Perempuan Yang Hampir Terlupakan

“ Behind every great man, there’s a great woman”

Siapa tokoh perempuan favorit Anda di Alkitab? Ester? Maria ibu Yesus? Ruth? Bila dibandingkan dengan banyaknya laki-laki yang Tuhan panggil sebagai pemimpin, bisa jadi ingatan akan keberadaan perempuan-perempuan yang juga berperan besar dan memang Tuhan pilih untuk mengerjakan pekerjaan-Nya akan semakin kecil. Kalau disuruh menyebutkan pria, pastilah kita tidak perlu berpikir keras. Sebutlah Musa, Yosua, Daniel, Daud, Samuel, Paulus, dan masih banyak lagi. Dan cerita-cerita kepemimpinan mereka sudah dijadikan dongeng pengantar tidur yang dibacakan setiap malam. Belum lagi lagu-lagu yang menggambarkan setiap karakter itu membuat eksistensi mereka semakin melekat.

Tapi lagi-lagi, kalau sudah bicara soal perempuan, jarang sekali keberadaan mereka ini dibahas secara utuh dalam sebuah cerita. Tidak merupakan pemain utama, lebih seperti aktris pendukung tapi tidak dapat Oscar. Padahal cukup banyak perempuan-perempuan hebat dan tangguh di Alkitab, yang kalau Tuhan tidak memilih mereka ini, entah bagaimana jadinya cerita berikutnya. Well, meskipun Tuhan tidak bekerja dengan cara pikir kita ya, tapi lagi-lagi, betapa kerennya pemikiran Tuhan kita, yang pada masa itu feminism belum dikenal, Tuhan sudah memilih perempuan untuk jadi perpanjangan tangannya.

Coba kita bahas perempuan-perempuan berikut ini.

1.Ibu dan kakak Musa serta putri Firaun (Keluaran 2 : 1 – 10 ): Perempuan penyelamat calon pemimpin bangsa Israel di masa depan

Di Keluaran 1 telah digambarkan bagaimana bangsa Israel telah bertambah banyak dan dengan dasyat berlipat ganda sehingga negeri Mesir dipenuhi oleh mereka. Ada seorang raja baru memerintah tanah Mesir dan tidak mengenal Yusuf. Bangsa Israel mulai ditindas dengan kerja paksa. Namun karena bangsa Israel terkenal ‘stubborn’ – keras kepala, makin ditindas makin berkembang dan makin banyak mereka. Orang Mesir lalu berupaya lagi memahitkan hidup mereka dengan pekerjaan yang lebih berat. Raja Mesir juga memerintahkan bidan-bidan Mesir, Sifra dan Pua, untuk membunuh bayi laki-laki Israel yang baru lahir. Tapi karena mereka takut Tuhan, mereka tidak membunuh bayi-bayi laki-laki Israel yang baru lahir (Kel 1 : 15 – 19).

seesaydo.org
seesaydo.org

Sampai kepada peran ibu dan kakak Musa (Kel 2: 1-10). Musa kecil sudah 3 bulan disembunyikan sejak lahir mengingat perintah Firaun yang menyuruh orang Mesir melemparkan setiap bayi laki-laki Israel yang baru lahir ke sungai Nil. Karena kuatir tidak bisa menyembunyikan Musa kecil lebih lama lagi, sang ibu berpikir keras untuk menyelamatkan anaknya. Lihatlah betapa cerdasnya perempuan ini: dia mengambil sebuah peti pandan, dipakalnya dengan gala-gala dan ter. Dia memikirkan segala aspek untuk menyelamatkan putranya, termasuk kelayakan dan kekuatan peti itu agar tidak tembus air dan tidak tenggelam. Lalu dia letakkan Musa kecil ke dalam peti dan dan menaruhnya di tengah-tengah teberau di tepi sungai Nil. Tidak berhenti di situ, sang ibu menyuruh anak perempuannya, kakak Musa, untuk mengawasi peti itu dari jauh, kalau-kalau sesuatu terjadi dengan peti itu. Kalau melihat kecerdasan sang ibu dengan menyembunyikan Musa kecil dan peti, sepertinya memang dia sudah merencanakan ini dengan baik dan penuh ketelitian. Dia sudah memikirkan pilihan terakhirnya untuk menyelamatkan putranya dari kekejian Firaun adalah justru dengan ‘menyelundupkan’ Musa kecil ke bangsa Mesir itu sendiri. Untuk itulah dia sudah mengamati siapa dari pemerintahan Firaun yang bisa menyelamatkan putra kecilnya. Dan dia mendapatkan kunci utamanya, putri Firaun. Pastinya, dia sudah mengamati bagaimana perilaku dan kebiasaan sehari-hari sang putri yang penuh belas kasihan dan murah hati bahkan lokasinya mandi. Dan benarlah ia berbelas kasihan melihat bayi dalam peti itu. Meski putri Firaun sudah menduga bahwa bayi itu pasti bayi orang Ibrani, ia tetap mengambilnya.

