Suatu sore yang cerah di musim hujan. Saya melompat masuk ke krl jurusan Jakarta Kota – Bekasi dari stasiun Gondangdia. Di gerbong biasa seperti orang lain yang menjalani hidupnya sebagai rutinitas. Kursi panjang krl terisi semua. Hanya kursi prioritas yang masih menyisakan ruang untuk 2 atau 3 orang lagi. Tanpa pikir panjang saya langsung duduk. Di kursi prioritas di depan saya ada seorang pria dan seorang perempuan. Si perempuan tampak sudah berusia setengah abad jadi layaklah dia disitu. Si pria masih muda seperti saya dan tidak hamil, jadi tidak seharusnya duduk disitu dan disini. Disamping saya ada sepasang suami istri (atau mungkin masih kekasih, whatever!). Oh, sama tidak layaknya dengan saya. Tapi tunggu dulu. Si perempuan mungkin sedang hamil. Bukankah kursi prioritas salah satunya untuk perempuan hamil? Lagipula dia bergelayut manja ke bahu si pria.

Saat petugas mengumumkan kereta akan tiba di stasiun Cikini, si perempuan memiringkan tubuhnya kearah si pria, menggandeng tangannya, mencari posisi uenak lalu menutup matanya. Kok saya kepo banget sih? Kok ga ikut-ikutan tutup mata aja? Gini pembaca sekalian. Kalau ga ngantuk saya ga akan paksain mata untuk menutup, demi alasan apapun. Plus, saya tau diri duduk dimana.

Tibalah kereta di Stasiun Cikini. Pintu terbuka dan berhamburan masuk manusia yang kecapean bekerja. Apalagi kereta jurusan Jakarta Kota-Bekasi sepertinya telat dari jadwal, jadi penumpang lebih banyak dari biasa. Biasanya saya masih bisa duduk. Dua orang perempuan yang sudah berumur tersenyum mengucapkan terimakasih pada saya dan pria muda depan saya setelah kami memberikan tempat duduk. Lalu saya pindah dan berdiri di sisi kursi yang lebih panjang. Penasaran, saya melirik lagi ke arah kursi saya duduk tadi. Si pria masih duduk dan tidak menutup mata dengan tangan si perempuan masih pada posisi yang sama, mengunci. Didepan mereka berdiri manusia-manusia yang dari penampakan saja sudah terlihat berada dalam daftar prioritas. Sejenak ibalah hati ini melihat pemandangan itu. Saya bayangkan yang berdiri itu ibu atau bapak saya. Ah, sudahlah.

Baru saja mau nyibukin diri dengan gadget, tiba-tiba ada yang menahan teriak melintas dibelakang saya.

“Kampret! Saya kan lebih tua! Enak-enakan tidur! Ga punya kesadaran…” suara itu perlahan menjauh dan tertutup suara pengumuman petugas kereta. Ternyata dua orang perempuan berumur yang sebelumnya berdiri didepan pasangan disamping saya. Mereka berlalu ke arah berlawanan dengan wajah kesal dan mengeluh. Seperti saya, manusia-manusia yang sedang bergelantungan ikut memiringkan kepala ke sumber suara. Dan seperti saya juga, deretan kepala ini serta merta menilik ke lokasi yang sedang dikeluhkan kedua perempuan ini. Si pria baru saja berdiri, mempersilahkan seorang perempuan duduk, membenarkan posisi jaketnya lalu berdiri di depan pasangannya. Pasangannya masih menutup mata. Saya berpikir positif, mungkin benar dia hamil.

“Orang muda zaman sekarang!” perempuan yang duduk didepan saya mendengus.
“Kayak ga punya orangtua aja!” sambut perempuan dikirinya dengan nada mencela.
“Emang di sekolah ga diajarin pendidikan moral lagi ya? Kagak ada gunanya kurikulum diubah” ejek perempuan dikanannya.
Perempuan disampingnya menggeleng-gelengkan kepala, ikut-ikutan kesal.

di KRL Jakarta Kota-Bekasi
Jumat, 16 Januari 2015
Jam setengah 4an sore.

Piano dan Stasiun Tebet

Ada yang berbeda dengan stasiun Tebet hari ini. Bukan, bukan perbaikan lantai peron. Satu-satunya perbedaan yang terjadi dari perbaikan ini hanyalah semakin banyaknya debu di stasiun ini sekarang. Apalagi kalau kereta sedang melintas…wuuuusss…berbahagialah mereka dan saya yang selalu sedia masker. Tapi tak mengapa, melihat dari kacamata positif, demi lantai mulus untuk kenyamanan penumpang kedepannya. Amin!

