Perempuan Yang Hampir Terlupakan

“ Behind every great man, there’s a great woman”

Siapa tokoh perempuan favorit Anda di Alkitab? Ester? Maria ibu Yesus? Ruth? Bila dibandingkan dengan banyaknya laki-laki yang Tuhan panggil sebagai pemimpin, bisa jadi ingatan akan keberadaan perempuan-perempuan yang juga berperan besar dan memang Tuhan pilih untuk mengerjakan pekerjaan-Nya akan semakin kecil. Kalau disuruh menyebutkan pria, pastilah kita tidak perlu berpikir keras. Sebutlah Musa, Yosua, Daniel, Daud, Samuel, Paulus, dan masih banyak lagi. Dan cerita-cerita kepemimpinan mereka sudah dijadikan dongeng pengantar tidur yang dibacakan setiap malam. Belum lagi lagu-lagu yang menggambarkan setiap karakter itu membuat eksistensi mereka semakin melekat.

Tapi lagi-lagi, kalau sudah bicara soal perempuan, jarang sekali keberadaan mereka ini dibahas secara utuh dalam sebuah cerita. Tidak merupakan pemain utama, lebih seperti aktris pendukung tapi tidak dapat Oscar. Padahal cukup banyak perempuan-perempuan hebat dan tangguh di Alkitab, yang kalau Tuhan tidak memilih mereka ini, entah bagaimana jadinya cerita berikutnya. Well, meskipun Tuhan tidak bekerja dengan cara pikir kita ya, tapi lagi-lagi, betapa kerennya pemikiran Tuhan kita, yang pada masa itu feminism belum dikenal, Tuhan sudah memilih perempuan untuk jadi perpanjangan tangannya.

Coba kita bahas perempuan-perempuan berikut ini.

1.Ibu dan kakak Musa serta putri Firaun (Keluaran 2 : 1 – 10 ): Perempuan penyelamat calon pemimpin bangsa Israel di masa depan

Di Keluaran 1 telah digambarkan bagaimana bangsa Israel telah bertambah banyak dan dengan dasyat berlipat ganda sehingga negeri Mesir dipenuhi oleh mereka. Ada seorang raja baru memerintah tanah Mesir dan tidak mengenal Yusuf. Bangsa Israel mulai ditindas dengan kerja paksa. Namun karena bangsa Israel terkenal ‘stubborn’ – keras kepala, makin ditindas makin berkembang dan makin banyak mereka. Orang Mesir lalu berupaya lagi memahitkan hidup mereka dengan pekerjaan yang lebih berat. Raja Mesir juga memerintahkan bidan-bidan Mesir, Sifra dan Pua, untuk membunuh bayi laki-laki Israel yang baru lahir. Tapi karena mereka takut Tuhan, mereka tidak membunuh bayi-bayi laki-laki Israel yang baru lahir (Kel 1 : 15 – 19).

seesaydo.org
seesaydo.org

Sampai kepada peran ibu dan kakak Musa (Kel 2: 1-10). Musa kecil sudah 3 bulan disembunyikan sejak lahir mengingat perintah Firaun yang menyuruh orang Mesir melemparkan setiap bayi laki-laki Israel yang baru lahir ke sungai Nil. Karena kuatir tidak bisa menyembunyikan Musa kecil lebih lama lagi, sang ibu berpikir keras untuk menyelamatkan anaknya. Lihatlah betapa cerdasnya perempuan ini: dia mengambil sebuah peti pandan, dipakalnya dengan gala-gala dan ter. Dia memikirkan segala aspek untuk menyelamatkan putranya, termasuk kelayakan dan kekuatan peti itu agar tidak tembus air dan tidak tenggelam. Lalu dia letakkan Musa kecil ke dalam peti dan dan menaruhnya di tengah-tengah teberau di tepi sungai Nil. Tidak berhenti di situ, sang ibu menyuruh anak perempuannya, kakak Musa, untuk mengawasi peti itu dari jauh, kalau-kalau sesuatu terjadi dengan peti itu. Kalau melihat kecerdasan sang ibu dengan menyembunyikan Musa kecil dan peti, sepertinya memang dia sudah merencanakan ini dengan baik dan penuh ketelitian. Dia sudah memikirkan pilihan terakhirnya untuk menyelamatkan putranya dari kekejian Firaun adalah justru dengan ‘menyelundupkan’ Musa kecil ke bangsa Mesir itu sendiri. Untuk itulah dia sudah mengamati siapa dari pemerintahan Firaun yang bisa menyelamatkan putra kecilnya. Dan dia mendapatkan kunci utamanya, putri Firaun. Pastinya, dia sudah mengamati bagaimana perilaku dan kebiasaan sehari-hari sang putri yang penuh belas kasihan dan murah hati bahkan lokasinya mandi. Dan benarlah ia berbelas kasihan melihat bayi dalam peti itu. Meski putri Firaun sudah menduga bahwa bayi itu pasti bayi orang Ibrani, ia tetap mengambilnya.