Selanjutnya, peran kakak Musa semakin terlihat. Dia yang sudah mengamati dari jauh, mendekati sang putri dan mengusulkan untuk memanggil seorang pengasuh untuk bayi itu. Dibutuhkan keberanian besar untuk mendekati dan trik berkomunikasi level tinggi untuk berbicara seperti itu kepada anggota kerajaan. Apalagi dengan kondisi bangsa Israel tengah ditindas. Keberaniannya membuahkan jawaban luar biasa. Putri Firaun setuju. Maka ibu Musa dipanggil dan diminta oleh putri Firaun menyusui Musa kecil untuknya. Apa yang terjadi berikutnya adalah berkat melimpah dan bonus yang luar biasa. Ibu Musa akhirnya bisa berkumpul lagi dengan Musa kecil dan bisa menyusuinya kembali itu sudah merupakan berkat melimpah di tengah-tengah kondisi mengerikan saat itu, dimana banyak ibu-ibu Israel yang kehilangan bayi-bayi laki-laki mereka. Eh, berkat itu ditambah lagi dengan si putri Firaun yang memberikan upah bagi ibu Musa yang ‘menyusui Musa kecil’ baginya (Kel 2: 9). Ini adalah bonus! Anda, seorang ibu, dibayar pemerintah untuk menyusui bayi Anda!

Bukankah Tuhan kita luar biasa? Tidak bisa dibayangkan akan seperti apa jalan ceritanya kalau Tuhan tidak memilih ibu dan kakak Musa berbuat demikian dan kalau putri Firaun masa bodoh aja dengan bayi dalam peti itu. Dia bisa saja berpikir ‘ini kan bayi orang Ibrani, biarin aja mati, bikin negeri saya makin repot’. Tapi tidak, dia memilih membesarkan bayi itu. Sekali lagi karena Tuhan memilih perempuan-perempuan ini untuk menyelamatkan seorang calon pemimpin bangsa Israel. Dan lihatlah, kehidupan dan kepemimpinan Musa mungkin adalah salah satu yang paling panjang diceritakan, 4 kitab mulai dari kitab Keluaran hingga Ulangan. Di Ulangan 34: 10 -12 disebutkan, setelah Musa meninggal, tidak ada lagi nabi yang bangkit di antara orang Israel dalam segala tanda dan mujizat, yang dilakukannya atas perintah Tuhan di tanah Mesir terhadap Firaun dan semua pegawainya dan seluruh negerinya, dan dalam hal segala perbuatan kekuasaan dan segala kedahsyatan yang besar yang dilakukan Musa di depan seluruh orang Israel. Coba kita perhatikan sekitar kita, mungkinkah ternyata banyak perempuan yang kalau diingat-ingat lagi, tanpa mereka apa jadinya cerita kehidupan kita. Mereka inilah yang Tuhan pilih sebagai aktris pendukung, yang sangat jarang kena spotlight apalagi dapat Oscar, yang keberadaannya justru menghidupkan pemeran utamanya.

