Daftar Lomba Menulis Periode April 2013

hallo tante (mak’ku aritonang)…izin reblog yaaa…mantap informasinya 😉
Selamat berlomba 😀

dearmarintan's blog

Bulan baru, semangat baru! Setelah mengecek arsip blog selama bulan Maret, gue menyadari betapa nggak produktifnya gue. Bayangin, masa sebulan cuma bisa nulis empat postingan doang sih? Oemji, parah banget! >.< Mohon jangan ditiru ya, sodara-sodaraaa~

Supaya makin semangat nulis, gue kembali hadir membuat rangkuman lomba nulis bulanan. Kali ini ada beberapa info lomba menarik yang berhasil gue rangkum untuk kalian. Lomba-lomba nulisnya menantang dan hadiah-hadiahnya menarik! Dari sekian banyak info lomba yang berseliweran, hanya lomba-lomba yang keren aja yang gue muat di sini. Ada lomba apa aja sih buat bulan April? Penasaran yaaa? Hehehe, silakan disimak info lengkapnya berikut ini~

View original post 339 more words

Ayah, Benarkah Yesus Mati Karna Aku?

Langkah cepat gadis kecil itu berubah jadi lari. Nafasnya beradu, rambutnya berkibaran melawan angin, tangannya memegang tali ransel yang bertengger di punggungnya. Sesekali sepatu kets berwarna biru kuning itu membentur kerikil yang agak besar bikin dia hampir terjatuh. Namun dia terus berlari semakin kencang. Airmata mulai membasahi pipinya. Sambil terus berlari dia terisak-isak. Dia merasa bersalah dan dia harus melakukan sesuatu untuk itu.

“Prang!” pagar rumah yang cukup berat untuk seusianya dia dorong sekuat tenaganya dan membentur tembok disampingnya. Dia tercekat dan berhenti. Dia berbalik ke arah pagar dan tembok. “Maaf ya Gar, maafin Utet ya Embok, sakit yaa…nanti Utet obatin ya,” terisak dia mengelus pagar dan tembok yang catnya sudah usang.

“Ayyyyaaaaaaaahhhhh!!!” teriaknya ga tahan lagi. Tangisnya pecah.
Sang ayah, yang baru saja selesai mandi, sedang menikmati secangkir teh dan roti bakar sebelum berangkat ke ibadah Minggu Paskah. Dia kaget sekali seakan jantungnya melompat. Putri sulung dan kesayangannya menangis. Ada yang salah nih. Sang ayah segera bangkit dan setengah berlari menyambut putrinya yang tangisnya semakin kencang lalu menggendongnya. ‘Duuhh, sudah berat sekali kau, nak!’ pikirnya tapi tak mengapa. Tangisan itu keliatan lebih berat.

“Butet kenapa nangis, inang*?” tanyanya lembut sambil menghapus airmata dari pipi Utet.
“Utet bikin salah…hiks…Utet ga mau dia mati…hu..uuu..uuu”
“Hah! Siapa yang mati?! Utet salah apa?!” ayahnya panik. Gadis kecilnya mem…oh noo! Melanjutkannya saja dia ga berani. Ga mungkin!
“Benarkah Yesus mati karena Utet, Yah?”
hhhhhhh…ayahnya lega selega-leganya. Itu tooohh. Tapi ini berat nih.
“Kenapa Utet bilang begitu?”
“Kata Ka’ Dani Yesus mati untuk ngapus dosa manusia…itu kan berarti…hiks…karena Utet…huuu…uuu…” tangisnya meledak lagi.
Si ayah menatap gadis kecilnya terharu. Mendekapnya lebih erat dan merasakan jantung Utet berdetak kencang. Dia baru saja masuk semester kedua di tahun pertama sekolah dasar, bagaimana dia bisa berpikir sampai kesitu. Dan bagaimana pula aku harus menjawabnya, pikirnya.

