Menjadi Anak-anak Terang

@vinabutarbutar
@vinabutarbutar

Beberapa hari ini warga Jakarta dan mereka yang terhubung dengan warga Jakarta via bbm dihebohkan dengan berita tentang keberadaan seorang pria yang berkeliaran di Jakarta Selatan membunuh anak-anak dan perempuan untuk menambah ilmunya. Kemarin berita itu saya baca pertama kali lewat broadcast seorang pendengar. ‘Sindo, mohon konfirmasi kebenaran berita ini, karena ini sangat meresahkan.’ Begitu isinya. Hal pertama yang muncul di benak saya adalah anak saya dan pengasuhnya dirumah. Kata berita itu, pembunuh ini sudah di Pasar Minggu. Kalau Anda seorang ibu, punya anak kecil dan perempuan pula, dan bekerja di luar rumah, bagaimana reaksi Anda? Kedua, sebagai pelaku media, saya wajib memberikan jawaban yang benar dan dari sumber terpercaya. Cari di situs-situs berita, ga ada. Tanya ke produser juga belum ada yang bisa konfirmasi.

Beberapa saat kemudian saya sudah lupa berita itu. Tadi malam ketika saya dalam perjalanan pulang ke rumah, saya cek twitter. Di timeline tempo.co ada beritanya ternyata dan baru diterbitkan. Pihak kepolisian sudah mengonfirmasi bahwa berita itu hoax. Bohong. Buat-buatan orang aja. ‘Masa’ sudah 40 orang dibunuh tapi ga ada laporan?’ Begitu kira-kira isinya. Seketika saya teringat lagi setelah terlupakan dan seketika ikutan lega, sedikit aja tapii, karena saya mulai belajar untuk tidak mau terpengaruh berita-berita negative.

Satu hal tiba-tiba terpikir bahwa dunia ini memang tempat pertarungan yang paling laris antara si baik dan si jahat. Betapa si positif masih berjuang teramat sangat keras menaklukkan si negative. Dan betapa berita positif itu terdengar seperti kecepatan bekicot sementara berita negative itu bisa tersiar seperti kecepatan cahaya dan menebarkan intimidasi ketakutan lalu menyisakan hampir tidak ada energy positif pada yang disinggahinya. Itu fakta saat ini. Manusia bisa berlama-lama sampai berhari-hari membicarakan gossip buruk tentang seseorang atau sesuatu dan mengulangi lagi lalu menambahkan asam dan cuka hingga berita itu semakin seru. Namun cerita yang baik bisa terdengar hanya beberapa menit saja, di-woow sejenak, dan lalu menguap begitu saja.

Saya juga sadar masih begitu. Namun kita bisa mengubahnya, bersama-sama. Lebih banyak lagi berbuat baik. Sering-sering menggosipkan yang positif dan menyiarkannya ke seluruh penjuru bumi. Ingatkah, betapa hati kita bersorak riang ketika menyaksikan anak kita mulai berbicara? Rasakan mata berair karena terharu karena seorang guru di NTT sana memberikan hatinya untuk pendidikan dengan fasilitas minim. Itu hal-hal kecil yang baik yang bisa kita broadcastkan dan gosipkan. Saya yakin semakin banyak kebaikan tercipta, semakin sering hal positif diperdengarkan, si jahat yang akan terintimidasi, kabur dan menguap.

‘Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu.’ Fil 4:8

Tebet, June 4, 2013

aku harus sehat, aku bersumpah!

Genap seminggu aku tidak kerja karena penyakit sialan ini. Tapi ntar dulu. Kata ‘sialan’ini harusnya kutekankan dengan nada syukur. Yeah, I know it’s weird. Karena kalo bukan karena penyakit ‘sialan’ini aku tidak akan sampai pada pemikiran ini. Yeap! Manusia memang aneh. Ada bayi dulu yang meninggal baru pelayanan rumah sakit diperbaiki. In my case, menderita sakit ‘sialan’ini dulu baru punya a brand new perspective.

Rabu malam lalu (13 Maret 2013), ceritanya serombongan penyakit ringan sepakat menyerang dan menjatuhkanku. Pilek, batuk, sakit kepala, diikuti demam dan nyeri otot super nyeri. Maka istirahatlah aku dari Kamisnya. Sabtu sore, ketika semua penyakit kecil itu berangsur pulih, penyakit ‘sialan’itu berteriak ‘gw mau elu apain?’ Dan lambung gku perih bukan main. Maag kambuh!

Sebenarnya tidak sepenuhnya kambuh. Karena 2-3 bulan ini belakangan gejalanya selalu mengisi hari-hariku (cieee)…mual, perih, dan segala makanan seperti ga berasa. Tapi Sabtu itu lebih perih dari biasanya. Jadi ke dokterlah aku. Setelah mendengarkan keluhanku dokter sarankan untuk teropong lambung. Dan setelah menimbang-nimbang 5 – 10 tahun kedepan, aku rela.

