47 RONIN: PEMBALASAN SAMURAI TAK BERTUAN

47 ronin
Pembalasan 47 ronin (samurai tak bertuan) yang terkenal ini diilhami kisah nyata pada abad 18 di Jepang. Diantara banyak kisah samurai yang sudah difilmkan, 47 Ronin merupakan kisah yang disebut-sebut sangat tepat menggambarkan ‘bushido’ (symbol kehormatan samurai).

Film diawali dengan kematian sang pemimpin samurai, Asano Naganori (Min Tanaka). Asano terbukti melukai seorang pejabat bernama Kira Yoshinaka (Tadanobu Asano), dan untuk itu Asano harus melakukan ritual seppuku (ritual bunuh diri). Agak berbeda dengan bukunya yang menyebutkan Asano melukai Kira karena Asano mengetahui Kira adalah pejabat korup. Dalam film ini, Asano disihir oleh penyihir Kira (Rinko Kikuchi) yang mengaburkan pandangan Asano dan lalu melukai Kira. Saya sih belum baca bukunya, tetapi review bukunya di Goodreads dan Wikipedia tidak menyebut-nyebut adanya penyihir. Kalaupun ada seharusnya elemen sepenting itu tidak terlupakan dalam sinopsis atau review. Karena si penyihir ini memainkan peran penting dalam pengambilan keputusan si pejabat korup, Kira.

Oishi (Hiroyuki Sanada), tangan kanan Asano, kemudian merencanakan pembalasan atas kematian tuan mereka. Setelah setahun berada dalam lobang tahanan, Oishi dibebaskan dan mulai mengumpulkan ronin yang sudah berserak dan berpindah profesi. Nah lagi-lagi, dalam review bukunya disebut bahwa pembalasan dendam ini delakukan setelah 2 tahun kematian Asano. Kenapa harus 2 tahun? Oishi sengaja merencanakan ini untuk mengelabui Kira. Seiring waktu berjalan Kira akan menganggap para samurai tak bertuan sudah tak berbahaya lagi dan tak punya keinginan membalas dendam. Nah, saat Kira lengah seperti inilah rencananya Oishi dan para ronin akan membalas dendam. Masih dalam review bukunya di Wikipedia, Oishi disebut-sebut mabuk-mabukan selama 2 tahun ini dan meyakinkan seluruh penduduk desa dan Kira sendiri bahwa ksatria samurai sudah berakhir, padahal aksi mabuk-mabukan ini hanya berpura-pusa saja. Namun di film ini, Oishi tak bisa langsung balas dendam karena dia harus ‘dipenjara’ dulu di lubang selama setahun. Itu sesuai dengan perintah Kira kepada tentaranya “masukkan Oishi ke lobang, patahkan semangatnya”.

Adalah Kai (Keanu Reeves), yang disebut-sebut sebagai anak campuran iblis dan manusia, yang akhirnya membantu Oishi. Kai ditemukan dan dibesarkan oleh Asano ketika Kai masih kecil. Tidak ada yang tahu darimana asal Kai. Semua warga menganggap Kai adalah anak campuran iblis dan tidak ada seorangpun yang menyukainya kecuali Asano dan putrinya, Mika (Kô Shibasaki). Hubungan Kai dan Mika berubah menjadi cinta namun terlarang. Sebelum kematian Asano, Kai sendiri sudah berkali-kali mengingatkan Oishi tentang si penyihir namun sama seperti yang lainnya, Oishi menanggapi Kai dingin dan balik mengejek “ hanya turunan iblis yang bisa melihat kaumnya (penyihir, dll)”. Pada saat Oishi bebas, Kai-lah yang pertama sekali dia cari dan dia yakin dapat membantu mereka membunuh Kira dan menyelamatkan Mika yang dalam hitungan jam akan dinikahi secara paksa oleh Kira. Mengingat hutang budinya kepada Asano, Kai bersedia membantu Oishi. Menyelamatkan Mika dari cengkeraman Kira, adalah juga alasan Kai mau bergabung dengan Oishi.

