47 RONIN: PEMBALASAN SAMURAI TAK BERTUAN

47 ronin
Pembalasan 47 ronin (samurai tak bertuan) yang terkenal ini diilhami kisah nyata pada abad 18 di Jepang. Diantara banyak kisah samurai yang sudah difilmkan, 47 Ronin merupakan kisah yang disebut-sebut sangat tepat menggambarkan ‘bushido’ (symbol kehormatan samurai).

Film diawali dengan kematian sang pemimpin samurai, Asano Naganori (Min Tanaka). Asano terbukti melukai seorang pejabat bernama Kira Yoshinaka (Tadanobu Asano), dan untuk itu Asano harus melakukan ritual seppuku (ritual bunuh diri). Agak berbeda dengan bukunya yang menyebutkan Asano melukai Kira karena Asano mengetahui Kira adalah pejabat korup. Dalam film ini, Asano disihir oleh penyihir Kira (Rinko Kikuchi) yang mengaburkan pandangan Asano dan lalu melukai Kira. Saya sih belum baca bukunya, tetapi review bukunya di Goodreads dan Wikipedia tidak menyebut-nyebut adanya penyihir. Kalaupun ada seharusnya elemen sepenting itu tidak terlupakan dalam sinopsis atau review. Karena si penyihir ini memainkan peran penting dalam pengambilan keputusan si pejabat korup, Kira.

Oishi (Hiroyuki Sanada), tangan kanan Asano, kemudian merencanakan pembalasan atas kematian tuan mereka. Setelah setahun berada dalam lobang tahanan, Oishi dibebaskan dan mulai mengumpulkan ronin yang sudah berserak dan berpindah profesi. Nah lagi-lagi, dalam review bukunya disebut bahwa pembalasan dendam ini delakukan setelah 2 tahun kematian Asano. Kenapa harus 2 tahun? Oishi sengaja merencanakan ini untuk mengelabui Kira. Seiring waktu berjalan Kira akan menganggap para samurai tak bertuan sudah tak berbahaya lagi dan tak punya keinginan membalas dendam. Nah, saat Kira lengah seperti inilah rencananya Oishi dan para ronin akan membalas dendam. Masih dalam review bukunya di Wikipedia, Oishi disebut-sebut mabuk-mabukan selama 2 tahun ini dan meyakinkan seluruh penduduk desa dan Kira sendiri bahwa ksatria samurai sudah berakhir, padahal aksi mabuk-mabukan ini hanya berpura-pusa saja. Namun di film ini, Oishi tak bisa langsung balas dendam karena dia harus ‘dipenjara’ dulu di lubang selama setahun. Itu sesuai dengan perintah Kira kepada tentaranya “masukkan Oishi ke lobang, patahkan semangatnya”.

Adalah Kai (Keanu Reeves), yang disebut-sebut sebagai anak campuran iblis dan manusia, yang akhirnya membantu Oishi. Kai ditemukan dan dibesarkan oleh Asano ketika Kai masih kecil. Tidak ada yang tahu darimana asal Kai. Semua warga menganggap Kai adalah anak campuran iblis dan tidak ada seorangpun yang menyukainya kecuali Asano dan putrinya, Mika (Kô Shibasaki). Hubungan Kai dan Mika berubah menjadi cinta namun terlarang. Sebelum kematian Asano, Kai sendiri sudah berkali-kali mengingatkan Oishi tentang si penyihir namun sama seperti yang lainnya, Oishi menanggapi Kai dingin dan balik mengejek “ hanya turunan iblis yang bisa melihat kaumnya (penyihir, dll)”. Pada saat Oishi bebas, Kai-lah yang pertama sekali dia cari dan dia yakin dapat membantu mereka membunuh Kira dan menyelamatkan Mika yang dalam hitungan jam akan dinikahi secara paksa oleh Kira. Mengingat hutang budinya kepada Asano, Kai bersedia membantu Oishi. Menyelamatkan Mika dari cengkeraman Kira, adalah juga alasan Kai mau bergabung dengan Oishi.