Aku sudah puasa dari tadi malam jam 23.30. jam 10.30 tadi pagi, dokter masih ada konsultasi dengan pasien lain padahal jadwalku jam 10.00. aku menghilangkan rasa kuatir akan pemeriksaan dengan maen game onet di cellphone. Disampingku suamiku senyum-senyum, sesekali tertawa kecil membaca artikel-artikel oleh anak didik dan tutor di Yabim, Depok. Rambut depannya berdiri bak Tintin, kaki kanan diangkat ke atas kaki kiri dan bundelan artikel itu sepertinya asik-asik aja dipangkuannya. Ga ada beban, ya rambutnya, ya bahunya, ya kakinya apalagi senyumnya. Dan dia sangat jarang sakit. Beda dengan aku yang belakangan ini sepertinya selalu diintai maag dan lainnya.\

Jam 11.15, tiba saatnya diperiksa. Setelah chit-chat sedikit dengna dokter Dharmika, spesialis Gastroendoskopi (kalau ga salah ini judulnya), dimulailah teropong lambung. Aku berbaring miring. Dokter menyemprotkan bius lokal ke mulutku 5 kali. Kebas dan tebal mulai terasa sampai akhirnya susah menelan. Di mulutku dikasih penyangga bibir, bentuknya bulat berlubang untuk memasukkan alatnya ke lambungku. Semacam tali seukuran jari telunjuk berwarna hitam. Diujung ada semacam kamera dan lampu kecil dan di sepanjang tubuhnya/tali itu ada tulisan penunjuk ukurannya dlm cm.

Aku tidak tahu sepanjang apa alat itu masuk ek dalam lambungku. Tapi sangat tidak nyaman. Seperti mengaduk-aduk isi perut tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa. Takut tindakan kecilku – apapu itu- hanya membuatku makin sakit. Hanya menunjukkan ekspresi tidak nyaman lewat mata yang berair dan suara tercekat. Oh, sangat tidak nyaman. Padahal dokter dan suster sudah berlaku sangat lembut. Saat alat itu diputer2 didalam lambung/usus/perut – whatever – seperti liso, aku berjanji ini terkahir kalinya ada barang/alat yang masuk melalui mulutku dan anggota tubuh lainnya. Tidak akan ada lagi. aku harus sehat. Aku tidak suka dengan perasaan tersiksa ketika ‘diaduk-aduk’itu. Aku harus bisa.

Ketika proses penyelesaian administrasi, aku duduk di salah satu kursi di lobi rumah sakit. Sepanjang mata memandang, orang tua. Hampir semua. Jadi inilah yang disebut-sebut di banyak quotes ‘masa muda dihabiskan untuk cari duit, masa tua untuk menghabiskan duit itu berobat’.

Oh, man! Aku tidak mau begitu. Aku ingin di masa tuaku aku tidak merepotkan siapapun karena aku sakit. Aku ingin tetap aktif dan melihat cucuku berkarya, atau berkarya bersama mereka. Dan aku harus mulai sekarang. Aku harus sehat, aku bersumpah.

Tebet, 21 Maret 2013
ditulis sehabis kontemplasi di atap rumah, diiringi kicauan burung dan semilir angin sore

Mencari Rumah Sakit Wakil Tuhan di Bumi

Setiap hari selama seminggu ini rasa sayangku kepada Zano bertambah. Seperti air sungai Ciliwung yang bertambah debitnya karena hujan tidak berhenti dan akhirnya meluap. Rasa tidak ingin kehilangan, rasa bersyukur yang terucapkan dan tak terlukiskan bercampur. Semua karena rasa marah, geregetan dan sedih akan peristiwa yang terjadi selama hampir 3 minggu belakangan khususnya seminggu ini.

Sabtu, 16 Februari 2013, bayi Dera Nur Anggraini (6 hari) meninggal dunia karena lambannya respon rumah sakit. Diduga 10 rumah sakit yang didatangi menolak dengan alasan ruang neonatal intensive care unit (NICU), ruang perawatan bagi bayi baru lahir yang memiliki gangguan kesehatan, sudah penuh. (Sumber: KOMPAS )

Foto : Liputan6.com
Foto : Liputan6.com

Senin, 18 Februari 2013, nyawa Zara Naven (3 bulan) tak tertolong karena keterbatasan biaya. Bocah malang yang mengalami kelainan jantung itu sempat dirawat selama dua bulan di satu rumah sakit Harapan Kita Jakarta. Tapi keterbatasan Jamkesda dari Pemkot Depok membuatnya tak bisa menjalani operasi. (Sumber: LIPUTAN6 )

Rabu malam, 20 Februari 2013, bayi Upik yang baru dilahirkan dinyatakan meninggal oleh bidan Rumah Sakit Bersalin Kartini. Ketika dibawa pulang oleh sang ayah dan akan dimandikan, tukang mandiin jenazah mengatakan bahwa bayi Upik masih bernafas. Haaa???!! Akhirnya Upik dilarikan ke RS Kartini sekitar pukul 20.00 WIB. Di sana tidak ada dokter, hanya ada bidan. Rumah sakit memberikan tindakan dengan memberikan nafas bantuan dengan oksigen. Pada pukul 23.00 WIB, rumah sakit memberitahu kepada Alizuar bahwa alat yang ada tidak memadai sehingga bayi harus dirujuk ke beberapa rumah sakit. Pihak RS mengatakan kalau memang ketemu rumah sakit rujukan harus Down Payment (DP) Rp15 juta. Karena tidak sanggup dengan biaya yang sangat amat mahal, anaknya tidak bisa terselamatkan lagi, dan meninggal pada pukul 23.15 WIB. Pihak rumah sakit lalu memberikan surat keterangan meninggal dengan data yang tidak lengkap dan terkesan asal-asalan, seperti jenis kelamin yang aslinya perempuan tetapi ditulis laki-laki. (Sumber: VIVA )