Selanjutnya, peran kakak Musa semakin terlihat. Dia yang sudah mengamati dari jauh, mendekati sang putri dan mengusulkan untuk memanggil seorang pengasuh untuk bayi itu. Dibutuhkan keberanian besar untuk mendekati dan trik berkomunikasi level tinggi untuk berbicara seperti itu kepada anggota kerajaan. Apalagi dengan kondisi bangsa Israel tengah ditindas. Keberaniannya membuahkan jawaban luar biasa. Putri Firaun setuju. Maka ibu Musa dipanggil dan diminta oleh putri Firaun menyusui Musa kecil untuknya. Apa yang terjadi berikutnya adalah berkat melimpah dan bonus yang luar biasa. Ibu Musa akhirnya bisa berkumpul lagi dengan Musa kecil dan bisa menyusuinya kembali itu sudah merupakan berkat melimpah di tengah-tengah kondisi mengerikan saat itu, dimana banyak ibu-ibu Israel yang kehilangan bayi-bayi laki-laki mereka. Eh, berkat itu ditambah lagi dengan si putri Firaun yang memberikan upah bagi ibu Musa yang ‘menyusui Musa kecil’ baginya (Kel 2: 9). Ini adalah bonus! Anda, seorang ibu, dibayar pemerintah untuk menyusui bayi Anda!

Bukankah Tuhan kita luar biasa? Tidak bisa dibayangkan akan seperti apa jalan ceritanya kalau Tuhan tidak memilih ibu dan kakak Musa berbuat demikian dan kalau putri Firaun masa bodoh aja dengan bayi dalam peti itu. Dia bisa saja berpikir ‘ini kan bayi orang Ibrani, biarin aja mati, bikin negeri saya makin repot’. Tapi tidak, dia memilih membesarkan bayi itu. Sekali lagi karena Tuhan memilih perempuan-perempuan ini untuk menyelamatkan seorang calon pemimpin bangsa Israel. Dan lihatlah, kehidupan dan kepemimpinan Musa mungkin adalah salah satu yang paling panjang diceritakan, 4 kitab mulai dari kitab Keluaran hingga Ulangan. Di Ulangan 34: 10 -12 disebutkan, setelah Musa meninggal, tidak ada lagi nabi yang bangkit di antara orang Israel dalam segala tanda dan mujizat, yang dilakukannya atas perintah Tuhan di tanah Mesir terhadap Firaun dan semua pegawainya dan seluruh negerinya, dan dalam hal segala perbuatan kekuasaan dan segala kedahsyatan yang besar yang dilakukan Musa di depan seluruh orang Israel. Coba kita perhatikan sekitar kita, mungkinkah ternyata banyak perempuan yang kalau diingat-ingat lagi, tanpa mereka apa jadinya cerita kehidupan kita. Mereka inilah yang Tuhan pilih sebagai aktris pendukung, yang sangat jarang kena spotlight apalagi dapat Oscar, yang keberadaannya justru menghidupkan pemeran utamanya.

2. Perempuan sundal yang menyembunyikan 2 pengintai suruhan Yosua (Yosua 2)

Yosua menyuruh 2 orang pengintai masuk ke kota Yerikho untuk mengetahui bagaimana situasi disana. Mereka sampai di sebuah rumah perempuan sundal bernama Rahab. Pelacur disebut juga sebagai sundal karena perilaku itu begitu buruk dan hina dan menjadi musuh masyarakat. Mereka dianggap melecehkan kesucian agama dan diseret ke pengadilan karena melanggar hukum. Perempuan sundal dianggap kasta paling rendah dan hina. Kenapa kedua orang pengintai ini harus berakhir di rumah perempuan sundal ini? Apa tidak ada yang lain yang lebih layak? Karena kalau dipikir-pikir, perempuan sundal-lah yang selalu membuka hati dan pintu rumahnya untuk orang asing bahkan ditengah malam sekalipun, meskipun alasannya demi uang.

wwwdotjwdotorg
Tuhan memandang dengan kacamata yang berbeda. Siapa saja, bahkan yang paling hina, bisa Dia jadikan ‘asisten-Nya’. Ternyata Rahab adalah perempuan berhati baik dan tidak semuanya melulu karena uang. Bisa saja dia berpikir ‘sudah cukup berat rasanya dengan pekerjaan ini, kalau raja tahu saya menampung musuh negara habislah mata pencaharian saya’ lalu menolak menampung kedua pengintai itu. Tapi tidak, Rahab menyembunyikan mereka di bawah timbunan rami di sotoh (atap) rumahnya. Dari Rahablah kedua pengintai ini mengetahui situasi kota Yerikho, bagaimana penduduk negeri itu telah mendengar kabar bahwa Tuhan memang benar menyertai Musa dan orang Israel sejak dari Mesir dan mereka gemetaran dan tawar hati menghadapi orang Israel karena Allah orang Israel berkuasa atas langit dan bumi: Allah di langit di atas dan dibumi di bawah (Yos 2: 8-11). Informasi dari Rahab ini membuat kepercayaan diri kedua pengintai itu naik dan bercerita pada Yosua bahwa negeri itu sudah diserahkan Tuhan kepada orang Israel.

