu ingat alasan ibu kesini. Kamu…cahaya ibu. Itu membuat ibu tidak memperdulikan siksaan itu. Ibu harus cari cara biar bisa mengirim kabar ke ayahmu.
Selama 10 tahun ini ibu sudah berpindah majikan beberapa kali. Semuanya hampir sama. Majikan ibu yang terakhir adalah malapetaka buat ibu. Ibu tidak mengerti mengapa dipertemukan dengannya. Padahal seumur hidup ibu merasa selalu menjadi orang yang tidak macam-macam, berusaha bersikap baik pada semua orang, ibu juga rajin berdoa dan tidak pernah membalas kelakuan jahat orang lain. Ibu tidak mengerti mengapa hidup ini tidak adil pada ibu. Ibu tidak tau apa salah ibu. Suatu hari suami majikan ibu tidak pergi kerja jadi hanya ada dia dan ibu di rumah. Ketika ibu sedang di kamar dia masuk. Dia mulai memaksa membuka pakaian ibu. Ibu teriak ketakutan dan minta tolong berharap ada yang dengar dan membebaskan ibu. Namun tidak ada. Dia merusak ibu. Begitu terus sampai beberapa lama. Suatu hari istrinya pulang dan memergoki. Lalu suaminya mulai menampar ibu dan bilang ibu menggodanya. Sejak saat itu mereka berdua tidak pernah berhenti menyiksa ibu. Ketika mereka menemukan henpon yang ibu selundupkan untuk bisa mengsms ayahmu, siksaan itu semakin berat. Setiap hari ibu dipukul, ditendang, dan dicambuk pake ikat pinggang. Makan hanya 1 kali sehari. Ibu tidak diperbolehkan keluar rumah. Gaji ibu tidak dibayar. Ibu tidak kuat lagi. Hari Sabtu, entah tanggal berapa itu di bulan Oktober, majikan ibu sedang ke rumah tetangga dan suaminya sedang tidur siang. Ibu benci dan jijik sekali melihatnya. Ibu ambil pisau yang paling tajam dan ibu tusuk dia beberapa kali.
Selama di kurungan ini ibu banyak merenung. Kamu, cahaya ibu, adalah orang yang pertama ibu harus meminta maaf. Ibu minta maaf telah membuatmu malu memiliki ibu pembunuh. Ibu minta maaf tidak pernah ada untukmu mengantarmu ke sekolah dan melihatmu tumbuh menjadi perempuan yang cantik. Harusnya ibu bisa bertahan demi kamu, cahaya ibu, tapi ternyata ibu tidak kuat. Ibu gelap mata. Maafkan ibu, nak. Maafkan…
Anakku sayang,
Waktu ibu hanya beberapa minggu. Kata staf KBRI itu, diyat yang mereka tawarkan demi menolong ibu tidak diterima. Ibu menyesal tidak bisa menyaksikanmu wisuda. Ibu bangga kamu menjadi lulusan terbaik. Ibu yakin kamu akan menjadi wartawan yang hebat. Tulisanmu akan bersinar sebagaimana kamu selalu menjadi cahaya bagi ibu. Ibu titip ayahmu ya, nak. Dia adalah cinta pertama ibu dan yang terakhir. Dia selalu setia pada ibu dan telah menjadi ayah yang sangat hebat untukmu.
Ingatlah, kamu adalah alasan ibu hidup, bertahan dan berjuang selama ini. Kamu telah dan selalu menjadi cahaya bagi ibu. Mulai sekarang kamu akan jadi cahaya bagi banyak orang. Ibu menyayangimu, sepenuh hati…

Ibumu,
Rukinah

Note:
Tulisan ini terinpirasi dari wawancara saya dengan staf Kemenlu dan Kemenakertrans tentang proses negosiasi pembebasan seorang TKI di Arab dan Malaysia yang terancam hukuman mati. Kelompok HAM yang memantau hukuman pancung di Arab SAudi adalah Amnesty International. Lembaga pemantau yang berpusat di London ini menyebut, tahun 2010 Saudi memancung 27 orang. Tahun 2011, 28 orang juga telah dipancung. Sebanyak 15 orang dipancung pada bulan Mei sendiri. Sedangkan pada tahun 2009, jumlah yang dieksekusi mencapai 67 orang, sedangkan pada 2008 sebanyak 102 orang. Amnesty International mendesak pemerintah Saudi menghentikan hukuman mati. (sumber: http://www.suaramerdeka.com)