Usaha balas dendam para ronin ternyata tidak gampang, Kira dibantu dengan penyihirnya bukan musuh yang mudah dikalahkan. Selain kurangnya senjata, ronin yang tersisa hanya 47. Disinilah, keteguhan hati dan loyalitas samurai ini dipertaruhkan. Asal usul Kai terungkap dalam perjalanan mereka mencari senjata. Ada yang unik namun sangat fundamental tentang asal-usul Kai. Bahwa ternyata pemimpin tempat Kai berasal sengaja menjadikan tempat itu menjadi utopia hidup yang ‘bersih’ dan terbebas dari kecemaran dan hawa nafsu dunia, meskipun bagi Kai, hal itu justru mengekangnya. Kai berpikir harusnya dia hidup berbagi dengan manusia lainnya.

Sebagai kisah yang telah melegenda, kisah 47 Ronin memang yang paling terkenal dalam sejarah samurai Jepang. Lambang kehormatan samurai benar-benar dijalankan dengan tepat oleh ke 47 ronin. Tetapi sebagai sebuah cerita saya lebih menyukai The Last Samurai. The Last Samurai tidak banyak menyuguhkan aksi bunuh-bunuhan, pedang-pedangan, dsb namun menghadirkan sebuah ‘cerita’ – konflik internal si kakang Tom, masa lalu, konflik dgn timnya yg jadi musuhnya, persahabatan dgn penyandera, kisah cinta tak terungkapkan, dan perenungan dan pergumulan si tokoh utama (Tom Cruise). Seandainya benar dibukunya tidak ada si penyihir dan Kai, maka kisah 47 ronin kurang lebih sama dengan kisah pembalasan dendam lainnya. Dan seandainya difilmnya juga tidak ada si penyihir dan Kai, akan sangat flat, berat dan membosankan. Keberadaan si penyihir dan Kai terutama, membuat film ini jadi hidup. Oke, emang kayaknya saya harus baca bukunya nih! Saat keluar dari studio, penonton menggerutu ‘apa artinya tuh gambar si cowok dgn tato tengkorak diwajah dan pegang pistol padahal cuma muncul 5 detik or so…?’ Indeed, ini satu hal yang ga penting juga untuk ditampilin di poster. Saat calon penonton melihat gambar-gambar film yang akan ditonton, sudah ada ekspektasi lho, so be careful!

Well, harus saya akui teknologi canggih ini membuat film-film action dan fantasy selalu terlihat woow apalagi nontonnya di bioskop. Untuk itu, kudu nonton deh, di bioskop yaa…kecuali ente punya home theater di rumah :p

47 Ronin sempat ditunda penayangannya berulang kali. Awalnya diumumkan pada 21 November 2012, namun diundur pada 8 Februari 2013. Secara global 47 Ronin siap dimainkan bertepatan dengan perayaan natal pada 25 Desember 2013. Untuk Indonesia sendiri, 47 Ronin sudah tayang di Cinema 21.

Happy watching, though! :D

Judul : 47 Ronin
Durasi : 119 menit
Sutradara : Carl Rinsch
Genre : Action, adventure, fantasy

BALIGE, TOO OLD TO BE FORGOTTEN (part 1)

I don’t know about you, but talking about #Balige always gets me lost.
Lost in word…in time…in memory.

I’ve encountered that ‘problem’ since I was in college. Being away from Balige had opened my eyes about its beauty. Of course, that thought and new insight came from a comparison with other places I visited while studying in Jogjakarta. You may say ‘been there, Vin’… But when it comes to write about it, I get lost. Couldn’t start any word, just lost in memory and time. Ah, wait wait. I see you almost get lost as well. Let me tell a bit about #Balige

Balige is a town in North Sumatra province. It became the capital of Toba Samosir Regency since the year 2000, just few months after I left for college in Jogjakarta. It’s about 240 km from Medan. Yeap! That far from the biggest city in Sumatra Island. It takes around 4 to 5 hours from Medan to Balige by car. It maybe longer using public transportation, you know the stopping-by at every station. We use to make joke that someone will arrive sooner in Jakarta from Medan than those who travel to Balige despite Jakarta is farther, in fact in different island. Thanks to the increasing development, now you can just take flight from Medan to Silangit, with smaller aircraft of course :D. Silangit is about 30 minutes from Balige heading to Siborongborong. Now, most people are confused with the fact that this airport is brand new. Not exactly, it was first built in the era of Japan colonial in Indonesia. We’ll discuss it later. See, I’m in a mission to introduce Balige, especially the heart of the town, to the world 😛
…..
See, I just started, but I’m lost already…this pictures of Balige crowd my mind. I need to restructure them, which goes first. Is it the old church built by Ludwig Ingwer Nommensen? Or maybe the traditional market? Probably the lake, yeap, Toba Lake happens to be there.
Ah…I’m gonna take a break.