Ada hal yang menarik dari Rahab. Sebelum kedua pengintai itu pergi, dia meminta semacam balas budi kepada mereka untuk menyelamatkan dirinya dan keluarga super besarnya dari maut yang dalam beberapa hari lagi akan menghabisi negeri itu dan semua isinya (Yos 2: 12-13). Ini menunjukkan apa yang dilakukan seseorang tidak sepenuhnya menunjukkan siapa dirinya. Namun bagaimana ia mempelakukan orang lain itulah yang menunjukkan jati diri seseorang. Pekerjaannya memang hina tapi dia punya hati yang luar biasa baik. Bukan hanya dirinya, Rahab meminta ayah ibunya, saudara laki-laki dan perempuan dan semua orang-orang mereka diselamatkan. Begitulah, kebaikannya berbuah manis. Yosua bahkan menyuruh menyelamatkan semua kaumnya yang sudah berkumpul di rumah Rahab diselamatkan dan memberi mereka tempat tinggal di luar perkemahan orang Israel (Yos 6: 22-23).

Bukan tanpa alasan Tuhan seringkali memilih perempuan untuk jadi ‘a great woman’ dibalik pemimpin besar yang Dia tunjuk. Kalau dihubungkan dengan masa sekarang, dimana dunia sepertinya semakin kejam pada perempuan – pemerkosaan, kekerasan dalam rumah tangga, dan lain-lain – ini adalah saatnya kita menilik kembali bagaimana seharusnya memperlakukan perempuan sebagaimana Tuhan selalu bersikap adil pada perempuan dari sejak Adam dan Hawa diciptakan. Di Kejadian 2 : 18 disebut ‘Tuhan Allah berfirman: Tidak baik kalau manusia itu (Adam) seorang diri saja. Aku akan menjadikan PENOLONG baginya, yang SEPADAN dengan dia.’ Itu dia! Tuhan sendiri yang menjadikan perempuan itu SEPADAN dengan laki-laki. Itu sebabnya Dia membuat perempuan itu selalu punya peran besar di awal-awal kehidupan sampai sekarang. Dengan kemajuan teknologi dan pendidikan, seharusnya kita bisa membangkitkan perempuan-perempuan hebat, bukan sekedar pendukung tetapi pemeran utama, dimulai dari keluarga kita, anak-anak perempuan kita. Perempuan yang bisa membuat keputusan untuk diri sendiri dan duduk setara dengan pria berperan besar, dalam banyak kasus di Indonesia, menarik diri dan keluarganya dari jeratan kemiskinan dan pengaruh ’penyakit-penyakit sosial-ekonomi-budaya’.

Tebet, ditulis beberapa hari sebelum Hari Perempuan Sedunia 8 Maret

Piano dan Stasiun Tebet

Ada yang berbeda dengan stasiun Tebet hari ini. Bukan, bukan perbaikan lantai peron. Satu-satunya perbedaan yang terjadi dari perbaikan ini hanyalah semakin banyaknya debu di stasiun ini sekarang. Apalagi kalau kereta sedang melintas…wuuuusss…berbahagialah mereka dan saya yang selalu sedia masker. Tapi tak mengapa, melihat dari kacamata positif, demi lantai mulus untuk kenyamanan penumpang kedepannya. Amin!

Yang ini beda. Sudah 10 bulan ini saya mondar-mandir siang sore dari dan kembali stasiun Tebet, baru kali ini saya melihatnya, koreksi, mendengarnya. Anda yang sering atau pernah ke stasiun Tebet, pastinya tau peron 1 itu (peron untuk penumpang ke Depok/Bogor) adalah lokasi yang paling banyak PKL-nya, atau kalau disini harusnya sebutannya Pedagang Samping Peron. Makanan/minuman, Koran, pernak-pernik cewek murah meriah, CD/DVD bajakan, sampai peralatan rumah tangga kayak raket nyamuk, obeng, peralatan listrik, dan banyak lainnya. Nah, karena bangsa Indonesia pecinta music, itupun pasti terdengar dimana-mana. Dalam hal ini, si tukang CD/DVD bajakan selalu yang paling getol memperdengarkan musik-musik terbaik (menurut pedagangnya) dari jualannya. Paling getol artinya suara musik sampe memenuhi seluruh stasiun. Mulai dari lagu jadul sampai terbaru. Mulai dangdut sampai pop melayu berlirik alay. Endang S.Taurina masih bersuara merdu sama seperti saya dengar saat SD dulu. Kangen Band, kalah sering diputarnya. Kalau si tante Iis Dahlia memang laris manis. Sering telinga saya yang tersumbat earphone lagi update berita ketutup lantunan si tante ‘slalu dilamun duka karna hati tergoda oleh panah asmara perah ku menderita’.

Nah, hari ini beda. Entah kenapa saya ga berusaha ngejar KRL jurusan ke Jakarta Kota yang sedang merapat ke peron 2 saat saya membeli tiket. Biasanya sempat banget. Tinggal lari, sodorkan 10.000 ke petugas yang koperatif banget, selalu sedia dgn tiket dan kembalian 2000, bahkan gerakannya lebih cepat lagi kalau tau keretanya sudah merapat sambil ikut semangatin ‘cepat mba! cepat mba!’ lalu lari naik tangga dikiiiit dan hop! saya sudah berada di dalam gerbong perempuan.
721710_20130126081320

Tapi kali ini tidak. Tenang saja saya jalan. Memandangi kereta itu berlalu. Setelah mengantongi tiket, saya duduk. Kegiatan calon penumpang menunggu kereta biasanya mirip. Paling banyak sibuk dengan handphone, sebagian dengan earphone di telinga. Kalau berdua atau rombongan yaa rumpiii. Namun sedikit yang membaca koran atau buku. Karena saya sedang jatuh cinta dengan bukunya Agustinus Wibowo ‘Titik Nol’, maka saya putuskan untuk baca buku itu.