Jokowi : Pemimpin yang Melayani

Jokowi di Bantaran Kali Ciliwung
Jokowi di Bantaran Kali Ciliwung (photo: m.detik.com)

Barang siapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu (Matius 20:27)

Coba Anda bayangkan kalau bus yang Anda tumpangi dikemudikan oleh sopir begini: Beberapa kali melanggar rambu lalu lintas. Harusnya berhenti di saat lampu lalu lintas menunjuk merah dia ngotot nyelonong dan bikin pengendara lainnya beringas karena hampir tabrakan.  Lalu ketika Anda dan penumpang lainnya menegur biar pelan-pelan, eh malah balik marah. Harus kejar setoran, ketus jawabnya. Akhirnya bus yang Anda tumpangi ini menabrak pembatas jalan. Polisi turun tangan dan menemukan masalah lainnya. Ternyata masa berlaku SIM-nya sudah habis. Semuanya dirugikan. Anda khususnya dari segi waktu, uang dan umur. Uang karena Anda harus naik kendaraan lainnya demi sampai di tujuan. Itu artinya bayar lagi. Emang sopir kayak begitu masih sempat mikirin penumpang? Yang ada ongkos Anda tidak dibalikin. Umur? Iya. Sepanjang dia nyetir Anda gelisah dan ketakutan. Pegangan erat-erat ke apapun yang bisa dipegang jaga-jaga kalau terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Kegelisahan dan ketautan Anda otomatis mengurangi umur Anda.

Itu hanya ilustrasi. Saya tidak berharap Anda berada di situasi itu meski mungkin beberapa kali mengalaminya. Kalau sopir dianalogikan dengan seorang pemimpin baik itu pemimpin rumah tangga, kotamadya, negara, atau perusahaan bisa dibayangkan kecelakaan seperti apa yang menimpa ‘para penumpang’ yang dia setiri ini. Indonesia sepertinya mengalami krisis kepemimpinan di banyak lini. Kasus Bupati Aceng yang hot benar-benar merusak kepercayaan masyarakat bahwa masih ada pemimpin yang baik. Alih-alih memimpin daerahnya dengan lurus dan bersih, Aceng malah sibuk nikah siri dengan Fani Oktara yang layaknya jadi anaknya. Begitu sibuknya hingga pernikahan hanya berlangsung 4 hari. Coba, anak-anak muda di Garut akan melihat siapa sebagai panutan ( a leader to look up to) kalau bukan Aceng. Dan kalau seperti ini pemimpinnya mau dibawa kemana Garut? Akan jadi apa pemuda-pemudi disana? Tukang kawin-sirih-lalu-cerai-beberapa-hari-kemudian?

Di Sindo Siang tadi, saya baca tentang seorang pemimpin yayasan keagamaan yang menaungi anak-anak yatim di Tangerang Selatan tega berbuat asusila kepada anak didiknya. Pelaku berinisial MMS (30) itu telah melakukan pelecehan kepada tiga siswi didiknya, yakni SL (16), AL (15), dan AN (17). Kompas.com menyebutkan selama ini MMS dikenal sebagai seorang pemuka agama dan memimpin Yayasan DIA atau yang biasa disebut Istana Yatim di Jalan Cabe, Pondok Cabe, Tangerang Selatan. Ia merupakan pemimpin tertinggi di yayasan khusus anak yatim yang didirikannya pada tahun 2009 tersebut.

Saat ini begitu banyak pejabat pemerintahan di daerah dan di pusat yang terkait kasus korupsi. Ketika media bahkan KPK meng-counter hampir semuanya yakin dirinya tidak bersalah. Yang paling baru dan geger, Andi Malarangeng mundur dari posisi Menpora setelah ditetapkan status tersangka oleh KPK dalam kasus korupsi proyek Hambalang.