Yesus mati (foto:paulusdarmawan.blogspot)
Yesus disalibkan

“Hmm…sayaang, kalau ayah minta tolong sama Utet, Utet mau ga?”
“Mau…” masih terisak.
“Kenapa?” ayahnya tersenyum.
“Karena…Utet sayang ayah” tangisnya mulai berkurang.
“Hmmm…ingat ga si Manis, kucing kesayangan ayah?”
“ingat…Utet juga sayang banget ama si Manis”
“Nahh, ingat ga bulan lalu waktu dia kejebak di selokan yang dekat lapangan bola? Selokannya udah kering, si Manis masuk ampe ke dalam. cari apa yaa dia waktu itu?…hmmm…nah, tapi kan selokan itu udah hampir ketutup semua, cuma ada lobang kecil. Ayah coba masuk ga bisa karena lobangnya terlalu kecil untuk badan ayah.”
“Iya…Utet ingat, trus Utet bilang biar Utet aja yang masuk! Kan badan Utet masih kecil” tangisnya berhenti, senyumnya merekah.
“Utet kenapa mau masuk waktu itu?”
“Karena kata ayah kayaknya ekor si Manis kejerat kawat duri, trus Utet liat Ayah sedih. Utet sayang ayah, Utet juga ga mau si Manis kesakitan begitu.”
“Tapi ayah sedih waktu Utet masuk situ, Utet jadi kotor, tangan Utet juga luka kena kawat durinya.”
“Utet gapapa kok yah, yang penting si Manis selamat…kan lukanya juga udah sembuh…nih, tinggal bekasnya doang” dia tunjukin bekas-bekas luka di jemari tangannya.
Si ayah tersenyum, gadis kecilnya memang hebat.
“Utet,apa yang Utet lakuin itu sama seperti Yesus juga. Utet rela luka demi selamatin si Manis dan karena sayang sama Ayah. Yesus juga begitu, Dia tau hanya dia yang bisa selamatin manusia, jadi dia rela mati demi kita. Bapanya juga sedih kok waktu ngirim dia ke dunia, sama kayak ayah sedih dan kuatir waktu kamu masuk lobang itu.”
“Tapi kenapa Yesus harus mati, yah? Kan Dia orangnya baiiikkk banget. Kenapa ga cuma luka-luka aja?”

Ayah berpikir gimana jelasinnya. Dan masih berpikir…
“Mungkin bunda tau jawabannya, nanti kalo bunda pulang kita tanya yaa?”
“hmmm…okee..”
“Tapi ada kabar baiknya kan, Yesus hidup lagi trus lukanya juga sembuh, tinggal bekas doang…sama kayak ini…” dia cium dan pura-pura menggigit jemari Utet. Utet tertawa geli. ‘Ah, senangnya dia sudah tertawa lagi’ batin ayahnya.
“Tapi yah, bekas luka Utet ini bakal ilang ga?”
“hmmm…mungkin saja. Tapi ayah pikir, kalo ga ilang ayah tetap bangga kok sama Utet. Luka itu tanda Utet pernah nyelamatin nyawa orang lain….”
“Kucing yah, bukan orang…”
“hahahahaha…iya yaaa…” sambil dia gelitikin Utet dan mereka tertawa bahagia.
Bahagia Yesus telah mati dan bangkit kembali.

Yesus bangkit (foto: sangsabda.org)
Yesus bangkit (foto: sangsabda.org)

Selamat Paskah
Tebet, ditulis 29 Maret 2013

*Bahasa Batak, inang arti harfiahnya ibu. Namun sering digunakan sebagai panggilan sayang kepada anak perempuan yang masih kecil.

Yesus mati (foto:paulusdarmawan.blogspot)

bahasa Indonesia dan daerah untuk orang tua, bahasa asing untuk anak-anak

Inilah yang terjadi kalau sudah lama tidak menulis. Ada sebongkah ide untuk ditulis tapi ga ada ide untuk memulai menuliskannya, not event a hint.  Beberapa bulan lalu, saat aku mulai ‘menikmati’ keberadaanku di rimba Jakarta ini, ide-ide itu beterbangan menyerang bak lebah diganggu aktivitasnya sedang memproduksi madu dan balik menyerang si pengganggu. Dan saking belum punya waktu menuliskannya, terciptalah sebuah list ‘Ide Tulisan’ di note kecil itu. Nah, setelah sekarang banyak waktu, mati kutu mau mulai dari mana.