Nah, ini dia. Baru saja saya buka batas bacaan saya dan pembaca pengumuman kereta menyelesaikan pengumumannya ‘…berikutnya KRL Commuter lain tujuan Jakarta Kota berangkat stasiun Tanjung Barat. Klik’ terdengarlah suara itu. Bukan, bukan si tante Iis. Suara dentingan piano mengalun lembut. Saya menghentikan bacaan yang bahkan baru mulai, menutupnya mencari sumber suara. Lalu terlihatlah olehku dua toa besar saling membelakangi diatap atas peron 1 depan WC Umum. Sejujurnya saya bukan penggemar piano. Saya lebih suka mendengar gitar. Tapi suara lembut ini ditengah kerasnya stasiun ini berasa sesuatu sekali. Ya, keras. Kemarin ada kecelakaan persis di perlintasan rel stasiun Tebet ini antara KRL ekonomi dan pemotor. Dari fotonya, itu motor udah hancur. Kata si abang tukang bakso, ‘bentar lagi kayaknya mati dia, udah stengah-stengah nafasnya tadi.’

Apakah kepala di stasiun sengaja memutar musik lembut seperti itu untuk mengobati duka kereta dan rel yang menjadi saksi bisu kecelakaan kemarin? Atau, mungkin kepala stasiun lagi belajar piano? Atau mungkin saya aja yang ga pernah selama ini. Apapun itu alasannya, ada perasaan damai mendengar alunan piano itu. Tawa si ibu dan anaknya terdengar renyah disela-sela alunan lembut itu. Seorang bapak diujung sana tertidur lelap. Entah karena capek atau buaian alunan lembut piano. Tiba-tiba suara itu lenyap,’Teng tong teng tong…perhatikan di peron 2 dari selatan KRL commuter line tujuan Jakarta Kota…’dan saya terhenyak dari lamunan diiringi alunan piano. Hampir saja saya tertidur.
images

Bye-bye piano…besok ketemu lagi yaa 😀

Nge-Date Nyookk…

Bagi Anda yang sudah menikah, khususnya yang sudah punya anak, kapan Anda terkahir nge-date alias pergi keluar berdua aja khusus untuk pacaran aja?(Berdua = Anda dan pasangan sah yaa 😀 ) Wah, udah lama bangeet. Pernah sih, tapi lupa kapan. Hmm…ga pernah kayaknya, pasti ada anak. Kalau jawaban Anda bebeti – beda beda tipis dengan itu, berarti Anda ga sendiri. Banyak pasangan yang seperti itu. Begitu sibuknya kerja, senin sampai jumat, subuh sampai larut (ini termasuk pulang pergi, ini Jakarta cyiinn…) jadi waktu luang yang ada, sabtu minggu digunakan untuk bermain dengan anak. Kalau untuk orang Batak, 1 atau bahkan 2 hari tersisa itu sering kali masih disabotase lagi sama pesta, maradat, arisan dan pesta lagi, maradat lagi dan arisan lagi. Ga ada yang salah dengan itu. Sangat normal. Kalau Anda sudah memutuskan punya anak, ya Anda memang harus tanggung jawab penuh. Bukan sekedar memenuhi kebutuhan fisiknya tapi lain-lainnya yang jauh lebih penting. Anda selalu meluangkan waktu untuknya supaya dia tahu bahwa Anda ada untuknya, bermain dan berkomunikasi dengannya supaya Anda tahu milestonenya. Itu adalah contoh bentuk kasih sayang dan perhatian orangtua pada anak yang tak tergantikan dengan materi.

Kembali ke pertanyaan pertama. Kapan?
Dua stengah minggu lalu, pemberi firman bercanda di sela-sela khotbahnya tentang dia dan istrinya yang rutin pacaran, nge-date. Kata dia, itu selalu merefresh kembali hubungannya dengan istrinya secara personal dalam banyak hal.
Saya jadi ingat, di akhir Desember tahun lalu, saya dan suami nge-date untuk pertama kalinya setelah punya anak (itu artinya, setelah 2 tahun 1 bulan…oh my God!), untuk bikin resolusi di tahun baru. Hmm, ga bisa dibilang nge-date ya kalo gini, semi-lah. Salah satu isi resolusi itu adalah nge-date, sekali sebulanlah. Sekali lagi, berdua aja. Tapi, resolusi tinggal resolusi. Ga ada catatan keluar nge-date setelahnya.

Penting ga sih?