Itu semua bukan hal baru lagi di negara ini. Di televisi dan radio hamper setiap hari ada laporan unjuk rasa di depan KPK menuntut pemberantasan kasus korupsi. Baru-baru ini di Morowali warga unjuk rasa karena kawasan cagar alam dijadikan tambang nikel dan itu oleh persetujuan pemerintah daerah. Hal kecil, orang miskin ga bisa hidup sehat karena RS minta kartu ini itu. Kartu ini itu susah diurus karena pegawai kelurahan dan atau kecamatan minta biaya ini itu, yang tentunya memberatkan si miskin. Lama kelamaan masyarakat semakin terbiasa dengan ini. Ada yang terbiasa dangan cara ‘ya udahlah mau apa lagi’. Ada yang jadi ‘ga usah ke kelurahan/kecamatan, pegawainya suka minta ini itu’. Dan bagi banyak orang apalagi orang muda yang sedang belajar mengenal hidup, ini menjadi sebuah system yang sudah selayaknya diikuti.

Dan kaget-kagetlah warga Jakarta ketika Jokowi jadi Gubernur dan Basuki jadi Wakil Gubernur. Ada yang tidak biasa dari kedua orang ini. Pagi-pagi sebelum jam 8 sudah di kantor. Yang satu blusukan kerjaannya dari kampung kumuh satu ke kampung kumuh lainnya. Terus, ga bilang-bilang, kunjungan ke kantor kelurahan  Senen. Jam 9 pagi kantor masih kosong, eh terkunci. Lurah ga ada. Staff lainnya, ya ikut kebiasaan pemimpinlah.  Yang satu lagi tidak takut-takut menemui buruh yang berdemo di depan Balai Kota dan ngobrol kayak teman – mengingat kebanyakan pemimpin di negara ini selalu menghindari ketemu pendemo. Kedua orang ini bukan seperti pemimpin. Tunggu! Tunggu! Memang pemimpin itu harus gimana? Ini jawaban gelembung-gelembung pengingat di kepala saya : yah taulah, duduk di belakang meja terima laporan, tanda tangan setiap  usulan rencana keuangan, ngantor agak telat ga apa-apa kan boss, pakai fasilitas mewah dan berkelas – kan boss.

Nah! Itu bukti kalau Negara ini sudah lama mengalami krisis kepemimpinan. Hingga gaya kepemimpinan seorang pemimpin – meski salah – bisa dianggap suatu kebenaran karena sudah terlalu lama turun temurun seperti itu. Contoh, sudah terlalu lama masyarakat diperdaya pemerintah daerah sebagai pelayan rakyat tetapi tidak berlaku demikian dalam berbagai macam urusan pelayanan publik. Harusnya bikin KTP gratis tetapi oknum tertentu menarik biaya-biaya tambahan. Masih banyak urusan pelayanan public lainnya yang akhirnya ‘diperjualbelikan’ atau disalahgunakan oknum tertentu. Kepala pemerintahan yang tutup mata akan hal ini menjadikan system ini berjalan baik tak tersentuh dan tak bisa dilawan oleh penerima layanan public – saya, Anda.

Jadi apa yang dilakukan Jokowi dan Basuki ini bukanlah hal yang wooow kalau merujuk pada makna kepemimpinan yang sebenarnya. Di Alkitab pemimipin harus mempunya sifat dasar : Bertanggung jawab, Berorientasi pada sasaran, Tegas, Cakap, Bertumbuh, Memberi Teladan, Dapat membangkitkan semangat, Jujur, Setia, Murah hati, Rendah hati, Efisien, Memperhatikan, Mampu berkomunikasi, Dapat mempersatukan, serta Dapat mengajak. Di dalam Islam seorang pemimpin haruslah mempunyai sifat:1. S1DDIQ artinya jujur, benar, berintegritas tinggi dan terjaga dari kesalahan.
2. FATHONAH artinya cerdas, memiliki intelektualitas tinggi dan professional. 3. AMANAH artinya dapat dipercaya, memiliki legitimasi dan akuntabel. 4. TABLIGH artinya senantiasa menyampaikan risalah kebenaran, tidak pernah menyembunyikan apa yang wajib disampaikan, dan komunikatif.