Usaha balas dendam para ronin ternyata tidak gampang, Kira dibantu dengan penyihirnya bukan musuh yang mudah dikalahkan. Selain kurangnya senjata, ronin yang tersisa hanya 47. Disinilah, keteguhan hati dan loyalitas samurai ini dipertaruhkan. Asal usul Kai terungkap dalam perjalanan mereka mencari senjata. Ada yang unik namun sangat fundamental tentang asal-usul Kai. Bahwa ternyata pemimpin tempat Kai berasal sengaja menjadikan tempat itu menjadi utopia hidup yang ‘bersih’ dan terbebas dari kecemaran dan hawa nafsu dunia, meskipun bagi Kai, hal itu justru mengekangnya. Kai berpikir harusnya dia hidup berbagi dengan manusia lainnya.

Sebagai kisah yang telah melegenda, kisah 47 Ronin memang yang paling terkenal dalam sejarah samurai Jepang. Lambang kehormatan samurai benar-benar dijalankan dengan tepat oleh ke 47 ronin. Tetapi sebagai sebuah cerita saya lebih menyukai The Last Samurai. The Last Samurai tidak banyak menyuguhkan aksi bunuh-bunuhan, pedang-pedangan, dsb namun menghadirkan sebuah ‘cerita’ – konflik internal si kakang Tom, masa lalu, konflik dgn timnya yg jadi musuhnya, persahabatan dgn penyandera, kisah cinta tak terungkapkan, dan perenungan dan pergumulan si tokoh utama (Tom Cruise). Seandainya benar dibukunya tidak ada si penyihir dan Kai, maka kisah 47 ronin kurang lebih sama dengan kisah pembalasan dendam lainnya. Dan seandainya difilmnya juga tidak ada si penyihir dan Kai, akan sangat flat, berat dan membosankan. Keberadaan si penyihir dan Kai terutama, membuat film ini jadi hidup. Oke, emang kayaknya saya harus baca bukunya nih! Saat keluar dari studio, penonton menggerutu ‘apa artinya tuh gambar si cowok dgn tato tengkorak diwajah dan pegang pistol padahal cuma muncul 5 detik or so…?’ Indeed, ini satu hal yang ga penting juga untuk ditampilin di poster. Saat calon penonton melihat gambar-gambar film yang akan ditonton, sudah ada ekspektasi lho, so be careful!

Well, harus saya akui teknologi canggih ini membuat film-film action dan fantasy selalu terlihat woow apalagi nontonnya di bioskop. Untuk itu, kudu nonton deh, di bioskop yaa…kecuali ente punya home theater di rumah :p

47 Ronin sempat ditunda penayangannya berulang kali. Awalnya diumumkan pada 21 November 2012, namun diundur pada 8 Februari 2013. Secara global 47 Ronin siap dimainkan bertepatan dengan perayaan natal pada 25 Desember 2013. Untuk Indonesia sendiri, 47 Ronin sudah tayang di Cinema 21.

Happy watching, though! :D

Judul : 47 Ronin
Durasi : 119 menit
Sutradara : Carl Rinsch
Genre : Action, adventure, fantasy

Desember : Apa Artinya Bagimu?

 

 

Desember.