2. Perempuan sundal yang menyembunyikan 2 pengintai suruhan Yosua (Yosua 2)

Yosua menyuruh 2 orang pengintai masuk ke kota Yerikho untuk mengetahui bagaimana situasi disana. Mereka sampai di sebuah rumah perempuan sundal bernama Rahab. Pelacur disebut juga sebagai sundal karena perilaku itu begitu buruk dan hina dan menjadi musuh masyarakat. Mereka dianggap melecehkan kesucian agama dan diseret ke pengadilan karena melanggar hukum. Perempuan sundal dianggap kasta paling rendah dan hina. Kenapa kedua orang pengintai ini harus berakhir di rumah perempuan sundal ini? Apa tidak ada yang lain yang lebih layak? Karena kalau dipikir-pikir, perempuan sundal-lah yang selalu membuka hati dan pintu rumahnya untuk orang asing bahkan ditengah malam sekalipun, meskipun alasannya demi uang.

wwwdotjwdotorg
Tuhan memandang dengan kacamata yang berbeda. Siapa saja, bahkan yang paling hina, bisa Dia jadikan ‘asisten-Nya’. Ternyata Rahab adalah perempuan berhati baik dan tidak semuanya melulu karena uang. Bisa saja dia berpikir ‘sudah cukup berat rasanya dengan pekerjaan ini, kalau raja tahu saya menampung musuh negara habislah mata pencaharian saya’ lalu menolak menampung kedua pengintai itu. Tapi tidak, Rahab menyembunyikan mereka di bawah timbunan rami di sotoh (atap) rumahnya. Dari Rahablah kedua pengintai ini mengetahui situasi kota Yerikho, bagaimana penduduk negeri itu telah mendengar kabar bahwa Tuhan memang benar menyertai Musa dan orang Israel sejak dari Mesir dan mereka gemetaran dan tawar hati menghadapi orang Israel karena Allah orang Israel berkuasa atas langit dan bumi: Allah di langit di atas dan dibumi di bawah (Yos 2: 8-11). Informasi dari Rahab ini membuat kepercayaan diri kedua pengintai itu naik dan bercerita pada Yosua bahwa negeri itu sudah diserahkan Tuhan kepada orang Israel.

Ada hal yang menarik dari Rahab. Sebelum kedua pengintai itu pergi, dia meminta semacam balas budi kepada mereka untuk menyelamatkan dirinya dan keluarga super besarnya dari maut yang dalam beberapa hari lagi akan menghabisi negeri itu dan semua isinya (Yos 2: 12-13). Ini menunjukkan apa yang dilakukan seseorang tidak sepenuhnya menunjukkan siapa dirinya. Namun bagaimana ia mempelakukan orang lain itulah yang menunjukkan jati diri seseorang. Pekerjaannya memang hina tapi dia punya hati yang luar biasa baik. Bukan hanya dirinya, Rahab meminta ayah ibunya, saudara laki-laki dan perempuan dan semua orang-orang mereka diselamatkan. Begitulah, kebaikannya berbuah manis. Yosua bahkan menyuruh menyelamatkan semua kaumnya yang sudah berkumpul di rumah Rahab diselamatkan dan memberi mereka tempat tinggal di luar perkemahan orang Israel (Yos 6: 22-23).

Bukan tanpa alasan Tuhan seringkali memilih perempuan untuk jadi ‘a great woman’ dibalik pemimpin besar yang Dia tunjuk. Kalau dihubungkan dengan masa sekarang, dimana dunia sepertinya semakin kejam pada perempuan – pemerkosaan, kekerasan dalam rumah tangga, dan lain-lain – ini adalah saatnya kita menilik kembali bagaimana seharusnya memperlakukan perempuan sebagaimana Tuhan selalu bersikap adil pada perempuan dari sejak Adam dan Hawa diciptakan. Di Kejadian 2 : 18 disebut ‘Tuhan Allah berfirman: Tidak baik kalau manusia itu (Adam) seorang diri saja. Aku akan menjadikan PENOLONG baginya, yang SEPADAN dengan dia.’ Itu dia! Tuhan sendiri yang menjadikan perempuan itu SEPADAN dengan laki-laki. Itu sebabnya Dia membuat perempuan itu selalu punya peran besar di awal-awal kehidupan sampai sekarang. Dengan kemajuan teknologi dan pendidikan, seharusnya kita bisa membangkitkan perempuan-perempuan hebat, bukan sekedar pendukung tetapi pemeran utama, dimulai dari keluarga kita, anak-anak perempuan kita. Perempuan yang bisa membuat keputusan untuk diri sendiri dan duduk setara dengan pria berperan besar, dalam banyak kasus di Indonesia, menarik diri dan keluarganya dari jeratan kemiskinan dan pengaruh ’penyakit-penyakit sosial-ekonomi-budaya’.