Penelitian dan buku-buku bilang banyak hubungan suami istri yang sudah punya anak jadi hambar karena banyak faktor. Usia perkawinan tidak selalu menjadi factor. Toh, banyak baru beberapa bulan, udah cerai. Jam kerja yang tinggi, pulang-pulang udah capek. Pengen istirahat, ga bisa, ada yang antre perhatian, anak dan pasangan. Belum lagi, kita terlalu disibukkan dengan kebutuhan gaul di jejaring sosial – facebook dan kawan-kawannya. Akhirnya semua tuntutan ini ga terpenuhi. Kalau untuk pasangan yang keduanya sangat sibuk, bisa dihitung berapa jam mereka dalam sehari ngobrol langsung, bukan via bbm, whats app, line, dll loh yaa. Apalagi dengan anak. Lama-lama, ga semua yaa, banyak hubungan suami istri yang jadi kayak dua orang teman yang hidup di bawah satu atap. Cinta masih ada, tapi ga in love lagi. The ‘it’ atau ‘x’ factor, kayak di X-Factor talent show itu, udah menguap. Ga ada lagi rasa-rasa yang selalu pengen bikin ketemu dengan pasangan kayak pacaran dulu. No more passion. Hmm…itu terlalu ekstrim. Less passion lah.

Trus, karena tersentak dengan candaan si pengkhotbah, saya ama suami teringat rencana. Iya yaa… Lalu nge-date lah kami satu setengah minggu yang lalu. Inipun tidak bisa dibilang murni cuma pacaran doang. Karena masih ditambah embel-embel ‘sambil benerin laptop’, ‘sambil itu, ini, ono’. Di beberapa jam terakhir baru bisa nikmati nge-date. Ngopi sambil ngobrol, berdua aja. Hanya sedikit jam tapi banyak hal baru yang tereksplor, dibicarakan, didiskusikan, dijelaskan lagi, sampai pada kesepakatan. Saya merasa segar setelahnya. Ada pandangan baru tentang diri saya sendiri, tentang suami, tentang hubungan kami, tentang cara kami membesarkan anak, dll. Saya juga makin akrab dengan Jakarta. Karena lokasi nge-date ini akan berbeda kedepannya. Sambil nge-date sambil mengenal sudut-sudut Jakarta. Jadi, siapa bilang kalau sudah menikah dan punya anak, masa nge-date berakhir? Justru era itu baru saja dimulai dan lebih seru. Karena Anda tidak perlu lagi berpura-pura manis, sopan, menjadi orang lain seperti gaya pacaran masih single dulu… mau ngakak dengan suara cempreng, monggo, ga perlu nutup mulut nahan suara. Anda menjadi diri sendiri. Itu adalah kebebasan.

Soo…nge-date nyoookkk 😀

#tuh kan, ga ada foto kami berdua…next time yaa 🙂

Daftar Lomba Menulis Periode April 2013

hallo tante (mak’ku aritonang)…izin reblog yaaa…mantap informasinya 😉
Selamat berlomba 😀

dearmarintan's blog

Bulan baru, semangat baru! Setelah mengecek arsip blog selama bulan Maret, gue menyadari betapa nggak produktifnya gue. Bayangin, masa sebulan cuma bisa nulis empat postingan doang sih? Oemji, parah banget! >.< Mohon jangan ditiru ya, sodara-sodaraaa~

Supaya makin semangat nulis, gue kembali hadir membuat rangkuman lomba nulis bulanan. Kali ini ada beberapa info lomba menarik yang berhasil gue rangkum untuk kalian. Lomba-lomba nulisnya menantang dan hadiah-hadiahnya menarik! Dari sekian banyak info lomba yang berseliweran, hanya lomba-lomba yang keren aja yang gue muat di sini. Ada lomba apa aja sih buat bulan April? Penasaran yaaa? Hehehe, silakan disimak info lengkapnya berikut ini~

View original post 339 more words

Ayah, Benarkah Yesus Mati Karna Aku?

Langkah cepat gadis kecil itu berubah jadi lari. Nafasnya beradu, rambutnya berkibaran melawan angin, tangannya memegang tali ransel yang bertengger di punggungnya. Sesekali sepatu kets berwarna biru kuning itu membentur kerikil yang agak besar bikin dia hampir terjatuh. Namun dia terus berlari semakin kencang. Airmata mulai membasahi pipinya. Sambil terus berlari dia terisak-isak. Dia merasa bersalah dan dia harus melakukan sesuatu untuk itu.

“Prang!” pagar rumah yang cukup berat untuk seusianya dia dorong sekuat tenaganya dan membentur tembok disampingnya. Dia tercekat dan berhenti. Dia berbalik ke arah pagar dan tembok. “Maaf ya Gar, maafin Utet ya Embok, sakit yaa…nanti Utet obatin ya,” terisak dia mengelus pagar dan tembok yang catnya sudah usang.

“Ayyyyaaaaaaaahhhhh!!!” teriaknya ga tahan lagi. Tangisnya pecah.
Sang ayah, yang baru saja selesai mandi, sedang menikmati secangkir teh dan roti bakar sebelum berangkat ke ibadah Minggu Paskah. Dia kaget sekali seakan jantungnya melompat. Putri sulung dan kesayangannya menangis. Ada yang salah nih. Sang ayah segera bangkit dan setengah berlari menyambut putrinya yang tangisnya semakin kencang lalu menggendongnya. ‘Duuhh, sudah berat sekali kau, nak!’ pikirnya tapi tak mengapa. Tangisan itu keliatan lebih berat.