Bulan ini sungguh penuh makna. Penuh dalam arti yang sebenarnya. Harfiah. Bukan konotasi. Sewaktu kecil rasanya satu-satunya bulan yang ditunggu-tunggu adalah bulan Desember, selain bulan ulang tahun (nah, gimana sih, itu berarti bukan satu-satunya lagi donk?). Karena Desember artinya Natal. Natal artinya bulan penuh damai (saya tau, kamu mengangguk untuk yang satu ini kan? ). Banyak liburnya jadi ga pusing dengan tugas-tugas sekolah. Kalau masuk sekolahpun biasanya jam pelajaran habis tersita untuk latihan-latihan perayaan natal. Yup! Itu yang terjadi ketika saya SD dulu. Setiap level tingkatan punya dua kelas, A dan B yang digilir masuk setiap harinya. Kalau A masuk pagi maka B masuk siang dan sebaliknya. Di bulan Desember kedua kelas di semua tingkatan biasanya berubah jadwal. Semuanya masuk pagi sehingga pulang sekolah bisa latihan bersama. Hampir setiap hari begitu apalagi mendekati hari H perayaan. Bisa kebayang kan betapa penuh sesaknya kelas yang mejanya hanya diperuntukan untuk 40 orang tiba-tiba didobel setiap hari. Tetapi penuh sesak ini lagi-lagi berarti berbeda bagi anak-anak SD. Bisa dipastikan baik guru maupun siswa ga konsentrasi belajar dan mengajar. Bagaimana tidak? 1 meja direbutin 3-4 orang? Yang ada, PESTA! Pesta gossip buat cewek (Yup! Kami sudah tau gossip duluu…) dan pesta (hhnm…aku ga begitu tau apa yang dilakukan teman-teman cowok dulu saat begini). Begitu terus sampai January tiba. Inikah damai? Bagi saya yang dulu sangat tidak suka beberapa mata pelajaran, iya! Bagi teman saya yang sangat tidak suka pada banyak mata pelajaran, Iya! Bagi teman saya yang sekolah hanya karena dipaksa orang tua, IYA-dan-HADIR-SETIAP-HARI!

Itu arti pertama-yang-beranak-pinak dari segi hubungan Desember ama aktivitas sekolahan. Arti kedua yang saya harap tidak akan beranak pinak: Desember berarti Damai. Lhoo, kok sama? Iya, ini dari sudut pandang saya pribadi. Sebagai korban dari film-film Hollywood dan media-media barat yang selalu menayangkan bahwa Natal itu adalah rumah dengan nuansa hangat dan menyenangkan – you know, pohon natal sampai dilangit-langit rumah dan didekor oleh seisi rumah, hadiah-hadiah natal di bawah pohon natal, semua pernak-pernik rumah mulai dari gorden sampai keset bernuansa merah-kuning-hijau, perapian, kue-kue natal, Rudolph si Rusa Hidung Merah memimpin kereta Santa membagikan hadiah dan meninggalkan 1 buat saya di kaus kaki, salju dan anak-anak yang menyanyikan Christmas carols mengetuk pintu- saya selalu membayangkan dan diam-diam mengharapkan bahwa itulah Natal yang sebenarnya. Natal yang saya inginkan terjadi di tempat dimana saya tinggal. Tapi itu tidak terjadi. Tidak ada salju. Pohon Natal hanya setinggi ketiak. Hadiah Natal di bawah pohon tidak ada, yang ada hanya kado bohongan yang saya ciptakan supaya pohon Natal yang imut itu keliatan ga kesepian. Santa dan Rudolph hanya tinggal gambar yang saya potong dari koran Kompas dan tertempel di dinding kamar. Tapi saya merasa sangat damai. Karena ini Natal. Natal! Apalagi bulan yang lebih baik dari ini?! Saya usul ke mama’ untuk ganti semua gorden dengan yang warna merah. Beberapa bulan sebelumnya saya ikut voting keluarga pemilihan warna karpet, lagi-lagi merah. (Bukan) kebetulan kursi berbusa (bukan sofa) itu berbaju merah. Ha! Semakin damailah perasaan karena sesuatu yang baru wajib hukumnya di bulan Natal. Baju baru (seandainyapun mama’ bukan pedagang pakaian, pasti kami anak-anaknya tetap dikasih baju baru setiap Natal mengingat track record mama’ yang stylish). Di bulan Desember, anak-anak bisa keluar rumah sampai larut dengan alasan utama nonton perayaan natal kampung anu dan sekolah anu. You see, perayaan Natal di Balige itu adalah salah satu yang terheboh. Setiap kelurahan pasti menyelenggarakan perayaan Natal. Dan bukan sekedar perayaan yang biasa saja. Ada panggung besar beralaskan puluhan tong-tong minyak besar yang diatasnya ditutup dengan papan, tenda-tenda anti-hujan terpasang didepannya untuk ratusan bahkan ribuan peserta/penonton. Belum lagi, setiap kampung atau kelurahan yang ‘berNatal’ itu wajib berparade di sepanjang jalan raya atau jalan utama di Balige. Tujuannya, sebagai undangan tidak langsung dan juga ajang ‘Natal kami lebih jagoo’. Jadi, anak-anak, remaja, bahkan ibu-ibu sampai lansia akan berlari-lari gembira mendatangi jalan raya tatkala bunyi musik terompet dan genderang mengumandangkan lagu Natal di udara. Dan untuk anak-anak dan remaja, aha! satu alasan lagi untuk keluar malam sampe larut, baby! Coba, kurang damai apalagi Desember ini! Ga ada yang kayak begini di Jakarta! Dan mengingat-ingat perasaan itu, saya yakin teman-teman juga masih merasakan hal yang sama sampai SMU.