Tebet, ditulis beberapa hari sebelum Hari Perempuan Sedunia 8 Maret

Ayah, Benarkah Yesus Mati Karna Aku?

Langkah cepat gadis kecil itu berubah jadi lari. Nafasnya beradu, rambutnya berkibaran melawan angin, tangannya memegang tali ransel yang bertengger di punggungnya. Sesekali sepatu kets berwarna biru kuning itu membentur kerikil yang agak besar bikin dia hampir terjatuh. Namun dia terus berlari semakin kencang. Airmata mulai membasahi pipinya. Sambil terus berlari dia terisak-isak. Dia merasa bersalah dan dia harus melakukan sesuatu untuk itu.

“Prang!” pagar rumah yang cukup berat untuk seusianya dia dorong sekuat tenaganya dan membentur tembok disampingnya. Dia tercekat dan berhenti. Dia berbalik ke arah pagar dan tembok. “Maaf ya Gar, maafin Utet ya Embok, sakit yaa…nanti Utet obatin ya,” terisak dia mengelus pagar dan tembok yang catnya sudah usang.

“Ayyyyaaaaaaaahhhhh!!!” teriaknya ga tahan lagi. Tangisnya pecah.
Sang ayah, yang baru saja selesai mandi, sedang menikmati secangkir teh dan roti bakar sebelum berangkat ke ibadah Minggu Paskah. Dia kaget sekali seakan jantungnya melompat. Putri sulung dan kesayangannya menangis. Ada yang salah nih. Sang ayah segera bangkit dan setengah berlari menyambut putrinya yang tangisnya semakin kencang lalu menggendongnya. ‘Duuhh, sudah berat sekali kau, nak!’ pikirnya tapi tak mengapa. Tangisan itu keliatan lebih berat.

“Butet kenapa nangis, inang*?” tanyanya lembut sambil menghapus airmata dari pipi Utet.
“Utet bikin salah…hiks…Utet ga mau dia mati…hu..uuu..uuu”
“Hah! Siapa yang mati?! Utet salah apa?!” ayahnya panik. Gadis kecilnya mem…oh noo! Melanjutkannya saja dia ga berani. Ga mungkin!
“Benarkah Yesus mati karena Utet, Yah?”
hhhhhhh…ayahnya lega selega-leganya. Itu tooohh. Tapi ini berat nih.
“Kenapa Utet bilang begitu?”
“Kata Ka’ Dani Yesus mati untuk ngapus dosa manusia…itu kan berarti…hiks…karena Utet…huuu…uuu…” tangisnya meledak lagi.
Si ayah menatap gadis kecilnya terharu. Mendekapnya lebih erat dan merasakan jantung Utet berdetak kencang. Dia baru saja masuk semester kedua di tahun pertama sekolah dasar, bagaimana dia bisa berpikir sampai kesitu. Dan bagaimana pula aku harus menjawabnya, pikirnya.