“Butet kenapa nangis, inang*?” tanyanya lembut sambil menghapus airmata dari pipi Utet.
“Utet bikin salah…hiks…Utet ga mau dia mati…hu..uuu..uuu”
“Hah! Siapa yang mati?! Utet salah apa?!” ayahnya panik. Gadis kecilnya mem…oh noo! Melanjutkannya saja dia ga berani. Ga mungkin!
“Benarkah Yesus mati karena Utet, Yah?”
hhhhhhh…ayahnya lega selega-leganya. Itu tooohh. Tapi ini berat nih.
“Kenapa Utet bilang begitu?”
“Kata Ka’ Dani Yesus mati untuk ngapus dosa manusia…itu kan berarti…hiks…karena Utet…huuu…uuu…” tangisnya meledak lagi.
Si ayah menatap gadis kecilnya terharu. Mendekapnya lebih erat dan merasakan jantung Utet berdetak kencang. Dia baru saja masuk semester kedua di tahun pertama sekolah dasar, bagaimana dia bisa berpikir sampai kesitu. Dan bagaimana pula aku harus menjawabnya, pikirnya.

Yesus mati (foto:paulusdarmawan.blogspot)
Yesus disalibkan

“Hmm…sayaang, kalau ayah minta tolong sama Utet, Utet mau ga?”
“Mau…” masih terisak.
“Kenapa?” ayahnya tersenyum.
“Karena…Utet sayang ayah” tangisnya mulai berkurang.
“Hmmm…ingat ga si Manis, kucing kesayangan ayah?”
“ingat…Utet juga sayang banget ama si Manis”
“Nahh, ingat ga bulan lalu waktu dia kejebak di selokan yang dekat lapangan bola? Selokannya udah kering, si Manis masuk ampe ke dalam. cari apa yaa dia waktu itu?…hmmm…nah, tapi kan selokan itu udah hampir ketutup semua, cuma ada lobang kecil. Ayah coba masuk ga bisa karena lobangnya terlalu kecil untuk badan ayah.”
“Iya…Utet ingat, trus Utet bilang biar Utet aja yang masuk! Kan badan Utet masih kecil” tangisnya berhenti, senyumnya merekah.
“Utet kenapa mau masuk waktu itu?”
“Karena kata ayah kayaknya ekor si Manis kejerat kawat duri, trus Utet liat Ayah sedih. Utet sayang ayah, Utet juga ga mau si Manis kesakitan begitu.”
“Tapi ayah sedih waktu Utet masuk situ, Utet jadi kotor, tangan Utet juga luka kena kawat durinya.”
“Utet gapapa kok yah, yang penting si Manis selamat…kan lukanya juga udah sembuh…nih, tinggal bekasnya doang” dia tunjukin bekas-bekas luka di jemari tangannya.
Si ayah tersenyum, gadis kecilnya memang hebat.
“Utet,apa yang Utet lakuin itu sama seperti Yesus juga. Utet rela luka demi selamatin si Manis dan karena sayang sama Ayah. Yesus juga begitu, Dia tau hanya dia yang bisa selamatin manusia, jadi dia rela mati demi kita. Bapanya juga sedih kok waktu ngirim dia ke dunia, sama kayak ayah sedih dan kuatir waktu kamu masuk lobang itu.”
“Tapi kenapa Yesus harus mati, yah? Kan Dia orangnya baiiikkk banget. Kenapa ga cuma luka-luka aja?”

Ayah berpikir gimana jelasinnya. Dan masih berpikir…
“Mungkin bunda tau jawabannya, nanti kalo bunda pulang kita tanya yaa?”
“hmmm…okee..”
“Tapi ada kabar baiknya kan, Yesus hidup lagi trus lukanya juga sembuh, tinggal bekas doang…sama kayak ini…” dia cium dan pura-pura menggigit jemari Utet. Utet tertawa geli. ‘Ah, senangnya dia sudah tertawa lagi’ batin ayahnya.
“Tapi yah, bekas luka Utet ini bakal ilang ga?”
“hmmm…mungkin saja. Tapi ayah pikir, kalo ga ilang ayah tetap bangga kok sama Utet. Luka itu tanda Utet pernah nyelamatin nyawa orang lain….”
“Kucing yah, bukan orang…”
“hahahahaha…iya yaaa…” sambil dia gelitikin Utet dan mereka tertawa bahagia.
Bahagia Yesus telah mati dan bangkit kembali.

Yesus bangkit (foto: sangsabda.org)
Yesus bangkit (foto: sangsabda.org)

Selamat Paskah
Tebet, ditulis 29 Maret 2013

*Bahasa Batak, inang arti harfiahnya ibu. Namun sering digunakan sebagai panggilan sayang kepada anak perempuan yang masih kecil.

Yesus mati (foto:paulusdarmawan.blogspot)

aku harus sehat, aku bersumpah!

Genap seminggu aku tidak kerja karena penyakit sialan ini. Tapi ntar dulu. Kata ‘sialan’ini harusnya kutekankan dengan nada syukur. Yeah, I know it’s weird. Karena kalo bukan karena penyakit ‘sialan’ini aku tidak akan sampai pada pemikiran ini. Yeap! Manusia memang aneh. Ada bayi dulu yang meninggal baru pelayanan rumah sakit diperbaiki. In my case, menderita sakit ‘sialan’ini dulu baru punya a brand new perspective.