Jadi supaya postingan kali ini tidak menjadi sekedar ‘a bunch of crap’, maka saya gelontorin aja pemikiran yang agak cukup memenuhi otakku belakangan ini.

Sesuai judulnya, akhir-akhir ini saya cukup dalam memikirkan tentang bahasa ini.

Kemarin ke Kota Kasablanka. Semua judul counter dan toko didalamnya berbahasa Inggris atau dalam bahasa asing lainnya. Mulai dari Scoop, Kid’s Station, Eat and Eat (padahal mayoritas isinya masakan Indonesia, dan setelah memutari stand2nya, semua makanan Indonesia dijuduli dengan bahasa Indonesia ‘Nasi Gudheg Malioboro’ dll), Movie…something. Yah, masih banyak lainnya. Saya nyelutuk, judul mallnya ‘Kota Kasablanka’ tapi nyaris ga ada isinya yang Indonesia.

Jadi ingat beberapa hari lalu sempat ngobrol dengan mba Retna (produser di kantor) soal bahasa. “Menurut mba, memperkenalkan bahasa Inggris pada anak sejak dini gimana?” Begitu kira-kira pertanyaanku. “Boleh-boleh aja, beberapa kata”, jawab mba Retna. Tau-tau perbincangan kami berlanjut sampai ke bahasa daerah, yang kayaknya hanya diketahui ‘kaum tua-tua’ aja (kalaupun orang muda ada, ya sedikit). Anak-anak, apalagi zaman sekarang, dicekoki bahasa Inggris. Dan sepertinya pada beberapa sekolah mewajibkannya dan orangtua mengaminkannya sebagai sebuah bentuk modernisasi. Anak-anak dalam konteks yang saya bahas adalah balita.

Adalah benar anak pada masa golden age-nya adalah masa paling sempurna untuk dinutrisi dengan berbagai hal sebagai fondasi hidupnya kedepannya. Termasuk bahasa ini. Kalau dari masih orok sudah diajak bicara dalam bahasa Indonesia dan konsisten dan kontinyu, ya akan fasih bahasa Indonesia. Saya dari orok diajak bahasa Batak, ya saya fasih bahasa itu. Yang menjadi pemikiran saya adalah, sepertinya orangtua zaman sekarang sangat kuatir anaknya tertinggal dalam zaman modernisasi termasuk ke-bahasaInggris-an ini, sampai-sampai anak Indonesia banyak yang lebih mengerti bahasa Inggris daripada bahasa Indonesia.

Terus terang saya juga agak bingung. Saya punya anak. Ketika saya titip dia di daycare, hampir sepanjang hari mereka mengajak semua anak berbahasa Inggris. Ketika saya jemput, eh dia sudah tau memperagakan ‘shake hand’. padahal saya belum mengajarkan itu padanya. Saya ingin fokus mengajarkan bahasa Indonesia dulu biar ga amburadul bahasanya – kayak bahasa anak muda sekarang (ini kata Kompas). Tapi ternyata pemikiran saya juga tidak sepenuhnya benar, begitukah?

Kembali ke judul. Karena keadaanya sudah begitu sekarang di Indonesia maka bisa jadi banyak anak muda yang tidak tahu lagi bahasa daerah, bahkan bahasa Indonesianya berantakan tapi bangga sekali dengan bahasa Inggrisnya. Jangan salah mengerti. Saya sangat senang belajar bahasa. Saya sendiri masih ingin  memepelajari bahasa asing lainnya. Tapi bukankah memulai dari akar itu menyegarkan? Akar yang kuat justru akan membuat bangsa ini kuat. Yuk, kita kuasai seluruh bahasa asing di dunia ini – lagi-lagi, kata Julia Gillard, itu modal untuk bisa berpatisipasi aktif dan terus naik dalam dunia yang semakin tidak mengenal batas ini.
Tapi jangan sampai kita lupa akar kita, bahasa Batak, Jawa, Betawi, Sunda, Toraja, Papua dan Indonesia. Kalau kita berbahasa Indonesia dengan baik, bahasa Inggris dan bahasa asing lainnya juga akan gampang dipelajari.

Horas!