Yesus mati (foto:paulusdarmawan.blogspot)
Yesus disalibkan

“Hmm…sayaang, kalau ayah minta tolong sama Utet, Utet mau ga?”
“Mau…” masih terisak.
“Kenapa?” ayahnya tersenyum.
“Karena…Utet sayang ayah” tangisnya mulai berkurang.
“Hmmm…ingat ga si Manis, kucing kesayangan ayah?”
“ingat…Utet juga sayang banget ama si Manis”
“Nahh, ingat ga bulan lalu waktu dia kejebak di selokan yang dekat lapangan bola? Selokannya udah kering, si Manis masuk ampe ke dalam. cari apa yaa dia waktu itu?…hmmm…nah, tapi kan selokan itu udah hampir ketutup semua, cuma ada lobang kecil. Ayah coba masuk ga bisa karena lobangnya terlalu kecil untuk badan ayah.”
“Iya…Utet ingat, trus Utet bilang biar Utet aja yang masuk! Kan badan Utet masih kecil” tangisnya berhenti, senyumnya merekah.
“Utet kenapa mau masuk waktu itu?”
“Karena kata ayah kayaknya ekor si Manis kejerat kawat duri, trus Utet liat Ayah sedih. Utet sayang ayah, Utet juga ga mau si Manis kesakitan begitu.”
“Tapi ayah sedih waktu Utet masuk situ, Utet jadi kotor, tangan Utet juga luka kena kawat durinya.”
“Utet gapapa kok yah, yang penting si Manis selamat…kan lukanya juga udah sembuh…nih, tinggal bekasnya doang” dia tunjukin bekas-bekas luka di jemari tangannya.
Si ayah tersenyum, gadis kecilnya memang hebat.
“Utet,apa yang Utet lakuin itu sama seperti Yesus juga. Utet rela luka demi selamatin si Manis dan karena sayang sama Ayah. Yesus juga begitu, Dia tau hanya dia yang bisa selamatin manusia, jadi dia rela mati demi kita. Bapanya juga sedih kok waktu ngirim dia ke dunia, sama kayak ayah sedih dan kuatir waktu kamu masuk lobang itu.”
“Tapi kenapa Yesus harus mati, yah? Kan Dia orangnya baiiikkk banget. Kenapa ga cuma luka-luka aja?”

Ayah berpikir gimana jelasinnya. Dan masih berpikir…
“Mungkin bunda tau jawabannya, nanti kalo bunda pulang kita tanya yaa?”
“hmmm…okee..”
“Tapi ada kabar baiknya kan, Yesus hidup lagi trus lukanya juga sembuh, tinggal bekas doang…sama kayak ini…” dia cium dan pura-pura menggigit jemari Utet. Utet tertawa geli. ‘Ah, senangnya dia sudah tertawa lagi’ batin ayahnya.
“Tapi yah, bekas luka Utet ini bakal ilang ga?”
“hmmm…mungkin saja. Tapi ayah pikir, kalo ga ilang ayah tetap bangga kok sama Utet. Luka itu tanda Utet pernah nyelamatin nyawa orang lain….”
“Kucing yah, bukan orang…”
“hahahahaha…iya yaaa…” sambil dia gelitikin Utet dan mereka tertawa bahagia.
Bahagia Yesus telah mati dan bangkit kembali.

Yesus bangkit (foto: sangsabda.org)
Yesus bangkit (foto: sangsabda.org)

Selamat Paskah
Tebet, ditulis 29 Maret 2013

*Bahasa Batak, inang arti harfiahnya ibu. Namun sering digunakan sebagai panggilan sayang kepada anak perempuan yang masih kecil.

Yesus mati (foto:paulusdarmawan.blogspot)

Anak Petani Hipere (Mau) Jadi Anggota Dewan

Catatan Perjalanan

Bocah itu berdiri gelisah di depan gerbang Sekolah Dasar Yayasan Pendidikan Kristen Lachai Roi, Hom-Hom, Wamena. Saat itu sudah pukul 8.35 WIT. Matahari sudah bersinar terang dan hari itu sepertinya lebih terik dari biasanya. Kulitnya yang gelap semakin berkilau memantulkan sinar matahari. Sudah 20 menit dia menunggu. Dengan dahi serius, wajah tanpa senyum, rahang yang mengeras, dan tatapan tajam dia sandarkan harapannya pada motor-motor yang melintas dan berharap orang yang ditunggu segera muncul. Sesekali dia jongkok, menatap ragu ke selokan. Bocah itu mulai mendekat ke pagar sekolah, mengamati anak-anak berseragam merah putih sedang bermain dan tertawa seperti tidak ada beban dan inilah dunia yang sempurna – gedung sekolah, halaman berumput, seragam putih merah, buku dan pensil.