JUmat lalu, 15 Februari, Mohammed Hareez (4 bulan, Kuantan, Malaysia) mengalami perlakuan kekerasan yang sangat kejam dan brutal dari pembantunya yang berasal dari Indonesia. Hareez diangkat lalu dijatuhkan berkali-kali ke karpet/kasur tipis di lantai tempat dia digantiin baju. Pemandangan yang sangat menyayat-nyayat hati ibu manapun di dunia ini. (Sumber: ASIAONE.COM )

Belum lagi, Fatir Muhammad (1 tahun, Makassar) yang saat ini masih kritis setelah operasi pengambilan peluru yang bersarang di otak kecilnya. (Sumber: VIVA )

Berita-berita itu begitu membuat saya terguncang. Beberapa kali saya harus menahan air mata tidak turun ketika menyiarkan semua itu. Beberapa kali juga saya harus bersikap professional menahan suara supaya kedengaran tidak sedang menahan tenggorokan seperti tercekat karena menahan tangisan pilu itu. Beberapa hari lalu saya rela genjot-genjotan di KRL ekonomi ke Bogor demi cepat sampe rumah (karena itu kereta pertama yang dating) hanya supaya bisa cepat2 peluk anak saya dan main dengannya. Saya bayangkan perempuan-perempuan ini menanggung pilu yang teramat sangat sekarang. Ibu Dera yang belum sempat menyusui Dara (kembaran Dera) yang masih di incubator, akhirnya harus masuk rumah sakit lagi karena stress dengan kejadian ini.

Cinta dan sayang itu melampaui segala hal. Miskin, kaya, pemulung sampai presiden, semuanya akan melakukan segala hal atas nama cinta dan sayang. Namun tidak demikian yang terjadi. Pembuat dan pelaksana kebijakan di Negara ini ternyata tidak cukup cinta dan sayang pada warga negaranya, apalagi yang miskin. Dari dulu sampai sekarang (apalagi) orang tidak mampu/miskin selalu jadi korban kecarutmarutan system di Negara ini. Orang miskin ga bisa dapat pelayanan kesehatan yang layak – yang layak aja dulu, ga usah yg bagus. Orang miskin ga bisa dapat pendidikan yang layak, lagi-lagi. Semua karena DUIT. Jadi UUD 45 Pasal 34 yg bilang Fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh Negara, sudah tinggal tulisan aja sekarang. Usang, lecek.

Mau dimana lagi warga Negara mendapat perlindungan kalo bukan dari pembuat dan pelaku kebijakan ini? Penguasa dipercaya Tuhan untuk jadi wakilnya memerintah umatnya di bumi. Tenaga medis adalah tangan kanan Tuhan untuk membantu manusia. Tapi nyatanya…berita-berita diatas sudah cukup membuktikan sampai dimana dedikasi mereka pada tugas yang diembankan kepundaknya. NULL.

Okee, Jokowi dan PA akhirnya memperjuangkan. Kemenkes akhirnya investigasi. Setelah ada korban dulu. Mungkinkah kita berubah? Kita adalah bangsa yang cerdas. SEharusnya bisa menciptakan system yang cerdas pula. Bagaimana kita akan menciptakan dunia yang lebih baik bagi generasi penerus – balita-balita, bayi-bayi yang baru saja lahir, sedang dikandung – kalo system yang sekarang saja tidak pernah bisa menjawab kebutuhan masyarakat?

 