Jalan raya Balige, next to Traditional Market with genuine house symbol
Jalan raya Balige, next to Traditional Market with genuine house symbol

taken from wikipedia…psst, my house is on the other side of the market

Menjadi Anak-anak Terang

@vinabutarbutar
@vinabutarbutar

Beberapa hari ini warga Jakarta dan mereka yang terhubung dengan warga Jakarta via bbm dihebohkan dengan berita tentang keberadaan seorang pria yang berkeliaran di Jakarta Selatan membunuh anak-anak dan perempuan untuk menambah ilmunya. Kemarin berita itu saya baca pertama kali lewat broadcast seorang pendengar. ‘Sindo, mohon konfirmasi kebenaran berita ini, karena ini sangat meresahkan.’ Begitu isinya. Hal pertama yang muncul di benak saya adalah anak saya dan pengasuhnya dirumah. Kata berita itu, pembunuh ini sudah di Pasar Minggu. Kalau Anda seorang ibu, punya anak kecil dan perempuan pula, dan bekerja di luar rumah, bagaimana reaksi Anda? Kedua, sebagai pelaku media, saya wajib memberikan jawaban yang benar dan dari sumber terpercaya. Cari di situs-situs berita, ga ada. Tanya ke produser juga belum ada yang bisa konfirmasi.

Beberapa saat kemudian saya sudah lupa berita itu. Tadi malam ketika saya dalam perjalanan pulang ke rumah, saya cek twitter. Di timeline tempo.co ada beritanya ternyata dan baru diterbitkan. Pihak kepolisian sudah mengonfirmasi bahwa berita itu hoax. Bohong. Buat-buatan orang aja. ‘Masa’ sudah 40 orang dibunuh tapi ga ada laporan?’ Begitu kira-kira isinya. Seketika saya teringat lagi setelah terlupakan dan seketika ikutan lega, sedikit aja tapii, karena saya mulai belajar untuk tidak mau terpengaruh berita-berita negative.

Satu hal tiba-tiba terpikir bahwa dunia ini memang tempat pertarungan yang paling laris antara si baik dan si jahat. Betapa si positif masih berjuang teramat sangat keras menaklukkan si negative. Dan betapa berita positif itu terdengar seperti kecepatan bekicot sementara berita negative itu bisa tersiar seperti kecepatan cahaya dan menebarkan intimidasi ketakutan lalu menyisakan hampir tidak ada energy positif pada yang disinggahinya. Itu fakta saat ini. Manusia bisa berlama-lama sampai berhari-hari membicarakan gossip buruk tentang seseorang atau sesuatu dan mengulangi lagi lalu menambahkan asam dan cuka hingga berita itu semakin seru. Namun cerita yang baik bisa terdengar hanya beberapa menit saja, di-woow sejenak, dan lalu menguap begitu saja.

Saya juga sadar masih begitu. Namun kita bisa mengubahnya, bersama-sama. Lebih banyak lagi berbuat baik. Sering-sering menggosipkan yang positif dan menyiarkannya ke seluruh penjuru bumi. Ingatkah, betapa hati kita bersorak riang ketika menyaksikan anak kita mulai berbicara? Rasakan mata berair karena terharu karena seorang guru di NTT sana memberikan hatinya untuk pendidikan dengan fasilitas minim. Itu hal-hal kecil yang baik yang bisa kita broadcastkan dan gosipkan. Saya yakin semakin banyak kebaikan tercipta, semakin sering hal positif diperdengarkan, si jahat yang akan terintimidasi, kabur dan menguap.

‘Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu.’ Fil 4:8

Tebet, June 4, 2013

Oksigen di Rimba Polusi Jakarta

Bagi saya yang sempat menghabiskan 2 tahun di kota yang sejuk dan berudara bersih, Tomohon (Sulawesi Utara), berhadapan dengan Jakarta dan segala tetek bengek permasalahannya tentang polusi dan udara bersih adalah tantangan. Saya sebut tantangan karena saya tidak bisa memaksakan setiap kota yang saya tinggali harus berudara bersih. Karena itu saya percaya pasti ada lokasi sebagai sumber udara bersih di ibukota ini. Man, pikiran positif diperlukan dua kali lipat kalo mau berteman dan berdansa dengan Jakarta.