Basuki memimpin rapat dikantornya
Basuki memimpin rapat dikantornya (photo: metro.news.viva.co.id)

Intinya mirip. Seorang pemimpin haruslah bisa dipercaya oleh rakyatnya, itu sebabnya dia dipilih. Namun seorang pemimpin juga harus menjaga kepercayaan itu dengan menjadi teladan. Seorang pemimpin bisa menjadi teladan kalau dia jujur, bertanggungjawab, rendah hati dan semua sifat diatas. Untuk seorang pemimpin agar tetap rendah hati dia harus merakyat dan berempati dengan apa yang dialami rakyatnya agar programnya tepat sasaran. Kalau harus mengurangi anggaran belanja daerah, kenapa tidak. Kalau itu harus dilakukan dengan blusukan ke kampong-kampung dan ngobrol dengan rakyatnya, silahkan. Saya ingat bukan Jokowi yang pertama melakukan itu. Yesus  telah melakukan itu lebih dari 2000 tahun yang lalu. Dia berjalan dari daerah satu ke daerah lainnya bercerita tentang kerajaan Allah kepada orang-orang dan ngobrol dengan mereka. Disela-selanya, dia melakukan banyak mujizat, menyembuhkan orang-orang dengan berbagai penyakit dan semakin banyak orang mengikutinya. Kebanyakan mereka adalah orang miskin. Kenapa? Bukan karena dia kaya. Tapi karena dia ada untuk orang miskin. Dia melayani mereka sepenuh hati.

Jokowi melakukan itu. Dia menjadi jongos rakyatnya. Bukankah Tuhan Yang Maha Esa memilih Musa, Nabi Muhammad dan pemimpin-pemimpin lainnya di sejarah keagamaan untuk melayani umat-Nya? Melayani. Bukan dilayani. Gaya kepemimpinan Jokowi – Basuki ini menjadi wooow dan selalu jadi bahan pembicaraan karena sudah lamaaaaaa sekali ga ada pemimpin kayak begini – yang ideal, yang sebenarnya, yang seharusnya menjadi tradisi turun temurun.

Jadi bergembiralah, Anda sebagai penumpang ga perlu kuatir uang, waktu dan umur berkurang. Karena sopirnya melihat lurus kedepan dan ke kaca spion. Keneknya juga ga suka menahan duit kembalian penumpang. Tapi sebagai penumpang, jangan tidur aja, ingatin juga supir dan keneknya untuk jaga supaya bisa nyetir lebih lama.

 

Kebon Sirih, December 11, 2012

Hidup di Negara Perokok

Photo: lensamedia.com
Photo: lensamedia.com

Berapa sering Anda berada pada situasi ini?

Anda sedang duduk nyaman di sebuah tempat dengan aktivitas pribadi Anda dan menikmati udara di sekitar Anda yang tidak mengganggu. Tiba-tiba ada seseorang datang duduk di dekat Anda, mengeluarkan sesuatu dari kantong baju atau tas. Rokok dan pemantik. Tanpa melihat kiri-kanan dia mulai menghembuskan asap rokoknya dan mengenai Anda. Seperti tak peduli dengan gerak-gerik tubuh Anda yang terganggu dengan kedatangannya dan asap rokok itu – Anda mengibas-ibas tangan depan wajah, memelototi orang itu, menutup mulut dan hidung – dia kembali menghembuskan asap yang semakin banyak dan sekarang mampu menyelubungi Anda. Karena sudah tidak tahan akhirnya Anda menjauh, pindah ke tempat dimana asap rokok itu tidak sanggup menjangkau Anda. Berapa kali? Sekali? Dua kali? Beberapa kali? Sering kali? Kalau iya, berarti Anda bagian ribuan orang yang sepertinya marah namun kesal ga bisa berbuat lebih untuk menghentikan ini.