Tebet

SEPUCUK SURAT DARI ARAB SAUDI

-Surat dari seorang TKW terancam hukuman gantung kepada anak perempuannya di Jogjakarta.-
Anakku tersayang,
Tidak terlukiskan betapa bahagianya ibu mendengar suaramu seminggu yang lalu. Sesaat semua kepedihan ibu sirna dan teringat kembali alasan ibu harus meninggalkanmu 10 tahun yang lalu. Semuanya terbayar sekarang. Ibu minta maaf baru menulis surat ini sekarang. Beruntung ada staf KBRI yang mau menyelundupkan kertas dan pena ini. Katanya mungkin 2 minggu surat ini sampai ditanganmu, atau mungkin sebulan. Itu artinya… Aah, sudahlah. Itu tidak penting sekarang.
Nak, sejak detik pertama ibu memelukmu di pangkuan ibu, ibu merasa dunia ibu sudah lengkap dan sempurna. Kamu tau, kamu meremas telunjuk ibu dengan jemarimu yang mungil. Matamu bersinar. Saat itu ibu tau kamu akan jadi perempuan yang hebat. Ibu berjanji kamu harus sekolah yang tinggi biar ga kayak ibu. Hanya jadi tukang cuci dan setrika. Bayarannya kecil dan selalu terlambat. Ibu pernah coba melamar kerja di toko-toko atau swalayan itu, tapi mereka tidak mau menerima ibu. Katanya ibu tidak tau pake computer. Akhirnya ibu kerja di beberapa rumah dalam sehari biar duitnya cukup buat makan dan beli perlengkapan sekolahmu. Setoran ojek ayahmu ga selalu ada. Kamu tau hampir semua laki-laki yang ga kerja saat itu ngojek.
Suatu hari ibu ketemu seorang teman semasa SD. Sudah lama sekali ibu tidak melihatnya. Ternyata dia baru pulang dari Hongkong. Katanya dia kerja disana. Jadi TKW. Gajinya banyak dan majikannya baik. Dia tanya apakah ibu mau ikut dia. Ibu pikir-pikir kalau ibu pergi ibu tidak akan bisa melihatmu tiap hari. Tapi ibu pikir-pikir lagi, ibu harus cari duit yang banyak untuk menyekolahkanmu. Ibu bingung sekali saat itu. Ayahmu bilang ibu harus pergi demi kamu.
Rasanya berat sekali pergi. Kamu seperti cahaya dalam hidup ibu dan ibu harus meninggalkan cahaya ibu. Tapi tidak ada pilihan lain. Ibu minta maaf nak, harus meninggalkanmu secepat itu. Akhirnya ibu dibawa ke penempatan dan perlindungan TKI, apa itu namanya? Ibu memilih ke Hongkong, seperti teman ibu. Tapi ternyata ibu ga lolos ujian. Katanya ada syarat-syarat tertentu kalau ke Hongkong. Lalu ibu pilih ke Arab Saudi.
Semuanya berbeda di Arab Saudi. Majikan pertama ibu sangat kejam. Ibu hanya dikasih makanan sisa. Terlambat bangun dipukul. Makanan kurang garam dipukul. Pakaian kusut sedikit dipukul. Lantai tidak cepat kering habis dipel juga dipukul. Hampir semua yang ibu lakukan salah. Ibu tidak diperbolehkan punya henpon. Ibu hampir menyerah. Namun ibu ingat alasan ibu kesini. Kamu…cahaya ibu. Itu membuat ibu tidak memperdulikan siksaan itu. Ibu harus cari cara biar bisa mengirim kabar ke ayahmu.
Selama 10 tahun ini ibu sudah berpindah majikan beberapa kali. Semuanya hampir sama. Majikan ibu yang terakhir adalah malapetaka buat ibu. Ibu tidak mengerti mengapa dipertemukan dengannya. Padahal seumur hidup ibu merasa selalu menjadi orang yang tidak macam-macam, berusaha bersikap baik pada semua orang, ibu juga rajin berdoa dan tidak pernah membalas kelakuan jahat orang lain. Ibu tidak mengerti mengapa hidup ini tidak adil pada ibu. Ibu tidak tau apa salah ibu. Suatu hari suami majikan ibu tidak pergi kerja jadi hanya ada dia dan ibu di rumah. Ketika ibu sedang di kamar dia masuk. Dia mulai memaksa membuka pakaian ibu. Ibu teriak ketakutan dan minta tolong berharap ada yang dengar dan membebaskan ibu. Namun tidak ada. Dia merusak ibu. Begitu terus sampai beberapa lama. Suatu hari istrinya pulang dan memergoki. Lalu suaminya mulai menampar ibu dan bilang ibu menggodanya. Sejak saat itu mereka berdua tidak pernah berhenti menyiksa ibu. Ketika mereka menemukan henpon yang ibu selundupkan untuk bisa mengsms ayahmu, siksaan itu semakin berat. Setiap hari ibu dipukul, ditendang, dan dicambuk pake ikat pinggang. Makan hanya 1 kali sehari. Ibu tidak diperbolehkan keluar rumah. Gaji ibu tidak dibayar. Ibu tidak kuat lagi. Hari Sabtu, entah tanggal berapa itu di bulan Oktober, majikan ibu sedang ke rumah tetangga dan suaminya sedang tidur siang. Ibu benci dan jijik sekali melihatnya. Ibu ambil pisau yang paling tajam dan ibu tusuk dia beberapa kali.
Selama di kurungan ini ibu banyak merenung. Kamu, cahaya ibu, adalah orang yang pertama ibu harus meminta maaf. Ibu minta maaf telah membuatmu malu memiliki ibu pembunuh. Ibu minta maaf tidak pernah ada untukmu mengantarmu ke sekolah dan melihatmu tumbuh menjadi perempuan yang cantik. Harusnya ibu bisa bertahan demi kamu, cahaya ibu, tapi ternyata ibu tidak kuat. Ibu gelap mata. Maafkan ibu, nak. Maafkan…
Anakku sayang,
Waktu ibu hanya beberapa minggu. Kata staf KBRI itu, diyat yang mereka tawarkan demi menolong ibu tidak diterima. Ibu menyesal tidak bisa menyaksikanmu wisuda. Ibu bangga kamu menjadi lulusan terbaik. Ibu yakin kamu akan menjadi wartawan yang hebat. Tulisanmu akan bersinar sebagaimana kamu selalu menjadi cahaya bagi ibu. Ibu titip ayahmu ya, nak. Dia adalah cinta pertama ibu dan yang terakhir. Dia selalu setia pada ibu dan telah menjadi ayah yang sangat hebat untukmu.
Ingatlah, kamu adalah alasan ibu hidup, bertahan dan berjuang selama ini. Kamu telah dan selalu menjadi cahaya bagi ibu. Mulai sekarang kamu akan jadi cahaya bagi banyak orang. Ibu menyayangimu, sepenuh hati…