Awalnya saya agak kecewa karena ekspektasi saya terlalu tinggi. Inilah efek dari terlalu banyak nonton film Hollywood. Kan selalu tuh, film-film Hollywood secara tidak langsung promosi keindahan kota mereka dengan menonjolkan taman kota yang aduhai dilihatnya. Apalagi ditonjolinnya di musim semi; rumput sedang hijau-hijaunya, pohon berdaun lebat dan berbunga berwarna-warni, angsa-angsa berenang riang di danau buatan di tengah taman, anak-anak berlari gembira mengejar kupu-kupu dan bermain balon deterjen, ibu-ibu menggelar tikar tempat bekal makanan ditata, anak muda di mabuk asmara sedang ciuman di kursi panjang taman, langit biru, burung terbang bernyayi merdu, ada yang berolahraga, ada yang sekedar tiduran di rumput atau membaca. Segar ya?

Agak repot ya kalau cari yang begitu disini. Lagi-lagi saya masih positif akan menemukan sebuah taman. Sepersepuluh dari itu saja. Lumayan itu. Eh, Tuhan memang maha baik. Dia tidak menutup telinga terhadap permintaan umatNya. Meski bentuk jawabanNya terserah Dia. Suatu hari di awal bulan kedua kami tinggal di Tebet ini, suami saya datang bawa kabar gembira. Taman itu ada, mirip-mirip dengan isi taman di khayalanmu, kata suami saya. Maka kesitulah kami sejak itu hampir setiap weekend, kalo ga ke kawinan :D.

Namanya Taman Honda-Tebet. Taman seluas 2,8 hektar ini membentang antara Kelurahan Tebet Timur dengan Kelurahan Tebet Barat, Kecamatan Tebet, Jakarta Selatan. Dari namanya bisa diketahui bahwa taman ini disponsori Honda dan bersebelahan dengan Taman Kota Tebet.

Anda yang ingin memperkenalkan alam dan bukan mall kepada anak Anda, disinilah tempatnya. Anda bisa menemukan jenis pohon pelindung seperti mahoni, ketapang kencana, mindi, bunga kupu-kupu, trembesi, dan flamboyan. Jenis pohon yang ditanam merupakan kombinasi antara pepohonan ramping dan peneduh. Dengan begitu pengunjung bisa langsung merasakan fungsi dan manfatnya.
Taman Honda Tebet

Bagi Anda yang gemar olahraga, ada jogging track juga lho.

Jogging track (photo: oktovinabutarbutar)

Hati-hati, jogging track juga sekaligus lokasi bersepeda.

Jogging track diantara pepohonan (photo:oktovinabutarbutar)

Reflexology track juga tersedia. Ada 3 tingkatan; pemula, intermediate, advanced. Lho, kok kayak kursus. Beneran! Tapi dalam arti tingkat ‘kesakitan’.

Reflexology track; 3 tingkat kesakitan. (photo:oktovinabutarbutar)

Bukan Cuma orangtua, anak-anak juga senang.

My daughter played on the reflexology track

Keliatan ya, anak-anak belum punya encok, migraine, dll…bisa tuh maen bola di tingkat advanced.

Nah, yang ini jadi rebutan setiap anak. Cuma satu tapi lumayan berfungsi mengalihkan kebosanan anak.

Arena bermain anak

Jembatan penyeberangan ini adalah favorit anak muda untuk nongkrong. Eh ada juga lho yang suka shooting klip disini. Dibawahnya air mengalir.

Jogging track tersambung denga jembatan penyeberangan (photo: oktovinabutarbutar)

Pusat taman ini menjadi lokasi segala-gala. Futsal, latihan karate, style-cyclist and skateboard

Anda seorang pesepeda yang suka beraksi, disini tempat latihannya. Ga bakal diketawain, dikagumin lho.

Hiaaatttt...Penonton juga ikutan berlatih gratis!

Tersedia juga mushola, toilet dan penjaga.

Mushola-toilet-pos penjaga di pojokan taman

Yukkkss…daripada bayar di mall, mending di Taman Honda Tebet. Gratis ini.

Kalo soal ttd, Foke cepat yaa... ehh, itu anak saya ga mau balik :D

Banyak jajanan kok, murah meriah…

Jajanan murah meriah di sepanjang jalan diluar taman.