“Takut,” begitu jawabnya disertai gelengan kepala ketika saya mengajak dia masuk ke dalam pekarangan sekolah dan menunggu di kantor Tata Usaha sekolah. Namun tatapan itu belum memudar, semakin dalam dan semakin ingin menjadi bagian dari permainan anak-anak berseragam putih merah. Hari semakin panas, yang ditunggu belum datang juga. Saya mengajaknya ke tempat yang lebih rindang. “Sa (saya) mau tunggu disini saja, kak” dan saya pun duduk dengannya di jembatan kayu yang membawahi selokan persis depan gerbang sekolah di samping jalan raya Hom-Hom. Kami berdua menjadi tontonan gratis pengendara dan orang yang melintas – wanita dengan celana cargo, sepatu kets, jaket tebal, topi, dan kamera besar dengan seorang anak bercelana pendek warna biru, kaus putih, sandal jepit ungu-putih. Sesekali atau ratusan kali mungkin juga kami mengirup asap buangan dari mobil Strada yang dijadikan taksi ke daerah off-road. Saya sudah semakin kepanasan dan kuatir migrain saya akan kambuh.

Akhirnya orang yang ditunggu muncul. Ibu Wenda, yang merupakan sekretaris PPA El-Roy, terburu-buru menghentikan motornya. “Selamat pagi. Sudah lama?” tanyanya. “Sudah dari jam 8, Bu,” jawab saya. Ibu Wenda tersenyum dan bikin saya ingin jengkel. Pikiran saya, Tandiur sudah satu jam menunggu Anda, Ibu. Satu jam! Lalu beliau menjelaskan dan oalah, ternyata mereka janji pukul 9 pagi!

Saya seperti merasakan detak jantung Tandiur saat melangkah memasuki pelataran sekolah menuju kantor kepala sekolah. Tandiur bersama dua temannya dari PPA yang juga akan didaftar hari itu menunggu di depan pintu kantor kepala sekolah. Dia mengintip ke dalam ruangan lantasmenatap anak-anak di lapangan. Mimpi itu akan menjadi kenyataan hanya dalam hitungan ribuan detik lagi.

Tatapan Tandiur semakin menunjukkan kegelisahan dipacu harapan saat kepala sekolah mulai berlama-lama menyelesaikan dokumen-dokumen mereka dan sepertinya berat hati memberikan senyum. Ketegangannya mulai mengendur meski tidak ada senyum di bibirnya ketika ibu Wenda mengeluarkan uang Rp. 500.000,00. Dua ratus ribu untuk biaya pembuatan raport kelas 1 dan 2, masing-masing dua semester. Tiga ratus ribu rupiah untuk biaya penerimaan pendaftaran Sekolah Dasar Yayasan Pendidikan Kristen Lachai Roi, termasuk seragam putih merah dua pasang. Tandiur resmi masuk di kelas 3. “Besok kalian sudah boleh mulai belajar. Belajar yang rajin karena ibu ini sudah susah payah mengusahakan kalian supaya bisa langsung masuk di kelas 3 di sekolah ini, ya?” nasehat bapak kepala sekolah. “Iya, pak!” Tandiur dan kedua temannya menjawab takut-takut. Tuk! Bunyi stempel di nota berwarna hijau mengartikan besok dan besoknya dan besoknya Tandiur resmi bermain dengan anak-anak berseragam merah putih.

Tandiur Kogoya, 9 tahun, adalah satu diantara jutaan anak-anak usia sekolah di Indonesia yang tidak bersekolah. Faktor ekonomi masih menjadi penyebab utama anak tidak sanggup bersekolah. Ayah Tandiur, Terianus Kogoya, adalah seorang petani hipere (ubi jalar) yang menjadi khas di Wamena. Terianus tinggal bersama istri keduanya, Tina Jikwa, dan adik Tandiur, Terriana. Hipere dihargai murah sementara bahan-bahan makanan dan kebutuhan hidup yang lain sangat mahal. Sehingga untuk memenuhi kebutuhan perut Terianus, Tina, dan Terianna biasanya hanya makan hipere setiap hari. Itu pun hanya sekali sehari. Kebun hipere persis mengelilingi gubuk Terianus. Jadi hanya tinggal cabut dan rebus.