Ibumu,
Rukinah

Note:
Tulisan ini terinpirasi dari wawancara saya dengan staf Kemenlu dan Kemenakertrans tentang proses negosiasi pembebasan seorang TKI di Arab dan Malaysia yang terancam hukuman mati. Kelompok HAM yang memantau hukuman pancung di Arab SAudi adalah Amnesty International. Lembaga pemantau yang berpusat di London ini menyebut, tahun 2010 Saudi memancung 27 orang. Tahun 2011, 28 orang juga telah dipancung. Sebanyak 15 orang dipancung pada bulan Mei sendiri. Sedangkan pada tahun 2009, jumlah yang dieksekusi mencapai 67 orang, sedangkan pada 2008 sebanyak 102 orang. Amnesty International mendesak pemerintah Saudi menghentikan hukuman mati. (sumber: http://www.suaramerdeka.com)

Jokowi : Pemimpin yang Melayani

Jokowi di Bantaran Kali Ciliwung
Jokowi di Bantaran Kali Ciliwung (photo: m.detik.com)

Barang siapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu (Matius 20:27)

Coba Anda bayangkan kalau bus yang Anda tumpangi dikemudikan oleh sopir begini: Beberapa kali melanggar rambu lalu lintas. Harusnya berhenti di saat lampu lalu lintas menunjuk merah dia ngotot nyelonong dan bikin pengendara lainnya beringas karena hampir tabrakan.  Lalu ketika Anda dan penumpang lainnya menegur biar pelan-pelan, eh malah balik marah. Harus kejar setoran, ketus jawabnya. Akhirnya bus yang Anda tumpangi ini menabrak pembatas jalan. Polisi turun tangan dan menemukan masalah lainnya. Ternyata masa berlaku SIM-nya sudah habis. Semuanya dirugikan. Anda khususnya dari segi waktu, uang dan umur. Uang karena Anda harus naik kendaraan lainnya demi sampai di tujuan. Itu artinya bayar lagi. Emang sopir kayak begitu masih sempat mikirin penumpang? Yang ada ongkos Anda tidak dibalikin. Umur? Iya. Sepanjang dia nyetir Anda gelisah dan ketakutan. Pegangan erat-erat ke apapun yang bisa dipegang jaga-jaga kalau terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Kegelisahan dan ketautan Anda otomatis mengurangi umur Anda.

Itu hanya ilustrasi. Saya tidak berharap Anda berada di situasi itu meski mungkin beberapa kali mengalaminya. Kalau sopir dianalogikan dengan seorang pemimpin baik itu pemimpin rumah tangga, kotamadya, negara, atau perusahaan bisa dibayangkan kecelakaan seperti apa yang menimpa ‘para penumpang’ yang dia setiri ini. Indonesia sepertinya mengalami krisis kepemimpinan di banyak lini. Kasus Bupati Aceng yang hot benar-benar merusak kepercayaan masyarakat bahwa masih ada pemimpin yang baik. Alih-alih memimpin daerahnya dengan lurus dan bersih, Aceng malah sibuk nikah siri dengan Fani Oktara yang layaknya jadi anaknya. Begitu sibuknya hingga pernikahan hanya berlangsung 4 hari. Coba, anak-anak muda di Garut akan melihat siapa sebagai panutan ( a leader to look up to) kalau bukan Aceng. Dan kalau seperti ini pemimpinnya mau dibawa kemana Garut? Akan jadi apa pemuda-pemudi disana? Tukang kawin-sirih-lalu-cerai-beberapa-hari-kemudian?

Di Sindo Siang tadi, saya baca tentang seorang pemimpin yayasan keagamaan yang menaungi anak-anak yatim di Tangerang Selatan tega berbuat asusila kepada anak didiknya. Pelaku berinisial MMS (30) itu telah melakukan pelecehan kepada tiga siswi didiknya, yakni SL (16), AL (15), dan AN (17). Kompas.com menyebutkan selama ini MMS dikenal sebagai seorang pemuka agama dan memimpin Yayasan DIA atau yang biasa disebut Istana Yatim di Jalan Cabe, Pondok Cabe, Tangerang Selatan. Ia merupakan pemimpin tertinggi di yayasan khusus anak yatim yang didirikannya pada tahun 2009 tersebut.

Saat ini begitu banyak pejabat pemerintahan di daerah dan di pusat yang terkait kasus korupsi. Ketika media bahkan KPK meng-counter hampir semuanya yakin dirinya tidak bersalah. Yang paling baru dan geger, Andi Malarangeng mundur dari posisi Menpora setelah ditetapkan status tersangka oleh KPK dalam kasus korupsi proyek Hambalang.