Tebet, 13 Mei 2013

Nge-Date Nyookk…

Bagi Anda yang sudah menikah, khususnya yang sudah punya anak, kapan Anda terkahir nge-date alias pergi keluar berdua aja khusus untuk pacaran aja?(Berdua = Anda dan pasangan sah yaa 😀 ) Wah, udah lama bangeet. Pernah sih, tapi lupa kapan. Hmm…ga pernah kayaknya, pasti ada anak. Kalau jawaban Anda bebeti – beda beda tipis dengan itu, berarti Anda ga sendiri. Banyak pasangan yang seperti itu. Begitu sibuknya kerja, senin sampai jumat, subuh sampai larut (ini termasuk pulang pergi, ini Jakarta cyiinn…) jadi waktu luang yang ada, sabtu minggu digunakan untuk bermain dengan anak. Kalau untuk orang Batak, 1 atau bahkan 2 hari tersisa itu sering kali masih disabotase lagi sama pesta, maradat, arisan dan pesta lagi, maradat lagi dan arisan lagi. Ga ada yang salah dengan itu. Sangat normal. Kalau Anda sudah memutuskan punya anak, ya Anda memang harus tanggung jawab penuh. Bukan sekedar memenuhi kebutuhan fisiknya tapi lain-lainnya yang jauh lebih penting. Anda selalu meluangkan waktu untuknya supaya dia tahu bahwa Anda ada untuknya, bermain dan berkomunikasi dengannya supaya Anda tahu milestonenya. Itu adalah contoh bentuk kasih sayang dan perhatian orangtua pada anak yang tak tergantikan dengan materi.

Kembali ke pertanyaan pertama. Kapan?
Dua stengah minggu lalu, pemberi firman bercanda di sela-sela khotbahnya tentang dia dan istrinya yang rutin pacaran, nge-date. Kata dia, itu selalu merefresh kembali hubungannya dengan istrinya secara personal dalam banyak hal.
Saya jadi ingat, di akhir Desember tahun lalu, saya dan suami nge-date untuk pertama kalinya setelah punya anak (itu artinya, setelah 2 tahun 1 bulan…oh my God!), untuk bikin resolusi di tahun baru. Hmm, ga bisa dibilang nge-date ya kalo gini, semi-lah. Salah satu isi resolusi itu adalah nge-date, sekali sebulanlah. Sekali lagi, berdua aja. Tapi, resolusi tinggal resolusi. Ga ada catatan keluar nge-date setelahnya.

Penting ga sih?

Penelitian dan buku-buku bilang banyak hubungan suami istri yang sudah punya anak jadi hambar karena banyak faktor. Usia perkawinan tidak selalu menjadi factor. Toh, banyak baru beberapa bulan, udah cerai. Jam kerja yang tinggi, pulang-pulang udah capek. Pengen istirahat, ga bisa, ada yang antre perhatian, anak dan pasangan. Belum lagi, kita terlalu disibukkan dengan kebutuhan gaul di jejaring sosial – facebook dan kawan-kawannya. Akhirnya semua tuntutan ini ga terpenuhi. Kalau untuk pasangan yang keduanya sangat sibuk, bisa dihitung berapa jam mereka dalam sehari ngobrol langsung, bukan via bbm, whats app, line, dll loh yaa. Apalagi dengan anak. Lama-lama, ga semua yaa, banyak hubungan suami istri yang jadi kayak dua orang teman yang hidup di bawah satu atap. Cinta masih ada, tapi ga in love lagi. The ‘it’ atau ‘x’ factor, kayak di X-Factor talent show itu, udah menguap. Ga ada lagi rasa-rasa yang selalu pengen bikin ketemu dengan pasangan kayak pacaran dulu. No more passion. Hmm…itu terlalu ekstrim. Less passion lah.