Rabu malam lalu (13 Maret 2013), ceritanya serombongan penyakit ringan sepakat menyerang dan menjatuhkanku. Pilek, batuk, sakit kepala, diikuti demam dan nyeri otot super nyeri. Maka istirahatlah aku dari Kamisnya. Sabtu sore, ketika semua penyakit kecil itu berangsur pulih, penyakit ‘sialan’itu berteriak ‘gw mau elu apain?’ Dan lambung gku perih bukan main. Maag kambuh!

Sebenarnya tidak sepenuhnya kambuh. Karena 2-3 bulan ini belakangan gejalanya selalu mengisi hari-hariku (cieee)…mual, perih, dan segala makanan seperti ga berasa. Tapi Sabtu itu lebih perih dari biasanya. Jadi ke dokterlah aku. Setelah mendengarkan keluhanku dokter sarankan untuk teropong lambung. Dan setelah menimbang-nimbang 5 – 10 tahun kedepan, aku rela.

Aku sudah puasa dari tadi malam jam 23.30. jam 10.30 tadi pagi, dokter masih ada konsultasi dengan pasien lain padahal jadwalku jam 10.00. aku menghilangkan rasa kuatir akan pemeriksaan dengan maen game onet di cellphone. Disampingku suamiku senyum-senyum, sesekali tertawa kecil membaca artikel-artikel oleh anak didik dan tutor di Yabim, Depok. Rambut depannya berdiri bak Tintin, kaki kanan diangkat ke atas kaki kiri dan bundelan artikel itu sepertinya asik-asik aja dipangkuannya. Ga ada beban, ya rambutnya, ya bahunya, ya kakinya apalagi senyumnya. Dan dia sangat jarang sakit. Beda dengan aku yang belakangan ini sepertinya selalu diintai maag dan lainnya.\

Jam 11.15, tiba saatnya diperiksa. Setelah chit-chat sedikit dengna dokter Dharmika, spesialis Gastroendoskopi (kalau ga salah ini judulnya), dimulailah teropong lambung. Aku berbaring miring. Dokter menyemprotkan bius lokal ke mulutku 5 kali. Kebas dan tebal mulai terasa sampai akhirnya susah menelan. Di mulutku dikasih penyangga bibir, bentuknya bulat berlubang untuk memasukkan alatnya ke lambungku. Semacam tali seukuran jari telunjuk berwarna hitam. Diujung ada semacam kamera dan lampu kecil dan di sepanjang tubuhnya/tali itu ada tulisan penunjuk ukurannya dlm cm.

Aku tidak tahu sepanjang apa alat itu masuk ek dalam lambungku. Tapi sangat tidak nyaman. Seperti mengaduk-aduk isi perut tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa. Takut tindakan kecilku – apapu itu- hanya membuatku makin sakit. Hanya menunjukkan ekspresi tidak nyaman lewat mata yang berair dan suara tercekat. Oh, sangat tidak nyaman. Padahal dokter dan suster sudah berlaku sangat lembut. Saat alat itu diputer2 didalam lambung/usus/perut – whatever – seperti liso, aku berjanji ini terkahir kalinya ada barang/alat yang masuk melalui mulutku dan anggota tubuh lainnya. Tidak akan ada lagi. aku harus sehat. Aku tidak suka dengan perasaan tersiksa ketika ‘diaduk-aduk’itu. Aku harus bisa.

Ketika proses penyelesaian administrasi, aku duduk di salah satu kursi di lobi rumah sakit. Sepanjang mata memandang, orang tua. Hampir semua. Jadi inilah yang disebut-sebut di banyak quotes ‘masa muda dihabiskan untuk cari duit, masa tua untuk menghabiskan duit itu berobat’.

Oh, man! Aku tidak mau begitu. Aku ingin di masa tuaku aku tidak merepotkan siapapun karena aku sakit. Aku ingin tetap aktif dan melihat cucuku berkarya, atau berkarya bersama mereka. Dan aku harus mulai sekarang. Aku harus sehat, aku bersumpah.

Tebet, 21 Maret 2013
ditulis sehabis kontemplasi di atap rumah, diiringi kicauan burung dan semilir angin sore

Mencari Rumah Sakit Wakil Tuhan di Bumi

Setiap hari selama seminggu ini rasa sayangku kepada Zano bertambah. Seperti air sungai Ciliwung yang bertambah debitnya karena hujan tidak berhenti dan akhirnya meluap. Rasa tidak ingin kehilangan, rasa bersyukur yang terucapkan dan tak terlukiskan bercampur. Semua karena rasa marah, geregetan dan sedih akan peristiwa yang terjadi selama hampir 3 minggu belakangan khususnya seminggu ini.