Itu semua bukan hal baru lagi di negara ini. Di televisi dan radio hamper setiap hari ada laporan unjuk rasa di depan KPK menuntut pemberantasan kasus korupsi. Baru-baru ini di Morowali warga unjuk rasa karena kawasan cagar alam dijadikan tambang nikel dan itu oleh persetujuan pemerintah daerah. Hal kecil, orang miskin ga bisa hidup sehat karena RS minta kartu ini itu. Kartu ini itu susah diurus karena pegawai kelurahan dan atau kecamatan minta biaya ini itu, yang tentunya memberatkan si miskin. Lama kelamaan masyarakat semakin terbiasa dengan ini. Ada yang terbiasa dangan cara ‘ya udahlah mau apa lagi’. Ada yang jadi ‘ga usah ke kelurahan/kecamatan, pegawainya suka minta ini itu’. Dan bagi banyak orang apalagi orang muda yang sedang belajar mengenal hidup, ini menjadi sebuah system yang sudah selayaknya diikuti.

Dan kaget-kagetlah warga Jakarta ketika Jokowi jadi Gubernur dan Basuki jadi Wakil Gubernur. Ada yang tidak biasa dari kedua orang ini. Pagi-pagi sebelum jam 8 sudah di kantor. Yang satu blusukan kerjaannya dari kampung kumuh satu ke kampung kumuh lainnya. Terus, ga bilang-bilang, kunjungan ke kantor kelurahan  Senen. Jam 9 pagi kantor masih kosong, eh terkunci. Lurah ga ada. Staff lainnya, ya ikut kebiasaan pemimpinlah.  Yang satu lagi tidak takut-takut menemui buruh yang berdemo di depan Balai Kota dan ngobrol kayak teman – mengingat kebanyakan pemimpin di negara ini selalu menghindari ketemu pendemo. Kedua orang ini bukan seperti pemimpin. Tunggu! Tunggu! Memang pemimpin itu harus gimana? Ini jawaban gelembung-gelembung pengingat di kepala saya : yah taulah, duduk di belakang meja terima laporan, tanda tangan setiap  usulan rencana keuangan, ngantor agak telat ga apa-apa kan boss, pakai fasilitas mewah dan berkelas – kan boss.

Nah! Itu bukti kalau Negara ini sudah lama mengalami krisis kepemimpinan. Hingga gaya kepemimpinan seorang pemimpin – meski salah – bisa dianggap suatu kebenaran karena sudah terlalu lama turun temurun seperti itu. Contoh, sudah terlalu lama masyarakat diperdaya pemerintah daerah sebagai pelayan rakyat tetapi tidak berlaku demikian dalam berbagai macam urusan pelayanan publik. Harusnya bikin KTP gratis tetapi oknum tertentu menarik biaya-biaya tambahan. Masih banyak urusan pelayanan public lainnya yang akhirnya ‘diperjualbelikan’ atau disalahgunakan oknum tertentu. Kepala pemerintahan yang tutup mata akan hal ini menjadikan system ini berjalan baik tak tersentuh dan tak bisa dilawan oleh penerima layanan public – saya, Anda.

Jadi apa yang dilakukan Jokowi dan Basuki ini bukanlah hal yang wooow kalau merujuk pada makna kepemimpinan yang sebenarnya. Di Alkitab pemimipin harus mempunya sifat dasar : Bertanggung jawab, Berorientasi pada sasaran, Tegas, Cakap, Bertumbuh, Memberi Teladan, Dapat membangkitkan semangat, Jujur, Setia, Murah hati, Rendah hati, Efisien, Memperhatikan, Mampu berkomunikasi, Dapat mempersatukan, serta Dapat mengajak. Di dalam Islam seorang pemimpin haruslah mempunyai sifat:1. S1DDIQ artinya jujur, benar, berintegritas tinggi dan terjaga dari kesalahan.
2. FATHONAH artinya cerdas, memiliki intelektualitas tinggi dan professional. 3. AMANAH artinya dapat dipercaya, memiliki legitimasi dan akuntabel. 4. TABLIGH artinya senantiasa menyampaikan risalah kebenaran, tidak pernah menyembunyikan apa yang wajib disampaikan, dan komunikatif.

Basuki memimpin rapat dikantornya
Basuki memimpin rapat dikantornya (photo: metro.news.viva.co.id)

Intinya mirip. Seorang pemimpin haruslah bisa dipercaya oleh rakyatnya, itu sebabnya dia dipilih. Namun seorang pemimpin juga harus menjaga kepercayaan itu dengan menjadi teladan. Seorang pemimpin bisa menjadi teladan kalau dia jujur, bertanggungjawab, rendah hati dan semua sifat diatas. Untuk seorang pemimpin agar tetap rendah hati dia harus merakyat dan berempati dengan apa yang dialami rakyatnya agar programnya tepat sasaran. Kalau harus mengurangi anggaran belanja daerah, kenapa tidak. Kalau itu harus dilakukan dengan blusukan ke kampong-kampung dan ngobrol dengan rakyatnya, silahkan. Saya ingat bukan Jokowi yang pertama melakukan itu. Yesus  telah melakukan itu lebih dari 2000 tahun yang lalu. Dia berjalan dari daerah satu ke daerah lainnya bercerita tentang kerajaan Allah kepada orang-orang dan ngobrol dengan mereka. Disela-selanya, dia melakukan banyak mujizat, menyembuhkan orang-orang dengan berbagai penyakit dan semakin banyak orang mengikutinya. Kebanyakan mereka adalah orang miskin. Kenapa? Bukan karena dia kaya. Tapi karena dia ada untuk orang miskin. Dia melayani mereka sepenuh hati.