Trus, karena tersentak dengan candaan si pengkhotbah, saya ama suami teringat rencana. Iya yaa… Lalu nge-date lah kami satu setengah minggu yang lalu. Inipun tidak bisa dibilang murni cuma pacaran doang. Karena masih ditambah embel-embel ‘sambil benerin laptop’, ‘sambil itu, ini, ono’. Di beberapa jam terakhir baru bisa nikmati nge-date. Ngopi sambil ngobrol, berdua aja. Hanya sedikit jam tapi banyak hal baru yang tereksplor, dibicarakan, didiskusikan, dijelaskan lagi, sampai pada kesepakatan. Saya merasa segar setelahnya. Ada pandangan baru tentang diri saya sendiri, tentang suami, tentang hubungan kami, tentang cara kami membesarkan anak, dll. Saya juga makin akrab dengan Jakarta. Karena lokasi nge-date ini akan berbeda kedepannya. Sambil nge-date sambil mengenal sudut-sudut Jakarta. Jadi, siapa bilang kalau sudah menikah dan punya anak, masa nge-date berakhir? Justru era itu baru saja dimulai dan lebih seru. Karena Anda tidak perlu lagi berpura-pura manis, sopan, menjadi orang lain seperti gaya pacaran masih single dulu… mau ngakak dengan suara cempreng, monggo, ga perlu nutup mulut nahan suara. Anda menjadi diri sendiri. Itu adalah kebebasan.

Soo…nge-date nyoookkk 😀

#tuh kan, ga ada foto kami berdua…next time yaa 🙂

Daftar Lomba Menulis Periode April 2013

hallo tante (mak’ku aritonang)…izin reblog yaaa…mantap informasinya 😉
Selamat berlomba 😀

dearmarintan's blog

Bulan baru, semangat baru! Setelah mengecek arsip blog selama bulan Maret, gue menyadari betapa nggak produktifnya gue. Bayangin, masa sebulan cuma bisa nulis empat postingan doang sih? Oemji, parah banget! >.< Mohon jangan ditiru ya, sodara-sodaraaa~

Supaya makin semangat nulis, gue kembali hadir membuat rangkuman lomba nulis bulanan. Kali ini ada beberapa info lomba menarik yang berhasil gue rangkum untuk kalian. Lomba-lomba nulisnya menantang dan hadiah-hadiahnya menarik! Dari sekian banyak info lomba yang berseliweran, hanya lomba-lomba yang keren aja yang gue muat di sini. Ada lomba apa aja sih buat bulan April? Penasaran yaaa? Hehehe, silakan disimak info lengkapnya berikut ini~

View original post 339 more words

Ayah, Benarkah Yesus Mati Karna Aku?

Langkah cepat gadis kecil itu berubah jadi lari. Nafasnya beradu, rambutnya berkibaran melawan angin, tangannya memegang tali ransel yang bertengger di punggungnya. Sesekali sepatu kets berwarna biru kuning itu membentur kerikil yang agak besar bikin dia hampir terjatuh. Namun dia terus berlari semakin kencang. Airmata mulai membasahi pipinya. Sambil terus berlari dia terisak-isak. Dia merasa bersalah dan dia harus melakukan sesuatu untuk itu.

“Prang!” pagar rumah yang cukup berat untuk seusianya dia dorong sekuat tenaganya dan membentur tembok disampingnya. Dia tercekat dan berhenti. Dia berbalik ke arah pagar dan tembok. “Maaf ya Gar, maafin Utet ya Embok, sakit yaa…nanti Utet obatin ya,” terisak dia mengelus pagar dan tembok yang catnya sudah usang.

“Ayyyyaaaaaaaahhhhh!!!” teriaknya ga tahan lagi. Tangisnya pecah.
Sang ayah, yang baru saja selesai mandi, sedang menikmati secangkir teh dan roti bakar sebelum berangkat ke ibadah Minggu Paskah. Dia kaget sekali seakan jantungnya melompat. Putri sulung dan kesayangannya menangis. Ada yang salah nih. Sang ayah segera bangkit dan setengah berlari menyambut putrinya yang tangisnya semakin kencang lalu menggendongnya. ‘Duuhh, sudah berat sekali kau, nak!’ pikirnya tapi tak mengapa. Tangisan itu keliatan lebih berat.

“Butet kenapa nangis, inang*?” tanyanya lembut sambil menghapus airmata dari pipi Utet.
“Utet bikin salah…hiks…Utet ga mau dia mati…hu..uuu..uuu”
“Hah! Siapa yang mati?! Utet salah apa?!” ayahnya panik. Gadis kecilnya mem…oh noo! Melanjutkannya saja dia ga berani. Ga mungkin!
“Benarkah Yesus mati karena Utet, Yah?”
hhhhhhh…ayahnya lega selega-leganya. Itu tooohh. Tapi ini berat nih.
“Kenapa Utet bilang begitu?”
“Kata Ka’ Dani Yesus mati untuk ngapus dosa manusia…itu kan berarti…hiks…karena Utet…huuu…uuu…” tangisnya meledak lagi.
Si ayah menatap gadis kecilnya terharu. Mendekapnya lebih erat dan merasakan jantung Utet berdetak kencang. Dia baru saja masuk semester kedua di tahun pertama sekolah dasar, bagaimana dia bisa berpikir sampai kesitu. Dan bagaimana pula aku harus menjawabnya, pikirnya.