Loncat. Setelah dewasa (silahkan diartikan arti dewasa ini denganversi masing-masing – kalau versi saya: menikah dan punya anak), arti Desember yang banyak ini agak berubah. Masih penuh. Damai tetap ada didalamnya. Ada tambahan, mencekik. Ingin sekali membelikan sesuatu buat anak, suami, ponakan, orangtua, tetangga (ini mah lebay yaaa…) tapi tiba-tiba ada gelembung-gelembung pengingat beterbangan di otak ‘ingat, lagi berhemat untuk hunian’. Coba diabaikan, eh muncul lagi ‘ingat, kontrak kerja berakhir taun depan’. But this is Christmas (kata saya ke gelembung-gelembung itu), dia muncul lagi ‘terserah lo, asal lo ga nyesal ya bulan January! Ah, dilema ibu-ibu. (Saya dan beberapa teman merasa dilema nih, kalau kamu merasa begini share yah, bukan untu kasih tau seberapa tipis isi dompet kita dan seberap pelit kita, tapi untuk berbagi rasa, ga selalu mudah menjadi seorang ibu, meskipun saya yakin ga ada lagi pekerjaan lain di dunia ini yang bisa bikin kita sedamai menjadi seorang ibu, benar ibu-ibu? ).Kembali ke percakapan saya dan gelembung tadi, tapi saya pengen kasih, it’s nice to give something you know. Si gelembung jawab ‘terserah…bikin list isendiri ya, gw malas bantuon lo!’ Lagipula, bagaimana bisa saya menolak tawaran diskon up to 70% dari Anu Department Store dan bla bla bla. Kamu bisa? Apalagi sepatu yang kamu idamkan berpose disana dengan harga miriiiiing banget. Bisa??

Nah, itu dia. Desember sebagai bulan damai itu akan selalu eksis – entah sampai kapan. Namun seiring waktu maknanya mengalami penyesuaian. Saya sendiri sebenarnya ga mau membuat ‘damai’ itu mengalami penyesuaian. Karena damai, ya damai aja. Israel-Palestina masih perang terus gencatan senjata dulu karena Benyamin Netanyahu kelahiran cucu (misalnya), berarti ga damai. Damai artinya damai. Ga disesuaikan. ‘Damai tapi agak nyesal’, ‘damai tapi ga sepenuh hati’ –  no! no!