Jokowi melakukan itu. Dia menjadi jongos rakyatnya. Bukankah Tuhan Yang Maha Esa memilih Musa, Nabi Muhammad dan pemimpin-pemimpin lainnya di sejarah keagamaan untuk melayani umat-Nya? Melayani. Bukan dilayani. Gaya kepemimpinan Jokowi – Basuki ini menjadi wooow dan selalu jadi bahan pembicaraan karena sudah lamaaaaaa sekali ga ada pemimpin kayak begini – yang ideal, yang sebenarnya, yang seharusnya menjadi tradisi turun temurun.

Jadi bergembiralah, Anda sebagai penumpang ga perlu kuatir uang, waktu dan umur berkurang. Karena sopirnya melihat lurus kedepan dan ke kaca spion. Keneknya juga ga suka menahan duit kembalian penumpang. Tapi sebagai penumpang, jangan tidur aja, ingatin juga supir dan keneknya untuk jaga supaya bisa nyetir lebih lama.

 

Kebon Sirih, December 11, 2012

Obama Menang, Saya Senang

Obama sebelum menyampaikan pidato (Photo: AP)

Warga dunia menyambut gembira atas terpilihnya kembali Barack Obama sebagai Presiden AS. Beberapa kepala negara di dunia sudah menyampaikan ucapan selamatnya kepada Obama. Korea Selatan, Israel, Afganistan (meskipun disambut dingin oleh rakyatnya, dan Indonesia. Ucapan selamat ini diikuti embel-embel ‘semoga’ ‘ dan ‘harapan’. Semoga kerjasama dengan AS lebih baik. Semoga hubungan dengan AS semakin kuat, setidaknya dalam 4 tahun ke depan. Korea Selatan berharap AS tetap berkoordinasi mencapai perdamaian dan stabilitas di Semenanjung Korea dan kawasan Timur Laut Asia. Termasuk Indonesia. Presiden SBY telah memberikan ucapan selamat kepada Obama melalui stafnya.

Kalau kemenangan Obama ini dipastikan membawa dampak bagi negara-negara itu, tidak demikian dengan Indonesia. Seperti dikutip dari Kompas.com, Ketua Komisi I DPR Mahfudz Siddiq menilai, terpilihnya kembali Barack Obama sebagai Presiden Amerika Serikat, tak akan membawa dampak bagi Indonesia. Menurutnya, selama empat tahun memimpin Amerika, kebijakan politiknya tak ada yang secara khusus berdampak signifikan untuk Indonesia.  Kebijakan politik luar negeri AS untuk Indonesia masih akan terpengaruh pada kebijakan sebelumnya yang mulai berorientasi ke Asia Timur atau Asia Pasifik. Kebijakan luar negeri seperti ini pun didukung kedua kubu, baik Republik mau pun Demokrat. Artinya, tidak ada yang spesial dari masa pemerintahan Obama yang berdampak penting dan besar buat Indonesia. Selain harga emas yang dipastikan akan naik, which is, itu bukan hanya Indonesia yang merasakannya.

Tapi tunggu dulu. Ga ada dampak penting, tapi kok saya dan beberapa teman tadi senang dengan kemenangan ini. Saya sampai agak terbata-bata karena tercekat tenggorokan menahan haru ketika meng-on air-kan inti pidato kemenangan Obama itu. Produser saya kelihatan berkaca-kaca matanya dan mulutnya tidak berhenti tersenyum (dan mentraktir kami klapeertat… 😛 ). SD 1 Menteng sampai break dulu belajarnya dari jam 9.00 pagi tadi demi nonton bareng proses penghitungan suara selesai sampai diumumkannya Obama menang atas Romney. Kecil kemungkinan ada diantara guru-gurunya sekarang yang pernah menjadi guru Obama dulu, apalagi siswanya – hanya lihat di tivi. Tapi kok euforia itu terasa sekali ya. Senang bukan kepalang para siswa itu, apalagi mereka akan mengirimkan surat berisi ucapan selamat kepada Obama. Juga para fans Obama di salah satu kafe di Jakarta. Bersorak sorai saling merangkul dan bersalaman lebih hangat dan erat dari sebelumnya (ini bayangan saya mendengar laporan reporter Sindo radio tadi). Kata operator kami, lebih heboh dari piala Eropa. Saya setuju.
Mungkin itu saja dulu yang perlu dirasakan di hari H kemenangan ini. Stop for a moment and enjoy the victory. Smile a lot. Dengarkan kembali pidato Obama yang bilang dia ga akan jadi begitu kalau bukan karena Michelle. Mensyukuri semuanya. Soal ga ada dampak penting ke Indonesia, ah…bukan ranah saya untuk mengomentarinya.