Yang ini beda. Sudah 10 bulan ini saya mondar-mandir siang sore dari dan kembali stasiun Tebet, baru kali ini saya melihatnya, koreksi, mendengarnya. Anda yang sering atau pernah ke stasiun Tebet, pastinya tau peron 1 itu (peron untuk penumpang ke Depok/Bogor) adalah lokasi yang paling banyak PKL-nya, atau kalau disini harusnya sebutannya Pedagang Samping Peron. Makanan/minuman, Koran, pernak-pernik cewek murah meriah, CD/DVD bajakan, sampai peralatan rumah tangga kayak raket nyamuk, obeng, peralatan listrik, dan banyak lainnya. Nah, karena bangsa Indonesia pecinta music, itupun pasti terdengar dimana-mana. Dalam hal ini, si tukang CD/DVD bajakan selalu yang paling getol memperdengarkan musik-musik terbaik (menurut pedagangnya) dari jualannya. Paling getol artinya suara musik sampe memenuhi seluruh stasiun. Mulai dari lagu jadul sampai terbaru. Mulai dangdut sampai pop melayu berlirik alay. Endang S.Taurina masih bersuara merdu sama seperti saya dengar saat SD dulu. Kangen Band, kalah sering diputarnya. Kalau si tante Iis Dahlia memang laris manis. Sering telinga saya yang tersumbat earphone lagi update berita ketutup lantunan si tante ‘slalu dilamun duka karna hati tergoda oleh panah asmara perah ku menderita’.

Nah, hari ini beda. Entah kenapa saya ga berusaha ngejar KRL jurusan ke Jakarta Kota yang sedang merapat ke peron 2 saat saya membeli tiket. Biasanya sempat banget. Tinggal lari, sodorkan 10.000 ke petugas yang koperatif banget, selalu sedia dgn tiket dan kembalian 2000, bahkan gerakannya lebih cepat lagi kalau tau keretanya sudah merapat sambil ikut semangatin ‘cepat mba! cepat mba!’ lalu lari naik tangga dikiiiit dan hop! saya sudah berada di dalam gerbong perempuan.
721710_20130126081320

Tapi kali ini tidak. Tenang saja saya jalan. Memandangi kereta itu berlalu. Setelah mengantongi tiket, saya duduk. Kegiatan calon penumpang menunggu kereta biasanya mirip. Paling banyak sibuk dengan handphone, sebagian dengan earphone di telinga. Kalau berdua atau rombongan yaa rumpiii. Namun sedikit yang membaca koran atau buku. Karena saya sedang jatuh cinta dengan bukunya Agustinus Wibowo ‘Titik Nol’, maka saya putuskan untuk baca buku itu.

Nah, ini dia. Baru saja saya buka batas bacaan saya dan pembaca pengumuman kereta menyelesaikan pengumumannya ‘…berikutnya KRL Commuter lain tujuan Jakarta Kota berangkat stasiun Tanjung Barat. Klik’ terdengarlah suara itu. Bukan, bukan si tante Iis. Suara dentingan piano mengalun lembut. Saya menghentikan bacaan yang bahkan baru mulai, menutupnya mencari sumber suara. Lalu terlihatlah olehku dua toa besar saling membelakangi diatap atas peron 1 depan WC Umum. Sejujurnya saya bukan penggemar piano. Saya lebih suka mendengar gitar. Tapi suara lembut ini ditengah kerasnya stasiun ini berasa sesuatu sekali. Ya, keras. Kemarin ada kecelakaan persis di perlintasan rel stasiun Tebet ini antara KRL ekonomi dan pemotor. Dari fotonya, itu motor udah hancur. Kata si abang tukang bakso, ‘bentar lagi kayaknya mati dia, udah stengah-stengah nafasnya tadi.’

Apakah kepala di stasiun sengaja memutar musik lembut seperti itu untuk mengobati duka kereta dan rel yang menjadi saksi bisu kecelakaan kemarin? Atau, mungkin kepala stasiun lagi belajar piano? Atau mungkin saya aja yang ga pernah selama ini. Apapun itu alasannya, ada perasaan damai mendengar alunan piano itu. Tawa si ibu dan anaknya terdengar renyah disela-sela alunan lembut itu. Seorang bapak diujung sana tertidur lelap. Entah karena capek atau buaian alunan lembut piano. Tiba-tiba suara itu lenyap,’Teng tong teng tong…perhatikan di peron 2 dari selatan KRL commuter line tujuan Jakarta Kota…’dan saya terhenyak dari lamunan diiringi alunan piano. Hampir saja saya tertidur.
images

Bye-bye piano…besok ketemu lagi yaa 😀