Sabtu, 16 Februari 2013, bayi Dera Nur Anggraini (6 hari) meninggal dunia karena lambannya respon rumah sakit. Diduga 10 rumah sakit yang didatangi menolak dengan alasan ruang neonatal intensive care unit (NICU), ruang perawatan bagi bayi baru lahir yang memiliki gangguan kesehatan, sudah penuh. (Sumber: KOMPAS )

Foto : Liputan6.com
Foto : Liputan6.com

Senin, 18 Februari 2013, nyawa Zara Naven (3 bulan) tak tertolong karena keterbatasan biaya. Bocah malang yang mengalami kelainan jantung itu sempat dirawat selama dua bulan di satu rumah sakit Harapan Kita Jakarta. Tapi keterbatasan Jamkesda dari Pemkot Depok membuatnya tak bisa menjalani operasi. (Sumber: LIPUTAN6 )

Rabu malam, 20 Februari 2013, bayi Upik yang baru dilahirkan dinyatakan meninggal oleh bidan Rumah Sakit Bersalin Kartini. Ketika dibawa pulang oleh sang ayah dan akan dimandikan, tukang mandiin jenazah mengatakan bahwa bayi Upik masih bernafas. Haaa???!! Akhirnya Upik dilarikan ke RS Kartini sekitar pukul 20.00 WIB. Di sana tidak ada dokter, hanya ada bidan. Rumah sakit memberikan tindakan dengan memberikan nafas bantuan dengan oksigen. Pada pukul 23.00 WIB, rumah sakit memberitahu kepada Alizuar bahwa alat yang ada tidak memadai sehingga bayi harus dirujuk ke beberapa rumah sakit. Pihak RS mengatakan kalau memang ketemu rumah sakit rujukan harus Down Payment (DP) Rp15 juta. Karena tidak sanggup dengan biaya yang sangat amat mahal, anaknya tidak bisa terselamatkan lagi, dan meninggal pada pukul 23.15 WIB. Pihak rumah sakit lalu memberikan surat keterangan meninggal dengan data yang tidak lengkap dan terkesan asal-asalan, seperti jenis kelamin yang aslinya perempuan tetapi ditulis laki-laki. (Sumber: VIVA )

JUmat lalu, 15 Februari, Mohammed Hareez (4 bulan, Kuantan, Malaysia) mengalami perlakuan kekerasan yang sangat kejam dan brutal dari pembantunya yang berasal dari Indonesia. Hareez diangkat lalu dijatuhkan berkali-kali ke karpet/kasur tipis di lantai tempat dia digantiin baju. Pemandangan yang sangat menyayat-nyayat hati ibu manapun di dunia ini. (Sumber: ASIAONE.COM )

Belum lagi, Fatir Muhammad (1 tahun, Makassar) yang saat ini masih kritis setelah operasi pengambilan peluru yang bersarang di otak kecilnya. (Sumber: VIVA )

Berita-berita itu begitu membuat saya terguncang. Beberapa kali saya harus menahan air mata tidak turun ketika menyiarkan semua itu. Beberapa kali juga saya harus bersikap professional menahan suara supaya kedengaran tidak sedang menahan tenggorokan seperti tercekat karena menahan tangisan pilu itu. Beberapa hari lalu saya rela genjot-genjotan di KRL ekonomi ke Bogor demi cepat sampe rumah (karena itu kereta pertama yang dating) hanya supaya bisa cepat2 peluk anak saya dan main dengannya. Saya bayangkan perempuan-perempuan ini menanggung pilu yang teramat sangat sekarang. Ibu Dera yang belum sempat menyusui Dara (kembaran Dera) yang masih di incubator, akhirnya harus masuk rumah sakit lagi karena stress dengan kejadian ini.

Cinta dan sayang itu melampaui segala hal. Miskin, kaya, pemulung sampai presiden, semuanya akan melakukan segala hal atas nama cinta dan sayang. Namun tidak demikian yang terjadi. Pembuat dan pelaksana kebijakan di Negara ini ternyata tidak cukup cinta dan sayang pada warga negaranya, apalagi yang miskin. Dari dulu sampai sekarang (apalagi) orang tidak mampu/miskin selalu jadi korban kecarutmarutan system di Negara ini. Orang miskin ga bisa dapat pelayanan kesehatan yang layak – yang layak aja dulu, ga usah yg bagus. Orang miskin ga bisa dapat pendidikan yang layak, lagi-lagi. Semua karena DUIT. Jadi UUD 45 Pasal 34 yg bilang Fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh Negara, sudah tinggal tulisan aja sekarang. Usang, lecek.

Mau dimana lagi warga Negara mendapat perlindungan kalo bukan dari pembuat dan pelaku kebijakan ini? Penguasa dipercaya Tuhan untuk jadi wakilnya memerintah umatnya di bumi. Tenaga medis adalah tangan kanan Tuhan untuk membantu manusia. Tapi nyatanya…berita-berita diatas sudah cukup membuktikan sampai dimana dedikasi mereka pada tugas yang diembankan kepundaknya. NULL.

Okee, Jokowi dan PA akhirnya memperjuangkan. Kemenkes akhirnya investigasi. Setelah ada korban dulu. Mungkinkah kita berubah? Kita adalah bangsa yang cerdas. SEharusnya bisa menciptakan system yang cerdas pula. Bagaimana kita akan menciptakan dunia yang lebih baik bagi generasi penerus – balita-balita, bayi-bayi yang baru saja lahir, sedang dikandung – kalo system yang sekarang saja tidak pernah bisa menjawab kebutuhan masyarakat?

 

Tebet