Untuk sekarang… Obama menang, saya senang.

 

Sumber:

http://www.kompas.com

http://www.voaindonesia.com

http://www.cnn.com

bahasa Indonesia dan daerah untuk orang tua, bahasa asing untuk anak-anak

Inilah yang terjadi kalau sudah lama tidak menulis. Ada sebongkah ide untuk ditulis tapi ga ada ide untuk memulai menuliskannya, not event a hint.  Beberapa bulan lalu, saat aku mulai ‘menikmati’ keberadaanku di rimba Jakarta ini, ide-ide itu beterbangan menyerang bak lebah diganggu aktivitasnya sedang memproduksi madu dan balik menyerang si pengganggu. Dan saking belum punya waktu menuliskannya, terciptalah sebuah list ‘Ide Tulisan’ di note kecil itu. Nah, setelah sekarang banyak waktu, mati kutu mau mulai dari mana.

Jadi supaya postingan kali ini tidak menjadi sekedar ‘a bunch of crap’, maka saya gelontorin aja pemikiran yang agak cukup memenuhi otakku belakangan ini.

Sesuai judulnya, akhir-akhir ini saya cukup dalam memikirkan tentang bahasa ini.

Kemarin ke Kota Kasablanka. Semua judul counter dan toko didalamnya berbahasa Inggris atau dalam bahasa asing lainnya. Mulai dari Scoop, Kid’s Station, Eat and Eat (padahal mayoritas isinya masakan Indonesia, dan setelah memutari stand2nya, semua makanan Indonesia dijuduli dengan bahasa Indonesia ‘Nasi Gudheg Malioboro’ dll), Movie…something. Yah, masih banyak lainnya. Saya nyelutuk, judul mallnya ‘Kota Kasablanka’ tapi nyaris ga ada isinya yang Indonesia.

Jadi ingat beberapa hari lalu sempat ngobrol dengan mba Retna (produser di kantor) soal bahasa. “Menurut mba, memperkenalkan bahasa Inggris pada anak sejak dini gimana?” Begitu kira-kira pertanyaanku. “Boleh-boleh aja, beberapa kata”, jawab mba Retna. Tau-tau perbincangan kami berlanjut sampai ke bahasa daerah, yang kayaknya hanya diketahui ‘kaum tua-tua’ aja (kalaupun orang muda ada, ya sedikit). Anak-anak, apalagi zaman sekarang, dicekoki bahasa Inggris. Dan sepertinya pada beberapa sekolah mewajibkannya dan orangtua mengaminkannya sebagai sebuah bentuk modernisasi. Anak-anak dalam konteks yang saya bahas adalah balita.

Adalah benar anak pada masa golden age-nya adalah masa paling sempurna untuk dinutrisi dengan berbagai hal sebagai fondasi hidupnya kedepannya. Termasuk bahasa ini. Kalau dari masih orok sudah diajak bicara dalam bahasa Indonesia dan konsisten dan kontinyu, ya akan fasih bahasa Indonesia. Saya dari orok diajak bahasa Batak, ya saya fasih bahasa itu. Yang menjadi pemikiran saya adalah, sepertinya orangtua zaman sekarang sangat kuatir anaknya tertinggal dalam zaman modernisasi termasuk ke-bahasaInggris-an ini, sampai-sampai anak Indonesia banyak yang lebih mengerti bahasa Inggris daripada bahasa Indonesia.

Terus terang saya juga agak bingung. Saya punya anak. Ketika saya titip dia di daycare, hampir sepanjang hari mereka mengajak semua anak berbahasa Inggris. Ketika saya jemput, eh dia sudah tau memperagakan ‘shake hand’. padahal saya belum mengajarkan itu padanya. Saya ingin fokus mengajarkan bahasa Indonesia dulu biar ga amburadul bahasanya – kayak bahasa anak muda sekarang (ini kata Kompas). Tapi ternyata pemikiran saya juga tidak sepenuhnya benar, begitukah?

Kembali ke judul. Karena keadaanya sudah begitu sekarang di Indonesia maka bisa jadi banyak anak muda yang tidak tahu lagi bahasa daerah, bahkan bahasa Indonesianya berantakan tapi bangga sekali dengan bahasa Inggrisnya. Jangan salah mengerti. Saya sangat senang belajar bahasa. Saya sendiri masih ingin  memepelajari bahasa asing lainnya. Tapi bukankah memulai dari akar itu menyegarkan? Akar yang kuat justru akan membuat bangsa ini kuat. Yuk, kita kuasai seluruh bahasa asing di dunia ini – lagi-lagi, kata Julia Gillard, itu modal untuk bisa berpatisipasi aktif dan terus naik dalam dunia yang semakin tidak mengenal batas ini.
Tapi jangan sampai kita lupa akar kita, bahasa Batak, Jawa, Betawi, Sunda, Toraja, Papua dan Indonesia. Kalau kita berbahasa Indonesia dengan baik, bahasa Inggris dan bahasa asing lainnya juga akan gampang dipelajari.

Horas!