Tandiur lebih beruntung dari adiknya Terianna. Sejak umurnya beberapa tahun lebih muda, Tandiur diajak tinggal oleh sebuah keluarga di Lok 3 sekitar 300 meter dari rumah Terianus walau hampir setiap hari Tandur menungjungi keluarganya di bawah (begitu Tandiur menyebutkan letak rumah ayahnya). Pola hidup Tandiur jauh ‘lebih sehat dan baik’ dibandingkan ayah, ibu dan, adiknya. Pagi minum teh dan makan kue. Siang makan nasi, sayur atau mie, ikan laut atau ikan mujahir. Begitu juga malamnya. Selebihnya Tandiur membantu keluarga ini dengan menjaga anak mereka yang masih batita disamping membersihkan dan menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah. Menurut data UNICEF, terdapat sekitar 317 juta anak usia 5 – 17 di tahun 2004 yang sudah mampu mendapatkan penghasilan sendiri, dimana 218 juta diantaranya tecatat sebagai pekerja anak. 126 juta diantaranya bekerja di tempat berbahaya. Dan anak-anak yang bekerja di rumah orang lain besar kemungkinan mengalami eksploitasi atau tindak kekerasan.

Tandiur tidak pernah mengungkapkan pernah mengalami kekerasan. “Tante dan Oom belikan sa baju dan sandal,” lalu menunjuk kaus kuning dan sandal ungu putih yang sedang dia kenakan. Mungkin mereka memperlakukan Tandiur selayaknya saudara dekat. Tapi Tandiur mengalami hal yang jauh lebih serius dengan menyaksikan berbagai hal di rumah keluarga ini dan lingkungan tersebut. “Sa lihat tante-tante berkaus singlet dan om-om minum-minum dan berjoget-joget hampir setiap malam,” begitu kesaksian Tandiur dengan suasana malam hari di Lok 3.

Masih tanpa ekspresi Tandiur bercerita pengalamannya belajar menulis dan membaca dari mantan tetangga ayahnya yang sudah pindah entah kemana. Tidak beberapa lama kemudian PPA (Pusat Pengembangan Anak) El-Roy, sekitar 600 meter dari rumah ayah Tandiur, merekrut Tandiur dan Terriana menjadi anak PPA. Meski tidak bersekolah, tingkat pengetahuan dan kecerdasan Tandiur tidak kalah baiknya dengan anak-anak PPA lainnya yang bersekolah. Setelah berembuk di jajaran pengurus, PPA dan gereja setuju untuk mengusahakan masuknya Tandiur dan kedua temannya ke sekolah formal.

Rabu, 3 September 2008, Tandiur resmi menjadi siswa kelas 3 di Sekolah Dasar Yayasan Pendidikan Kristen Lachai Roi, Hom-Hom, Wamena. Tinggal selangkah lagi cita-cita Tandiur akan menjadi kenyataan. “Pak Pendeta, sa kalau pegang sekop saja (saat itu sedang menggarap kebun gereja), pasti tidak ada perempuan yang mau. Jadi saya harus sekolah supaya sukses. Saya juga mau coba jadi anggota dewan supaya bisa memikirkan pemekeran daerah,” begitulah sepenggal mimpi Tandiur kepada Bapak Gideon, pendeta Gereja El-Roy, terbaur dengan hiruk pikuk pemikiran orang dewasa selama dia tinggal di Lok 3. Dan selangkah itu masih sangat panjang dan berat.

Saya penasaran dengan pernyataan ‘perempuan’ itu lalu saya selidiki sejauh apa pemikirannya tentang seorang perempuan. “Sa mau istri yang tidak pemabuk dan baik, rajin mencuci piring, dan membersihkan rumah… tapi kalau Bapa (panggilannya pada ayahnya) suruh sa tidak kawin, sa tidak akan kawin.”

Ah… saya hanya bisa tersenyum. Begitu sederhana dan mulianya mimpi-mimpi Tandiur. Namun begitu mudahnya mimpi itu musnah jika keberadaan seorang anak tidak lagi berharga dan berperan dalam kehidupan orang dewasa dan dalam kebijakan para pemimpin.

Menjadi saksi kegigihan Tandiur adalah satu pelajaran berharga dalam perjalanan hidup saya. Bersyukur masih ada pemimpin-pemimpin yang memiliki hati untuk menggali potensi terbaik dari sebuah generasi yang hampir terlupakan di ujung timur Indonesia.