Yesus mati (foto:paulusdarmawan.blogspot)
Yesus disalibkan

“Hmm…sayaang, kalau ayah minta tolong sama Utet, Utet mau ga?”
“Mau…” masih terisak.
“Kenapa?” ayahnya tersenyum.
“Karena…Utet sayang ayah” tangisnya mulai berkurang.
“Hmmm…ingat ga si Manis, kucing kesayangan ayah?”
“ingat…Utet juga sayang banget ama si Manis”
“Nahh, ingat ga bulan lalu waktu dia kejebak di selokan yang dekat lapangan bola? Selokannya udah kering, si Manis masuk ampe ke dalam. cari apa yaa dia waktu itu?…hmmm…nah, tapi kan selokan itu udah hampir ketutup semua, cuma ada lobang kecil. Ayah coba masuk ga bisa karena lobangnya terlalu kecil untuk badan ayah.”
“Iya…Utet ingat, trus Utet bilang biar Utet aja yang masuk! Kan badan Utet masih kecil” tangisnya berhenti, senyumnya merekah.
“Utet kenapa mau masuk waktu itu?”
“Karena kata ayah kayaknya ekor si Manis kejerat kawat duri, trus Utet liat Ayah sedih. Utet sayang ayah, Utet juga ga mau si Manis kesakitan begitu.”
“Tapi ayah sedih waktu Utet masuk situ, Utet jadi kotor, tangan Utet juga luka kena kawat durinya.”
“Utet gapapa kok yah, yang penting si Manis selamat…kan lukanya juga udah sembuh…nih, tinggal bekasnya doang” dia tunjukin bekas-bekas luka di jemari tangannya.
Si ayah tersenyum, gadis kecilnya memang hebat.
“Utet,apa yang Utet lakuin itu sama seperti Yesus juga. Utet rela luka demi selamatin si Manis dan karena sayang sama Ayah. Yesus juga begitu, Dia tau hanya dia yang bisa selamatin manusia, jadi dia rela mati demi kita. Bapanya juga sedih kok waktu ngirim dia ke dunia, sama kayak ayah sedih dan kuatir waktu kamu masuk lobang itu.”
“Tapi kenapa Yesus harus mati, yah? Kan Dia orangnya baiiikkk banget. Kenapa ga cuma luka-luka aja?”

Ayah berpikir gimana jelasinnya. Dan masih berpikir…
“Mungkin bunda tau jawabannya, nanti kalo bunda pulang kita tanya yaa?”
“hmmm…okee..”
“Tapi ada kabar baiknya kan, Yesus hidup lagi trus lukanya juga sembuh, tinggal bekas doang…sama kayak ini…” dia cium dan pura-pura menggigit jemari Utet. Utet tertawa geli. ‘Ah, senangnya dia sudah tertawa lagi’ batin ayahnya.
“Tapi yah, bekas luka Utet ini bakal ilang ga?”
“hmmm…mungkin saja. Tapi ayah pikir, kalo ga ilang ayah tetap bangga kok sama Utet. Luka itu tanda Utet pernah nyelamatin nyawa orang lain….”
“Kucing yah, bukan orang…”
“hahahahaha…iya yaaa…” sambil dia gelitikin Utet dan mereka tertawa bahagia.
Bahagia Yesus telah mati dan bangkit kembali.

Yesus bangkit (foto: sangsabda.org)
Yesus bangkit (foto: sangsabda.org)

Selamat Paskah
Tebet, ditulis 29 Maret 2013

*Bahasa Batak, inang arti harfiahnya ibu. Namun sering digunakan sebagai panggilan sayang kepada anak perempuan yang masih kecil.

Yesus mati (foto:paulusdarmawan.blogspot)

aku harus sehat, aku bersumpah!

Genap seminggu aku tidak kerja karena penyakit sialan ini. Tapi ntar dulu. Kata ‘sialan’ini harusnya kutekankan dengan nada syukur. Yeah, I know it’s weird. Karena kalo bukan karena penyakit ‘sialan’ini aku tidak akan sampai pada pemikiran ini. Yeap! Manusia memang aneh. Ada bayi dulu yang meninggal baru pelayanan rumah sakit diperbaiki. In my case, menderita sakit ‘sialan’ini dulu baru punya a brand new perspective.