Ataukah, itu dilema hanya dialami keluarga baru?  Masih belajar gitu untuk mengatur banyak hal, termasuk menyeimbangkan distribusi Christmas gifts dan slogan ‘hidup bukan hanya hari ini saja’. Atau mungkin ga kalau di bulan Desember atau Lebaran nih buat yang muslim, kita ikuti anti-slogan itu aja? ‘Kan amal? Eh, tapi beberapa bulan lalu saya baca di tips mengatur keuangan si pakar bilang ‘oke, nikmati hari libur ini, tapi jangan sampai menangis di bulan depannya karena tagihan kartu kredit melonjak’. Ha!

Oke…sekarang saya malah semakin panjang dan lebar.

Well…ketika di kereta tadi, saya melakukan perenungan. Damai mestinya ga saya sesuaikan apalagi ganti artiya. Tetap aja begitu. Karena ga semua orang bisa merasa damai meski ditengah harta berlimpah. Kalau saya damai memberikan hanya barang yang sangat mahal namun sangat berarti kepada seseorang, saya yakin kedamaiannya juga berlipat dan saya pasti hidup lebih berarti. Kalau saya ga mampu kasih apapun, hanya bisa bernyanyi Deck The Halls dan lain-lain bersama putri saya (sambil dia maksa saya menari-nari dengannya) dan membacakannya bedtime stories, itu pasti bikin dia damai dan saya dipastikan sudah merasa menjadi ibu yang baik dan semakin lagi ingin menjadi ibu yang lebih baik lagi. Dan dengan merasa begitu, kurang damai apalagi coba??

Jadi Desember artinya banyak bagiku, tapi yang paling puncak: damai.

Soo, apa arti Desember bagimu?

 

merry earlier Christmas

Gali Lebih Dalam, Sayang…

“It’s funny…on the outside I was an honest man. I’ve got to get into the prison to be a crook” Tim Robbins – Shawsank Redemption

I was in desperate looking for motivation and inspiration last week. I know you’ll say,” Why don’t you look inside?” Well… I have! But apparently, it only stayed no longer than an hour. I needed something more…ironic and intriguingly!

I usually get inspiration easily just by watching inspirational movie. But defining ‘inspirational movie’ would be relative, wouldn’t it?

So I chose Shawsank Redemption. It fitted my needs: ironic and intriguingly! And it was the fourth times I’ve been watching it.

Sahwsank Redemption tells about the nature of human being to survive and feel normal even in worst situation without losing his idealism. Tim Robbins played Andy Dufresne marvelously, a banker who is convicted to murder his wife. He is innocent just like others sent to Shawsank. “The lawyer fucks me!” These are common words among prisoners when a new fish asks how they got into Shawsank. But the truth is; only the guilty are sent to Shawsank.

Andi, knowing that he is innocent – it reveals in the end of the movie that someone freak killed his wife – has had a big plan for his own life since the day he steps in Shawsank.

To my desperation looking for inspiration of getting the best out of me, I found myself taking notes on what Andy has been doing to make his almost twenty-years-of-innocent-in-prison meaningful..or I should say…normal!

• Having a hope; being stuck in jail for something he’s not committed doesn’t make Andy lose hope. He brings up hope surround his friends who refuse to have it just because it will hurt more. “Music is in here (he points at his head) and here (and points his heart)… They cannot steal it from you. Hope…”

• Keeping his faith and values he believes in and not being institusionalized.

•Making the best out of his ability and being consistent; he helps the prison guards with their financial and tax payment.

• Having guts to take the risk; when offering help to the guards, sending the Board letters asking for fund to the library every week , escaping the prison into his freedom, breaking out the conspiracy and coruption in prison.

I should say… if I ever met someone like that in real life, surely I would just need to ask him as a friend of mine in face book 🙂

Anyway… I certainly got what I expected to have by watching it. For someone who thinks that his ability isn’t really well applicable lately due to unsupportive condition and place, that movie would be a prefecto choice.

Yet…outside spur will never last. It’s always best to dig inside…deeper and deeper! Won’t you agree with me?