Uniknya sebanyak 61 daerah di Indonesia sudah memiliki kebijakan Kawasan Tanpa Rokok. Tujuannya untuk mengendalikan dampak merokok. 61 itu terdiri dari 58 kabupaten dan kota serta 3 provinsi yaitu DKI Jakarta, Bali dan Sumatra Barat. Nah harusnya, non-perokok bergembira dengan kabar ini khususnya yang berada di daerah-daerah itu.  Namun faktanya, menurut Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) menyebutkan bahwa jumlah perokok Indonesia terbanyak ketiga di seluruh dunia setelah Cina dan India, di atas Rusia dan Amerika. 4,8 persen dari 1,3 milyar perokok di dunia berasal dari Indonesia. Mencengangkan! Apa yang terjadi dengan Surat Edaran Gubernur No. 440/1333/031/2005 perihal Kawasan Tanpa Rokok (KTR)? Atau dengan peraturan-peraturan daerah lainnya tentang larangan merokok di public space?

Secara pribadi saya adalah tipikal orang yang sangat terganggu kalau ada orang merokok di  dekat saya. Mau menyuruh orangnya matiin rokoknya kayaknya gimana gitu, seakan-akan saya yang punya tempat. Meskipun saya tahu saya berhak melakukan itu dengan alasan saya berhak atas udara yang bersih, namun sepertinya agak aneh melakukannya. You know, kebiasaan orang Indonesia yang justru membalikkan keadaan ‘ kalo lo ga suka ya jangan dekat-dekat’, atau malah kita dianggap aneh ‘ kalo lo ga mau dekat-dekat perokok, jangan hidup di Indonesia’. Terakhir saya ingat berani ambil rokok dari mulut pria yang sedang merokok adalah ketika SMP. Saya sedang berada di angkot yang penuh sesak. Diantara penumpang ada ibu hamil. Tiba-tiba di perjalanan ada pria masuk. Setelah duduk dibangku dekat pintu dia nyalain rokoknya dan wwuuuuss berhembuslah asap itu kedalam kebawa angin. Sebagian besar penumpang mulai resah dan gelisah. Tapi semua diam. Sekali lagi, entah karena segan ‘ini negara perokok’ atau ga tau haknya untuk udara bersih dan helloooo ‘ ini angkot’. Saya udah mulai pusing dan bertahan dikit lagi bisa muntah saya. Lalu saya kumpulkan keberanian dan ngomong ‘maaf ya, ga liat orang udah mulai ga nyaman dengan asap rokoknya, matiin donk…” Dia diam aja. Lalu, karena kesal, saya tarik rokoknya dan buang keluar angkot. Lalu cerahlah wajah seluruh penumpang, kecuali si perokok. Tapi untuk melakukan itu sekarang? Antara saya ga punya nyali dan tau gw bakal di jotos. Terakhir sekali saya ngomong ‘ga bisa merokok di pantri’ ke kru radio tetangga di kantor, saya malah didiamin dan diresponin ‘kata siapa?’.

Lagi-lagi, perilaku merokok ‘kapan dan dimana’ itu bukan masalah tingkat pendidikan dan ekonomi. Itu bicara kesadaran dan empati akan hak orang lain. Harusnya juga kesadaran dan empati terhadap orang lain ini selaras dengan kesadaran akan diri sendiri juga. Apa sih gunanya merokok? Bikin tenang? Kata siapa. Duit habis, paru-paru digerogoti, sakit, lalu duit habis lagi buat pengobatan. Bagaimana bisa seseorang mengandalkan rokok untuk ketenangan sesaat kalau ujung-ujungnya ‘ga tenang dalam jangka waktu yang sangat lama’? Saya, personally, juga berharap kepada pemerintah sungguh mengaplikasikan semua peraturan yang  ada tentang rokok. Sanksi diterapkan dengan tegas seperti di  Singapura. Ketauan merokok ditempat umum yang ada atau tidak ada tanda  ‘dilarang merokok’, yang melihat biasanya langsung telepon polisi dan polisi segera datang memberikan hukuman denda. Anda hanya boleh merokok di tempat yang disediakan.

Tapi seperti kata orang kesehatan dibutuhkan support semua orang untuk mendukung kawasan yang benar-benar tanpa rokok. kalau Anda berada  di situasi itu lagi jangan takut untuk menegur. Alasannya, hak Anda untuk udara bersih.