Rabu malam lalu (13 Maret 2013), ceritanya serombongan penyakit ringan sepakat menyerang dan menjatuhkanku. Pilek, batuk, sakit kepala, diikuti demam dan nyeri otot super nyeri. Maka istirahatlah aku dari Kamisnya. Sabtu sore, ketika semua penyakit kecil itu berangsur pulih, penyakit ‘sialan’itu berteriak ‘gw mau elu apain?’ Dan lambung gku perih bukan main. Maag kambuh!

Sebenarnya tidak sepenuhnya kambuh. Karena 2-3 bulan ini belakangan gejalanya selalu mengisi hari-hariku (cieee)…mual, perih, dan segala makanan seperti ga berasa. Tapi Sabtu itu lebih perih dari biasanya. Jadi ke dokterlah aku. Setelah mendengarkan keluhanku dokter sarankan untuk teropong lambung. Dan setelah menimbang-nimbang 5 – 10 tahun kedepan, aku rela.

Aku sudah puasa dari tadi malam jam 23.30. jam 10.30 tadi pagi, dokter masih ada konsultasi dengan pasien lain padahal jadwalku jam 10.00. aku menghilangkan rasa kuatir akan pemeriksaan dengan maen game onet di cellphone. Disampingku suamiku senyum-senyum, sesekali tertawa kecil membaca artikel-artikel oleh anak didik dan tutor di Yabim, Depok. Rambut depannya berdiri bak Tintin, kaki kanan diangkat ke atas kaki kiri dan bundelan artikel itu sepertinya asik-asik aja dipangkuannya. Ga ada beban, ya rambutnya, ya bahunya, ya kakinya apalagi senyumnya. Dan dia sangat jarang sakit. Beda dengan aku yang belakangan ini sepertinya selalu diintai maag dan lainnya.\

Jam 11.15, tiba saatnya diperiksa. Setelah chit-chat sedikit dengna dokter Dharmika, spesialis Gastroendoskopi (kalau ga salah ini judulnya), dimulailah teropong lambung. Aku berbaring miring. Dokter menyemprotkan bius lokal ke mulutku 5 kali. Kebas dan tebal mulai terasa sampai akhirnya susah menelan. Di mulutku dikasih penyangga bibir, bentuknya bulat berlubang untuk memasukkan alatnya ke lambungku. Semacam tali seukuran jari telunjuk berwarna hitam. Diujung ada semacam kamera dan lampu kecil dan di sepanjang tubuhnya/tali itu ada tulisan penunjuk ukurannya dlm cm.

Aku tidak tahu sepanjang apa alat itu masuk ek dalam lambungku. Tapi sangat tidak nyaman. Seperti mengaduk-aduk isi perut tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa. Takut tindakan kecilku – apapu itu- hanya membuatku makin sakit. Hanya menunjukkan ekspresi tidak nyaman lewat mata yang berair dan suara tercekat. Oh, sangat tidak nyaman. Padahal dokter dan suster sudah berlaku sangat lembut. Saat alat itu diputer2 didalam lambung/usus/perut – whatever – seperti liso, aku berjanji ini terkahir kalinya ada barang/alat yang masuk melalui mulutku dan anggota tubuh lainnya. Tidak akan ada lagi. aku harus sehat. Aku tidak suka dengan perasaan tersiksa ketika ‘diaduk-aduk’itu. Aku harus bisa.

Ketika proses penyelesaian administrasi, aku duduk di salah satu kursi di lobi rumah sakit. Sepanjang mata memandang, orang tua. Hampir semua. Jadi inilah yang disebut-sebut di banyak quotes ‘masa muda dihabiskan untuk cari duit, masa tua untuk menghabiskan duit itu berobat’.

Oh, man! Aku tidak mau begitu. Aku ingin di masa tuaku aku tidak merepotkan siapapun karena aku sakit. Aku ingin tetap aktif dan melihat cucuku berkarya, atau berkarya bersama mereka. Dan aku harus mulai sekarang. Aku harus sehat, aku bersumpah.

Tebet, 21 Maret 2013
ditulis sehabis kontemplasi di atap rumah, diiringi kicauan burung dan semilir angin sore